Sabtu, 01 Desember 2018

Membentuk diri untuk Membentuk Orang (Monolog Guru)


AKU guru. Tapi aku bukan PNS. Hanya ada beberapa yang aku tahu. Tapi itulah yang aku beritahu. Tidak harus menunggu. Menunggu banyak? Menunggu PNS? Menunggu disuruh dan disanjung? Ah, tidak begitu. Aku adalah guru.

Ketika mendengar istilah guru yang terbayang adalah sosok yang harus digugu dan ditiru. Kosa kata guru bahkan dipahami sebagai singkatan gugu dan tiru, yang digugu dan yang ditiru. Yang digugu artinya yang dipercaya, yang diikuti dan yang diindahkan bicara dan arahannya. Sedangkan yang ditiru artinya yang dicontoh dan teladani bicara dan . tingkah-lakunya. Sungguh mulia sebagai guru.

Pemahaman itu sudah menjadi pemahaman semua guru. Sebagai guru, akan merasa bahwa diri ini akan menjadi contoh-teladan dan akan dipercaya oleh orang lain atas apa-apa yang dilakukan. Maka, di luar peran sebagai pendidik, pengajar dan pelatih peserta didik, sesungguhnya guru adalah sosok yang oleh masyarakat akan selalu diperhatikan tindak-tanduknya. Diperhatikan bicaranya. Itulah guru.

Bersempena memperingati HUT (Hari Ulang Tahun) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-73 dan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2018 yang baru saja berlalu, jangan pula pemikiran tentang bagaimana harusnya guru tidak lagi meresap di kalbu. Catatan hari guru boleh berlalu. Tapi pahatan perasaan dan pemikiran guru wajiblah ada terus di dada guru. Guru itu digugu dan ditiru. Maka ingatlah selalu itu.

Hampir semua waktu sudah digunakan untuk melaksanakan fungsi dan tugas guru, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi. Beh, sungguh banyak dan luas tugas guru. Itulah tugas pokok guru sesuai regulasi yang menyebabkan guru mendapat gaji. Dan itulah fungsi guru yang bertujuan membentuk anak, membentuk orang lain.

Akankah berhasil? Inilah kuncinya, guru wajib membentuk dirinya sendiri sebelum berusaha membentuk orang lain. Jika guru menyadari bahwa tugas pokoknya itu adalah dalam usaha membentuk orang lain menjadi manusia mulia, manusia berkarakter mulia, manusia yang mampu mandiri dan mampu pula membuat orang lain mandiri, maka guru harus bisa membentuk dirinya terlebih dahulu. Bisakah?

Sekali lagi, kunci utamanya adalah bahwa sebagai guru wajib membentuk diri sendiri terlebih dahulu. Pastikan, guru benar-benar sudah digugu dan ditiru. Benar-benar dicontohteladani setiap gerak-gerik dan tingkah laku. Jika sudah berhasil membentuk diri maka barulah layak dan bisa membentu diri orang lain. Itulah yang harus terus diomongkan kepada diri sendiri. 

Aku bicara begini, ngomong begini adalah karena guru. Merasa sebagai guru. Suasana hari dan info-info masih masih bicara guru, mari bicara guru. Meski bicara sendiri untuk sendiri.*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan