Selasa, 21 Februari 2012

MTQ: Itu Lomba Apa?


SEMUA juga tahu kalau MTQ adalah singkatan dari Musabaqah Tilawatil Quran alias lomba membaca alquran. Tapi mungkin tak semua tahu kalau dalam pelaksanaannya, MTQ ternyata tidak semata lomba membaca alquran. Ada lomba lain juga.

Di Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim istilah MTQ memang sudah sangat familiar di telinga masyarakat. Setahun sekali MTQ diadakan secara rutin. Bahkan ada MTQ antar instansi/ badan/ perusahaan yang waktunya tidak berdasarkan periode tahunan. Bisa kapan saja, tergantung kebijakan instansi bersangkutan.

MTQ, lazaimnya dilaksanakan berjenjang dari yang terendah (RT/ RW dan Desa/ Lurah) hingga ke tingkat Nasional untuk menentukan utusan daerah tersebut di tingkat daerah di atasnya. Penyelenggaranya adalah LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) yang berkedudukan berjenjang juga dari Kecamatan hingga Nasional. Maksudnya ada LPTQ Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan ada pula LPTQ Nasional.

MTQ tingkat Nasional adalah ajang adu kehebatan --membaca alquran-- antar juara MTQ tingkat Provinsi yang sebelumnya sudah diperlombakan terlebih dahulu. Begitu seterusnya ke bawah, tingkat provinsi adalah lomba antar kafilah kabupaten, dan MTQ Tingkat Kabupaten adalah ajang lomba antar kecamatan dalam kabupaten yang sama. Dan juara Nasional (khusus golongan Dewasa Putra/ Putri) akan mewakili Indonesia di ajang MTQ tingkat Dunia yang rutin diadakan di Malaysia atau di negara Islam lainnya, setiap tahunnya.

Cabang dan golongan dalam MTQ juga banyak. Untuk golongan, ada namnya golongan (tingkat) anak-anak, remaja dan dewasa. Itu khusus untuk cabang Tilawah. Ada pula istilah kanak-kanak untuk sebutan cabang Tartil. Tingkatan atau golongan ini diukur dengan kriteria umur. Sementara cabang-cabang lomba dalam MTQ juga beragam: tilawah, tartil, fahmil, syarhil, dan khattil (quran). Bahkan belakangan ada lagi tambahan cabang lomba lainnya seperti menulis isi kandungan alquran.
Mengikuti MTQ di daerah, seperti yang tiap tahun saya ikuti dan saksikan ada beberapa catatan dan fenomena menarik bagi saya. Maksud saya ada kecendrungan yang agak keliru dari masyarakat dalam mengapresiasi MTQ itu sendiri.

Maksud diadakannya MTQ pada hakikatnya adalah untuk mensyiarkan alquran disamping mencari yang terbaik untuk mewakili MTQ pada tingkat selanjutnya. Artinya, MTQ itu intinya adalah syiar alquran. Dengan syiar itu pula dituntut bahwa seseorang itu tidak hanya pintar membaca dan menulis, tapi jauh lebih penting adalah memahami isi kandungan alquran itu sendiri. Sasarannya juga tidak hanya kepada peserta (yang ikut lomba) tapi juga (dan ini lebih penting) adalah kepada pendengar. Kehadiran masyarakat secara beramai-ramai dalam setiap MTQ, inilah harapannya.

Kenyataannya dewasa ini pelaksanaan MTQ sudah semakin jauh melenceng dari tujuan mulia itu. Dari pengamatan saya yang juga terlibat dan menyaksikan pelaksanaan MTQ di daerah saya, Karimun Kepri, sedih juga rasanya. Harapan dan sasaran itu seperti semakin jauh panggang dari api.

Perlu saya jelaskan sedikit bahwa di Kabupaten Karimun pelaksanaan MTQ telah berlangsung dari tanggal 1 Februari lalu dan akan berakhir pada tanggal 26 Februari 2012 yang akan datang. Itu untuk tingkat kecamatan. Lama? Itu untuk semua alokasi waktu pelaksanaan di kecamatan yang ada. Di Kabupaten yang berdiri tahun 1999 ini terdapat sembilan kecamatan. Setiap kecamatan melaksanakan MTQ dalam waktu tiga- empat hari. Misalnya Kecamatan Karimun melaksanakan dari tanggal awal Februari diikuti tiga hari berikutnya oleh Kecamatan Kundur. Begitu seterusnya yang berakhir di Kecamatan Durai pada 26 Februari nanti.

Di setiap ajang lomba itu ada banyak kegiatan yang dibuat. Di samping MTQ-nya ada lagi lomba Lasqi (qasidah), lomba bazar, dan lomba astaka. Lomba-lomba lainnya inilah yang menurut saya telah membuat nilai-nilai dan manfaat MTQ sebagai ajang syiar isi alquran menjadi luntur. Pelaksana dan pengunjung lebih banyak dan lebih sering fokus pada lomba yang tak berkaitan dengan alquran itu. Terutama lomba astaka (mimbar/ tempat membaca) alquran, malah tampak lebih menyita waktu, tenaga dan biaya dari pada MTQ-nya.

Bayangkan sebgitu banyak biaya pelaksanaan MTQ, ternyata persentase yang lebih besar justeru untuk astakanya. Dalam pelaksanaan MTQ (waktu qori/ qori'ah membaca alquran) justeru pengunjung yang datang bukan mendengarkan bacaan alquran tapi malah asyik di stand bazar. Panitia (terutama juri astaka) juga datang hanya melihat astaka. Tidak mendengarkan alquran sambil menilai astaka.
Sebenarnya lomba-lomba selain lomba baca alquran itu baik dan boleh-boleh saja. Tapi jika perhatian berbagai pihak lebih besar kepada lomba selain MTQ-nya, apakah itu masih dapat dibenarkan? Kalau begitu MTQ itu lomba apa namanya? Wallahu a'lam.***

2 komentar:

  1. great , ini mtq tingkat apa?..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Karimun, itu tingkat kabupaten setelah sebelumnya dilaksanakan tingkat keccamatan se-Kabupaten Karimun.

      Hapus

Silakan