Sabtu, 14 Juli 2018

Jika Berpikir, Berbuatlah


TENTUNYA tidak cukup berpikir saja. Jika berpikir, berbuatlah. Jika sekadar terpikir, misalnya ada di sekitar kita orang yang kesulitan ekonomi dan sebaiknya dibantu, itu tidak cukup karena baru sekadar terpikir. Terpikir ingin membantu, sebenarnya itu baik. Tapi jika tidak dilaksanakan, itu yang tidak baik. Jadi, yang penting bagaimana melaksanakan pemikiran itu. 

Misalnya, terpikir ingin membantu masyarakat karena melihat masyarakatnya masih terbelakang di bidang pendidikan. Misalnya lagi, ada yang tidak atau belum sekolah kaena berbagai faktor penyebabnya. Terpikir saja? Itu belum cukup. Lalu, misalnya, terpikir ingin membantu masyarakat karena faktor ekonomi yang menyedihkan, makan-minum yang tidak pasti. Tapi hanya terpikir saja ingin membantu, itu juga tidak cukup. Yang membuat tidak cukup itu adalah jika tidak diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Terus bagaimana? Wajib bagi kita untuk menindaklanjuti pemikiran itu. Sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing kita untuk berbuat maka berbuatlah. Jika mampu memberi tahu tentang ilmu, keterampilan atau hal-hal berkaitan dengan pencerahan hidup, ya kita harus lakukan. Jika tidak bisa menjadi guru (resmi) di sekolah, kita bisa menjadi guru privat atau untuk satu-dua atau beberapa orang saja sebagai anak-didik kita. Tempat pemberian pencerahannya juga bisa di rumah atau dimana saja.
Jika kita berkemampuan membantu meningkatkan ekonomi masyarakat, atau sekurang-kurangnya memberikan bantuan ala kadarnya berupa uang atau barang yang dibutuhkan, ya kita bantu sesuai dengan kemampuan kita itu. Meskipun hanya terbantu untuk satu kali makan saja, itu juga sudah bagus dan sudah kita buktikan bahwa kita melaksanakan pemikiran kita. Tidak sekadar memikirkannya saja.

Harus diakui, terkadang ada diantara sebagaian kita yang begitu sibuk memikirkan dengan menyebut-nyebut banyaknya permaslahan di masyarakat, tapi hanya sebatas memikirkan dan mengatakannya saja. Tidak melakukan apa-apa atas permasalahan itu. Ini tidak baik. Selain tidak membantu menyelesaikan permasalahan yang ada, justeru malah mendatangkan permsalahan lain pula.

Di tahun politik (2018 sudah Pilkada serentak, 2019 akan ada Pemilu serentak) pasti akan banyak muncul orang-orang yang mengatakan berpikir tentang permasalahan rakyat. Ada yang sampai mendata dan mencatat berbagai permasalahan itu. Selanjutnya, dikatakanlah bahwa semua permsalahan itu nanti akan dibantu mengatasinya. Tapi tidak gratis, tentu. Ada iming-iming dan persyaratan lain untuk penyelesaian masalah tersebut.

Inilah yang dikatakan janji. Banyak yang akan berjanji untuk memberi solusi, asal mereka dipilih. Maksudnya dipilih dalam Pilkada atau Pemilu itu. Jnaji-janji ini yang dijadikan pengikat pemilih untuk memilih sesuai keinginannya.

Apakah rakyat akan memilih sebagai janji-janji? Berdasarkan catatan dan data-data yang ada, sebagian besar msyarakat awam ternyata terpengaruh sekali dengan janji-janji yang pada hakikatnya masih berstatus sekadar 'terpikir' saja. Dan sedihnya malah kelak janji-janji itu banyak yang akhirnya tidak dipenuhi setelah si pemberi janji sudah duduk di kursi yang diingini. 'Janji tinggal janji' itulah yang banyak terjadi.

Oleh karena itu masyarakat haruslah hati-hati dalam memutuskan memilih atau tidak memilih seperti janji-janji itu. Si pemberi janji juga janganlah terus-menerus hanya berjanji. Janganlah sekadar terpikirkan saja, tapi tidak melakukan. Jika berpikir, maka berbuatlah. Itulah jargon yang benar.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan