Sabtu, 20 Desember 2014

PTK itu Menguji Kejujuran

SETELAH dua hari, Kamis-Jumat (18-19/ 12) mengikuti Diklat Pembekalan Penelitian Tindakan Kelas yang diselenggarakan oleh LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Kepri, banyak pengetahuan dan banyak pula pengalaman yang didapatkan. Dua puluh orang peserta yang serius selama dua hari itu, merasakan betapa pentingnya pelatihan ini.

Selain mempelajari dan mempraktikkan bagaimana menyusun laporan PTK sesungguhnya pelatihan ini sekaligus mengulangcerahkan cara pandang dan cara tindak para guru dalam mengemban tugas dan tranggung jawab. Sesungguhnya perinsip utama dalam penyusunan PTK adalah kejujuran. Seperti tuntutan kepada guru dalam melaksanakan tugas, selain semangat dan motivasi juga integritas dan kejujuran. Begitu kurang lebih diingatkan narasumber dalam pelatihan ini.

Lebih jauh menurut  para nara sumber bahwa kejujuran ini pulalah yang menajdi penekanan penting dalam merancang dan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Setiap menjelaskan berbagai teori  setiap itu pula persoalan kejujuran diingatkan oleh nara sumber. Mengapa demikian?

Karena ternyata masih terdengar sinyalemen kalau sebagian guru --mungkin sebagian kecil atau sebagian besar-- yang tidak atau belum jujur dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Dalam memberi nilai misalnya, masih terdengar sekadar memberi nilai saja tanpa menggambarkan kompeten yang sebenarnya. Konon masih ada, tanpa diperiksa lembaran ujiannya, tiba-tiba muncul nilainya. Nilai rendah malah dinaikkan begitu saja. Dengan alasan menolong siswa, guru memberi nilai tinggi meskipun itu bukan cerminan kemampuannya.

Sesungguhnya, jika target nilai tinggi yang dinginkan tentu saja caranya bukan dengan mengubah atau merekayasa nilai siswa. Seharusnya kepada setiap siswa yang belum kompeten, jalannya adalah dengan mengulang kembali pembelajaran atau pemberian materi dalam satu kegiatan remedial. Bukan dengan serta-merta mengubah nilainya sesuai keinginan. Padahal perinsip pemberian nilai itu adalah faktual dan otentik.

Reekasaya nilai seperti itu memang tidak selalu sepenuhnya karena guru saja. Malah terdengar juga atas perintah Kepala Sekolah yang menginginkan seolah-olah siswanya baik-baik saja. Keinginan untuk menghasilkan nilai yang baik bukan saja keinginan Kepala Sekolah tapi juga keinginan semua pemangku kepentingan pendidikan itu sendiri: orang tua dan masyarakat. Namun cara memperolehnya bukan dengan rekayasa.

Mengubah sikap inilah yang menurut nara sumber pelatihan PTK perlu menjadi perhatian. Dalam melaksanakan penelitian dan laporan PTK tentu saja akan sangat berbahaya jika tidak didasarkan perinsip kejujuran. Tujuan PTK salah satunya adalah untuk menemukan kekurangan dan kelemahan seorang guru dalam mengelola pembelajaran. Dari pengakuan kelemahan itu pula guru akan mencarikan solusi dalam bentukan tindakan.

Jika kebohongan-kebohongan seperti itu tetap dupertahankan dalam keseharian guru, bagaimana seorang guru akan mampu membuat laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu? Saya pikir pesan dari nara sumber perihal perlunya kejujuran dalam melaksanakan PTK adalah pesan pokok dari semua materi yang disampaikan. Hanya PTK yang laksanakan dengan perinsip kejujuranlah yang akan melahirkan PTK yang bermutu. Semoga!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan