Selasa, 29 Mei 2018

Catatan Ramadhan (Kecelakaan Penambah Ketabahan)

WALAUPUN tak berkaitan langsung dengan aktivitas Ramadhan, tapi kejadiannya dalam bulan Ramadhan. Persisnya, Ahad (27/05/18 = 12 Ramadhan 1439) siang, sekitar pukul satu, bakda zuhur itu. Siang itu, sesuai janji, saya mau ke Ruko Koperasi 212 Mart Karimun yang berlokasi di Baran I, Meral. Ada rencana rapat pengurus di sana. Lima menit dari rumah (Wonosari), persisnya di pertigaan antara Wonosari arah Gg Awang Nur, terjadilah kecelakaan itu.

Harus saya akui, saya sedikit berkendaraan agak laju mengingat waktu. Sekitar 40-an begitu kecepatannya. Kecepatan standar, sebenarnya. Keadaan jalan memang sedikit licin selepas hujan. Tiba-tiba di simpang itu, Tapi mendadak sebuah motor yang dikendarai seorang anak prempuan (seumuran SD atau SMP, saya kira) muncul dari balik simpang itu. Saya refleks banting stang ke kiri, menghindari tabrakan dengan gadis kecil itu. Padahal saya mau lurus ke arah Gg. Awang Nur. Maka kendali stang vespa saya tak lagi stabil menyebabkan kendaraan tidak lagi seimbang. Lalu saya jatuh bersama scutter tua saya. Gadis itu, alhamdulillah tidak jadi tertabrak.

Sejenak saya berdiri setelah tersungkur di aspal, saya lihat kaki saya mengucurkan darah cukup banyak. Saya lihat juga daging bagian bawah kaki saya koyak (terkopek) agak dalam. Tapi pikiran saya masih lurus. Orang-orang pun berkumpul. Ada yang menyuruh saya duduk saja, ada pula yang langsung ingin mengantarkan saya ke rumah sakit. Saya mencoba tenang karena rasanya saya tidak merasa pusing atau apa. Seorang lelaki mengambil entah daun apa, lalu mengunyahnya dan menempelkan ke lobang kaki saya yang luka. "Tahan sedikit pedih, Pak." Begitu dia meminta ke saya. Saya diam saja. Katanya untuk menghentikan darahnya yang tetap mengalir keluar.

Beberapa menit berikutnya saya memutuskan harus ke Rumah Sakit setelah yakin saya tidak pusing. Lalu saya meminta antarkan ke RSUD Muhammad Sani. Saya harus ke UGD untuk minta perawatan segera, kata saya dalam hati. Seorang lelaki yang kebetulan lewat saat itu, saya minta bantuannya. Dia bersedia dan dengan motornya saya dibonceng ke RSUD Muhammad Sani, di Poros sana. Sesampainya, saya langsung ditangani. Kebetulan beberapa perawat di UGD adalah murid saya dulunya, dan saya menjadi bertambah tenang dengan itu.
Ternyata harus 10 jahitan

Setelah dibersihkan, dijahit setelah sebelumnya dibius, saya merasa tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan. Sampai detik saya di UGD itu, saya sengaja belum memberi tahu kepada keluarga. Saya sengaja tidak menelpon isteri, khawatir dia terlalu khawatir. Rasa sakit ketika dibius memang tidak lagi membuat rasa sakit ketika dijahit. Dan setelah diverban lalu diikat rapi dengan kain mengandung bahan karet agar jahitannya aman, saya pun dibolehkan pulang. Saya menelpon anak saya, Ery minta dijemput.

Jika kecelakaan itu adalah takdir, tentu saja saya akan menerimanya. Tapi dalam kejadian itu ada sesuatu yang layak dipetik hikmahnya, itulah yang mungkin lebih penting. Ada banyak andaian yang dapat membuat saya bersyukur di satu sisi tapi juga menyesal di sisi lain.

Tentang kecelakaan yang tidak jadi melibatkan motor lain (karena sebenarnya tersebab kendaraan gadis kecil itulah saya harus membanting setang dan jatuh) itu, misalnya; tentang saya tidak mengenakan helm (helmnya ada tapi disangkutkan saja di vespa) dan yang luka hanya bagian kaki, bukan kepala; tentang ramainya yang membantu saya (dari lokasi kecelakaan hingga ke rumah sakit) dan beberapa kemudahan dan keberuntungan lainnya, itu tentu saja saya harus bersyukur.

Tapi tentang luka yang cukup parah (dijahit hingga sepuluh ikatan); tentang tidak jadi ikut rapat; tentang scutter saya yang ternyata sangat parah rusaknya; tentang saya akhirnya tidak bisa beraktivitas sebagaimana bisanya, dst...dst...itu tentu saja membuat saja menyesal. Saya merasa ini sebuah kesalahan saya yang akhirnya berakibat seperti itu.

Satu hal yang harus saya renungkan adalah tentang kesabaran dan ketabahan. Inilah salah satu yang pantas untuk dijadikan penenang kejadian ini. Dengan tabah dan sabar akan mengantarkan saya sebagai korban ke tahap tawakkal. Seceroboh apapun saya berbuat dalam kejadian ini, akhirnya saya memang harus sabar dan tabah menerimanya. Sikap itulah yang akan membuat ketenangan pikiran dan perasaan. Sambil menerima dan melakukan perawatannya, kesabaran wajiblah menjadi landasan. Penyesalan adalah bagian penting, tentunya. Tidak juga berlebihan, ini adalah bagian dari catatan Ramadhan yang juga ada hikmahnya. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan