Selasa, 11 Desember 2012

Ujian Semester Juga Ujian Karakter

LAZIMNYA ujian semester semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai dalam semester yang bersangkutan. Nilai-nilai itu akan dilihat di dalam lembaran buku rapor yang dibagikan di akhir semester. Apapun caranya dan berapapun nilai itu, harapannya adalah mendapatkan nilai terbaik. Itulah sikap umum para peserta didik di sekolah-sekolah dalam mengikuti ujian semester. Tidak terkecuali para peserta didik yang sejak hari Senin (10/12) mengikuti ujian semester ganjil Tahun Pelajaran (TP) 2012/2013 di sekolah masing-masing.

 Ujian semester ganjil memang tengah berlangsung dari tanggal 10 hingga 15 Desember ini, dari SD hingga SLTA, paling tidak di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Hari Senin semalam adalah hari pertama ujian semester ganjil TP 2012/ 2013 itu dilaksanakan sedangkan Sabtu nanti adalah hari terakhirnya. Selepas itu mereka akan menerima laporan pendidikan, hasil pembelajaran selama enam bulan ini.

Jika ujian semester oleh peserta didik hanya diartikan sebagai cara mendapatkan nilai rapor yang akan menentukan keberhasilan peserta didik (naik/ lulus) saja, ditambah cara mendapatkan nilai dengan tidak jujur, tentu saja ini merisaukan kita. Betapa berbahayanya pandangan dan sikap seperti itu. Peserta didik hanya terobsesi sekedar mengejar nilai. Apalagi jika nilai yang diperoleh ternyata didapatkan dengan trik-trik tidak terpuji seumpama mencontek pekerjaan teman, misalnya sungguh itu tidak boleh dibiarkan.

Sejatinya ujian semester diselenggarakan disamping untuk mengukur kemampuan (daya serap) akademis juga untuk mengukur dan menguji kemampuan melakasnakan pendidikan karakter. Dari belasan nilai-nilai karakter bangsa yang dikembangkan Pemerintah untuk dilaksanakan sekolah, tentu saja nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab paling diutamakan dalam pelaksanaan ujian. Sikap jujur dan bertanggung jawab yang akan menjadi modal peserta didik dalam kelanjutan kehidupannya, mestinya tercermin dalam mengikuti dan melaksanakan ujian semester ini.

Tentu saja ide ini akan sangat tergantung kepada pengelola dan penanggung jawab pendidikan di sekolah. Kepala Sekolah bersama jajarannya, adalah penentu utama terlaksana atau tidak terlaksananya pendidikan karakter selama ujian. Teknis sederhananya adalah bagaimana pelaksanaan ujian itu berlangsung dengan baik dan benar. Di ruang ujian, adalah pengawas ruang yang akan menjadi garda penentunya. Apakah pengawas mampu menerapkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab kepada peserta ujian selama dalam kepengawasannya? Atau pengawas tidak melaksanakan fungsi pengawasannya, sehingga terjadi berbagai kecurangan dalam ruang ujian? Di sinilah peran pengawas ujian.

Satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah sikap sekolah secara keseluruhan dalam keseharian berkaitan dengan penerapan pendidikan karakter itu sendiri terutama di lingkungan sekolah. Bagaimana warga sekolah selama ini menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan keseharian sekolah? Jika warga sekolah sudah terbiasa melaksanakan nilai-nilai karakter bangsa itu sehari-hari maka dalam ujian yang dilaksanakan secara periodik ini tetap juga akan tercermin. Peran guru (pengawas) adalah untuk memastikan bahwa nilai-nilai karakter memang dilaksanakan dalam pelaksanaan ujian semester ini. Jangan lagi ujian hanya sekedar mengejar nilai kognitif yang diukur dengan angka-angka belaka. Ujian semester sejatinya sebagai ujian penerapan nilai-nilai karkater juga.***
Artikel yang sama di:  http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/11/ujian-semester-mestinya-untuk-ujian-karakter-509909.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman