Minggu, 05 Agustus 2018

Haji Untuk Kedua Kali

KURANG lebih sebelas tahun lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di Tanah Suci, Mekkah dan Madinah. Saat itu, pertama kali saya dan isteri --Rajimawati-- menunaikan rukun Islam kelima. Bersama Jamaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Karimun dan Kabupaten lain yang tergabung kedalam Keloter (Kelompok Terbang) 4 (empat) Gelombang Pertama kami terbang dari Embarkasi Batam menuju Madinah langsung. Itu musim haji 1427, tahun 2006/2007.


Pada musim haji 1439 (2018) ini, insyaallah saya akan kembali menginjakkan kaki di Tanah Suci. Bersama isteri (baru) --Siti Nurbaya-- ini, yang memang belum menunaikan kewajiban muslimah, rukun Islam kelima saya akan berangkat bersama JCH Kabupaten Karimun plus --sebagian-- JCH Batam dan Bintan yang tergabung dalam keloter 19 akan terbang langsung ke Jeddah, Mekkah. Sebanyak 201 orang (JCH Kabupaten Karimun) yang bergabung dalam 450 orang JCH lainnya dari Bintan dan Batam akan berangkat pada 7 Agus tus 2018 ke Mekkah langsung karena ini adalah gelombang kedua. Dari Karimun kami akan berangkat pada hari Senin, 6 Agustus 2018.

Di luar rasa haru dan gembira karena kembali dapat berangkat haji, saya begitu merasakan perasaan yang berbeda. Jika pada keberangkatan pertama saya ikut berhaji dengan status sebagai pengganti JCH yang tidak jadi berangkat dengan alasan-alasan tertentu maka keberangakatan kali ini benar-benar karena porsi nama saya dan isteri memang sudah keluar sejak awal. Pada haji pertama, waktu itu, saya dan isteri saya ditelpon oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Karimun, Pak H. Afrizal untuk mengisi jatah kekurangan. Dia bertanya, apakah kami bisa melunasi sisa utang biaya haji kami? Dan setelah berhitung dan bersepakat, kami melunasi utang sisa biaya haji, waktu itu. 

Jadi, saya dan isteri serta beberapa orang lainnya dalam rombongan itu adalah JCH yang diapnggil belakangan. Manasik haji resmi pun sudah akan berakhir, ketika kami ditawarkan melunasi. Persiapan keberangkatan haji Kabupaten Karimun memang sudah mendekati akhir, sementara kami baru diberi informasi. Maka kami pun sepakat membuat manasik sendiri di rumah-rumah pribadi.

Perasaan lain, selain status kami yang merupakan JCH pengganti, pada musim haji kali ini saya juga mendapat tugas mulia dan berat, yaitu sebagai Ketua Rombongan (Karom) salah satu rombongan dari empat rombongan JCH Kabupaten Karimun. Dulu, haji pertama itu saya hanya sebagai jamaah lepas tanpa tugas dan kami pun waktu itu dapat melaksanakan 'haji mandiri' yang selalu dipesankan ketika mengikuti manasik haji.

Catatan lain yang nanti juga akan kami rasakan pada musim haji tahun ini adalah bertepatannya pelaksanaan haji dengan hari kemerdekaan, HUT RI (Hari Ulang Tahun Republik Indonesia) ke-73 tahun, 2018 ini. Kami berangkat pada 7 Agustus, insyaallah wukuf --diperkirakan-- pada 22 Agustus dan akan kembali ke Tanah Air pada 17-an September 2018 nanti, itu berarti puncak hari kemerdekaan itu, kami tengah berada di Tanah Suci. Sungguh akan ada kesan khusus yang akan kami (jamaah haji Indonesia) rasakan selama kami berasda di Tanah Suci.

Haji untuk kedua kali ini, sungguh banyak perasaan yang akan memenuhi relung-relung perasaan kami dan akan banyak juga catatan yang akan dibuat nanti. Satu hal, saat-saat akan berangkat ini, kami JCH Karimun khususnya, JCH Indonesia pada umumnya berharap doa dari siapa saja untuk keselamatan keberangkatan kami, keselamatan pelaksanaan ibadah kami dan keselamatan untuk kepulangan kami. Semoga Allah ijabah doa kami, doa kita untuk keselamatan ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan