Minggu, 11 Desember 2011

Tiga Tahun Emas SBY




MEMBACA  ulang sejarah, presiden Indonesia sejak awal merdeka hingga hari ini sudah sama-sama kita ketahui seperti apa dan apa yang mereka goreskan dalam lembaran sejarah untuk negara sebesar Indonesia yang mereka pimpin. Soekarno, sang proklamator --presiden pertama-- tak ada yang tak 'sangat mengaguminya' bahkan mengidolakannya sekaligus malah mengultuskannya. Sudah tahu pula kita bagaimana jasa dan pengorbanannya demi Indonesia awal merdeka yang dia terajui.

Soeharto, presiden ke-2 yang top dengan konsep pembangunan ‘repelita’ dan sempat berkuasa begitu lama juga, pun sudah sama-sama kita maklumi seperti apa dan apa yang dilakukannya selama berkuasa. Sebanyak rakyat yang menyanjungnya tapi tidak kurang juga yang menghujatnya.

‘Habibie, Gusdur dan Megawati pun sudah sama-sama dimaklumi kiprah mereka masing-masing ketika berkuasa. Tidak mudah menyebut yang satu lebih baik atau lebih jelek dari pada yang lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai manusia apalagi sebagai Kepala Negara pastilah mereka itu tidak akan sempurna. Mereka memang bukan superman.

Satu hal yang tak perlu dibantah adalah bahwa semua mereka sudah berusaha --setidaknya menurut pengakuan mereka-- bahwa mereka telah menunaikan tugas dan kewajiban mereka. Mereka pasti mengakui ke rakyat bahwa mereka sudah maksimal melakukan tanggung jawabnya. Tapi sudahkah berhasil seperti yang kita harapkan?

Mungkin terlalu gampang kalau kita menyebut semua presiden kita belum juga mampu mewujudkan cita-cita proklamasi yang intinya sudah tertuang dalam pembukaan UUD 45, ....melindungi segenap bangsa Indoneia dan seluruh tumpah darah Indonesia... memajukan kesejahteraan umum....dst sebagai harapan utama dari seluruh rakyat yang mereka pimpin. Untuk yang ini kita sepakat memang belum tercapai sampai detik ini sesuai harapan.

Soekarno mengakhiri kekuasaannya dengan catatan yang gelap. Itu yang terbaca dalam catatan sejarah. Soeharto naik menggantikannya tidak juga melalui cara-cara demokrasi yang diharapkan. Soeharto mengakhiri kuasa powernya tidak juga mulus-mulus amat. Dia dipaksa mahasiswa untuk berhenti berkuasa padahal dia belum ikhlas untuk itu.

Habibie, Gusdur dan Megawati memang sudah terasa nuansa demokrasi dalam mendapatkan kuasanya. Tapi persoalan pokok dari fungsi dan tanggung jawab sang presiden, sekali lagi adalah harapan kita sebagai rakyat, kiranya negara ini mampu mewujudkan keinginan rakyat untuk hidup sejahtera. Negara inibermartabat di mata negara dunia lain. Itu saja harapan kita sesungguhnya. Sampailah saat ini kita berada di era SBY. Akankah itu terwujud?

SBY yang sudah berkuasa secara demokrasi dalam dua periode dan masih tersisa tiga tahun menjelang 2014 nanti, kalau boleh berharap inilah kesempatan emas yang tersisa buat presiden ini mewujudkan harapan-harapan rakyat selama ini. Dan apakah resufle kabinet yang dilakukan medio Oktober lalu adalah dalam rangka usaha mewujudkan harapan tersebut? Hanya SBY yang tahu dan hanya waktu jua yang akan menyimpulkannya nanti.

Kalau saja, SBY dengan segala kuasa yang dimandatkan kepadanya dipaksakannya untuk sebesar-besar kepentingan rakyat, maka kesempatan emas ini akan benar-benar menjadi 'hasil emas' kelak. Kalau misalnya kebobrokan yang mendesak saat ini adalah membasmi korupsi maka basmilah itu secara jantan tanpa pandang bulu. Kalau saat ini kebobrokan juga terletak pada penerapan hukum yang amburadul oleh polisi, jaksa dan hakim, maka benahilah itu secara konsisten dan objektif. Tapi jika kesempatan tersisa ini tidak juga dimanfaatkan maka entah kapan lagi kita bisa merasakan cita-cita proklamasi itu hadir di tengah-tengah masyarakat. Ah apakah ini tetap akan sekedar mimpi? (revisi dari judul yang sama pada   http://www.kompasiana.com/mrasyidnur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman