Minggu, 22 Juli 2018

Puasa, Ujian Kejujuran (Sisa Catatan Ramadhan 1439)

KARENA puasa bersifat sangat pribadi, maka puasa memang hanya antara kita (yang berpuasa) dengan Allah sajalah yang akan saling tahu. Jelasnya apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak pada suatu siang itu, hanya kita dan Sang Maha Tahu itulah yang saling tahu. Selainnya mungkin tak tahu karena bisa saja tertipu.

Dengan keadaan seperti itu, maka tingkat dan kualitas kejujuran akan diuji betul di sini. Sejatinya orang berpuasa adalah orang yang jujur. Tidak ada puasa bagi orang yang tidak memelihara kejujuran dirinya. Bagaimana seseorang akan mampu berpuasa jika dia tidak jujur menyatakan bahwa dia benar-benar berpuasa atau tidak.

Bayangkan, orang puasa adalah orang yang tak boleh makan dan minum dan yang sejenis yang dapat membatalkan puasa tapi orang berkesempatan untuk makan dan minum karena bisa dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Tidak mudah itu karena kecenderungan ingin makan selalu ada ketika perut sedang lapar atau kita lagi haus. Jadi, intinya orang berpuasa itu adalah orang yang tidak akan makan, tidak minum dan tidak pula melakukan tindakan lain (hubungan suami-isteri, menginjeksi diri pada batas yang dilarang, dll) yang dapat membatalkan puasa sesuai ketentuan fiqih.

Makan dan minum yang akan mengatasi rasa lapar dan haus, terkadang tidak mudah menahannya ketika berpuasa. Dan jika tidak mampu menahannya, mungkin saja seseorang yang sedang berpuasa akan memakan dan atau meminum sesuatu yang meringankan rasa lapar atau hausnya. Dan itu dapat dilakukan di tempat-tempat yang orang lain tidak tahu. Bersembunyi.

Ketika seseorang makan dan minum di tempat yang tersembunyi (rahasia) maka otomatis orang lain tidak akan tahu bahwa orang itu sudah membatalkan puasanya atau belum. Sudah pasti tidak akan mudah mengetahui perbedaan orang yang baru saja makan atau minum dengan orang yang sebaliknya. Dari wajah dan gaya kesehariannya bisa saja sama antara dia berpuasa dengan ketika puasanya sudah dibatalkan.

Itulah maksudnya, betapa rahasianya puasa di mata orang lain selain Allah. Hanya Allah saja yang tahu bahwa kita benar-benar berpuasa atau tidak pada hari itu. Sementara orang lain --adik-kakak, isteri-suami, ayah-emak, atau siapa saja-- tidak akan tahu apa yang sesungguhnya kita lakukan. Maka akan terujilah kejujuran sejati dalam diri orang yang berpuasa itu. Bukan hanya di puasa Ramadhan, tentu. Pada puasa hari-hari ini (Senin-Kamis, dll) kita juga dapat menguji tingkat kejujuran kita.

Dalam puasa juga ada kecendrungan untuk lebih banyak berbuat baik (ibadah) berbanding di luar puasa. Ini dapat diamati di setiap bulan Ramadhan. Para jamaah masjid atau musolla cenderung lebih ramai berbanding di luar bulan puasa. Aneka jenis ibadahnya juga sangat bervariasi berbanding di luar Ramadhan. Maka jika ingin memperbanyak ibadah, dapat diwali dengan memperbanyak puasa. Puasa apa saja. Bukan hanya di  Ramadhan.

Jadi, sesungguhnya puasa dapat membimbing kita untuk senantiasa suka beribadah. Selebihnya juga kita akan terbimbing untuk senantiasa berbuat baik dengan jujur serta ikhlas. Kejujuran dan keikhlasan tentu saja sangat berguna dalam melaksanakan tugas-tugas sehari-hari kita. apapaun profesi kita saat ini, akan sangat diperlukan kekikhlasan dan kejujuran dalam mengimplementasikannya. Selamat berpuasa. Yuk, kita berpuasa.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan