Kamis, 29 Maret 2018

Meluruskan Niat dalam MTQ: Sebuah Pembelajaran


ADA banyak hikmah atau pembelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) yang setiap tahun dilaksanakan di negeri kita. Dari tingkat paling rendah (Lurah/ Desa) hingga ke tingkat paling tinggi (Nasional) selalu ada MTQ secara rutin dilaksanakan. Kegiatan MTQ adalah kegiatan resmi yang sudah menjadi kegiatan terprogram oleh Pemerintah Indonesia. 


Tentang keinginan untuk menjadi yang terbaik (juara) dalam setiap lomba misalnya, adalah sesuatu yang lumroh dan di dalamnya terkandung juga pembelajarannya sebenarnya. Keinginan untuk menjadi juara adalah salah satu motivasi bagi peserta. Dan itu penting, seharusnya.

Termasuk motivasi dalam lomba membaca, memahami dan menguraikan isi dan kandungan alquran yang lebih dikenal dengan MTQ (Musbaqoh Tilawatil Quran) adalah mendapatkan hadiahnya. Harapan untuk mendapat predikat juara dalam MTQ tentulah keinginan yang wajar bagi peserta selama dasar lomba itu sendiri adalah karena berbuat kebaikan.
Di Kabupaten Karimun, misalnya telah dilaksanakan MTQ Tingkat Kecamatan se-Kabupaten untuk menghadapi MTQ Tingkat Kabupaten tahun 2018 nanti. Dari MTQ Tingkat Kabupaten Karimun itu nanti akan lahir para peserta yang akan berlomba di MTQ Tingkat Provinsi Kepri yang tahun ini akan dihelat di Kabupaten Lingga.
Sudah pasti, di setiap tingkat MTQ, para pesertanya akan menginginkan menjadi terbaik dan akhirnya menjadi juara. Selain akan menjadi utusan ke MTQ setingkat di atasnya, para peserta juga akan mendapatkan berbagai penghargaan dan hadiah itu tadi. Ini juga satu hal lain yang menjadi motivasi dalam lomba. Daerah yang kuat anggaran dan kuat pula pandangannya pada MTQ biasanya memberikan hadiah (bonus) yang menggiurkan kepada pesertanya. Itu tentu saja bagus.

Apapun motivasinya, yang perlu diperhatikan tentu saja bagaimana niat awal sebelum munculnya motivasi tersebut. Sudahkah pada posisi yang benar dan lurus niat yang mengawali motivasi tersebut? Ini penting karena dalam keyakinan agama kita niat adalah penentu nilai dan hasil perbuatan dan tindakan. Bagaimana tindakan dan perbuatan kita dinilai oleh Sang Penilai itu tergandung bagaimana niat kita dalam melakukan.
Jika ikut MTQ sudah diawali dengan niat yang baik dan benar, maka keikutsertaan dalam MTQ itu tidak akan menjadi sia-sia. Tapi niatnya tidak tepat, maka otomatis hasil apapun yang didapatkan, di mata agama tetap saja tidak baik.
Qori/ qoriah yang masih memegang perinsip 'berlomba dalam kebaikan' atau semata syiar agama, maka hasil yang didaptkan akan tetap bernilai mulia di sisi  Allah. Namun jika niatnya semata hadiah atau untuk menyombongkan suara dan kompetensinya saja, maka nilainya tetap saja menjadi ria dan itu jelek di mata-Nya. Maka luruskanlah niat dan motivasi dalam berlomba pada ajang MTQ di tingkat apa saja.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan