Rabu, 16 September 2015

Ketika MKKS Belajar ke Malaysia

JANGAN malu, kalau dikatakan kita ingin belajar ke Malaysia. Dulu, sekitar tahun 70-an, orang-orang Malaysia memang belajar kepada orang-orang Indonesia. Para guru dari Tanah Air ini, banyak diminta menjadi guru di negeri jiran itu. Orang-orang Malaysia sendiri, juga berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk menimba ilmu. Sebagai 'saudara tua', Malaysia memandang Indonesia sebagai negara yang lebih dulu berpengetahuan dan berpengalaman.

Pandangan orang-orang Malaysia yang menganggap Indonesia lebih maju, waktu itu lebih berpendidikan bisa jadi karena usia kemerdekaan Indonesia memang jauh lebih tua dari pada Malaysia. Berbanding kemerdekaan yang dierpoleh Malaysia pada tahun 1957 dengan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tahun 1945, tentu saja jarak itu cukup lama. Malaysia menyebut Indonesia sebagai saudara tua, itu adalah fakta. Dan karena itu pula Indonesia dijadikan temapt berguru, itu juga fakta.

Jadi, tidak salah jika di tahun-tahun 70-an itu Malaysia menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tempat belajar. Saya tidak tahu persis berapa angka dan jumlah orang Malaysia yang belajar dan menimba ilmu ke Indonesia dan berapa banyak pula orang Indonesia yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi guru orang Malaysia. Yang pasti, saat itu begitu banyaknya para guru Indonesia yang menjadi guru untuk Malaysia. Baik datang langsung ke Malaysia (diminta atau atas keinginan sendiri) atau menjadi guru/ dosen di Indonesai dengan siswa atau mahasiswanya dari Malaysia. Pokoknya bangsa kita masih merasa di atas 'saudara muda' itu dalam hal pendidikan.
Berpose di Halaman Masjid Putera, Malaysia

Tapi itu dulu, ya 30-40 tahun silam. Kini, bahkan sejak 10-an tahun lalu, pandangan bahwa Indonesia lebih maju dari pada Malaysia dalam hal pendidikan dan pengajaran, sudah tidak terdengar lagi. Perkembangan dan kemajuan negeri jiran itu terbukti jauh lebih cepat dari pada Indonesia. Malah tidak hanya di bidang pendidikan, hampir di semua bidang Malaysia dan penduduknya sudah kelihatan lebih maju.

Jika saat ini kita datang ke Malaysia, kita malah merasa betapa kita sudah ditinggal jauh oleh orang Malaysia. Kehidupan sosial masyarakat, ekonomi, pendidikan dan berbagai bidang lain terasa sekali perbedaannya. Ketika di pasar, di terminal atau di mana saja, rasa waswas itu lebih sedikit berbanding jika berjalan di kota-kota besar Indonesia. Jangan bandingkan dengan Jakarta, keamanan di Kuala Lumpur, misalnya. Ingin berbelanja? Di setiap daerah (setingkat kecamatan, apalagi kabupaten) ada tempat berbelanja apa saja. Sudah bersaih, tertata rapi lagi. Ah, saya jadi berlebihan menilainya. Yang jelas, memang sudah begitu ketara kelebihan negeri tetangga itu berbanding negeri kita. Terlebih di bidang pendidikan.

Itulah sebabnya mengapa saat ini, justeru orang-orang Indonesia yang pergi belajar ke Malaysia. Jumlah mahasiswa Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat untuk belajar ke Malaysia. Jika dulu mereka ke sini, kini justeru kita yang menuntut ilmu ke sana. Untuk sekadar rekreasi sambil menimba ilmu serta mencari pengalaman, kita juga semakin suka datang ke sana. Apalagi masyarakat Kepri, khususnya Karimun. Hampir setiap bulan ada saja rombongan orang Karimun yang berkunjung ke sana.Entah sudah berapa banyak devisa kita disedot negara jiran itu.

Menyaksikan Pembuatan Cokelat di Malaysia
Di pertengahan September 2015 lalu, milsanya serombongan Kepala Sekolah dari Kabupaten Karimun, kembali berkunjung ke negeri melayu itu. Para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMA/ MA Kabupaten Karimun memanfaat waktu kunjungan studi bandingnya ke negeri Najib Tun Razak itu. Jika tahun lalu, anggota MKKS ini mengunjungi beberapa sekolah di Jogyakarta, maka tahun disepakati pula untuk belajar ke Malaysia. Para Kepala Sekolah ini pergi ke Sekolah Menengah Kebangsaan Sains Kota Tinggi, Johor. Sekolah ini adalah salah satu dari 68 sekolah berasrama penuh (SBP) yang ada di Malaysia. SBP adalah semacam sekolah unggul yang hanya menerima calon siswa yang 'cemerlang' saja.

Ke sinilah rekan-rekan Kepala Sekolah berkunjung. Meskipun perjalanan ini lebih banyak waktu untuk rekreasinya, namun pembelajaran yang dapat diserap ketika berkunjung ke sini sungguh sangat banyak. Para Kepala Sekolah ini mengetahui bagaimana mengelola sekolah dengan baik. Bagaimana Pemerintah Malaysia mengelola sekolah-sekolah dengan status SBP itu. Meskipun dikatakan 'tidak sekolah gratis' namun hampir 90 persen biaya operasional sekolah diberikan oleh pemerintah. Partisipasi orang tua lebih bersifat suka rela saja.

Pada saat bersamaan, ternyata serombongan Kepala Sekolah lainnya juga pergi ke sana. Rombongan kedua yang kebetulan bertemu di Pelabuhan Puteri Harbour, Johor Malaysia, itu adalah para Kepala Sekolah yang tergabung ke dalam K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) SD se-Kundur. Meskipun tidak mengunjungi sekolah di sana, tapi mereka juga belajar di Malaysia dengan menyaksikan berbagai kemajuan. Jadi, tidaklah salah jika orang Indonesia mau belajar ke Malaysia. Dan itulah yang coba dilakukan oleh para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MKKS dan K3S itu. Mari, kita jangan malu untuk belajar di mana saja. Termasuk ke negara yang dulu belajar ke kita.*** 

2 komentar:

  1. Apakah Anda ada Masalah Di Bawah Ini :

    (1) Hutang Menumpuk

    (2) Butuh Modal Usaha

    (3) Kesulitan Ekonomi


    Bpk KI AGENG MUSTARI Menawarkan Praktek Pesugihan Yang Aman,Terpercaya,Terbukti Dan Instan,Tanpa Tumbal.

    Bpk KI AGENG MUSTARI Dapat Membantu Pesugihan Dengan Cara :

    (a). Pesugihan Uang Gaib

    (b). Pesugihan Gunung Kawi (Meritualkan)

    Adapun Syarat Dan Ketentuan Dalam Menjalankan Ritual Pesugihan Tersebut:

    (a) Mahar Setelah Berhasil

    (b) Biaya Meditasi (Dibayar Sebelum Ritual)

    Bagi Anda Yang Berminat Silahkan Tlf Bpk KI AGENG MUSTARI Di Nomor 085-145-297-167.




    Apakah Anda ada Masalah Di Bawah Ini :

    (1) Hutang Menumpuk

    (2) Butuh Modal Usaha

    (3) Kesulitan Ekonomi


    Bpk KI AGENG MUSTARI Menawarkan Praktek Pesugihan Yang Aman,Terpercaya,Terbukti Dan Instan,Tanpa Tumbal.

    Bpk KI AGENG MUSTARI Dapat Membantu Pesugihan Dengan Cara :

    (a). Pesugihan Uang Gaib

    (b). Pesugihan Gunung Kawi (Meritualkan)

    Adapun Syarat Dan Ketentuan Dalam Menjalankan Ritual Pesugihan Tersebut:

    (a) Mahar Setelah Berhasil

    (b) Biaya Meditasi (Dibayar Sebelum Ritual)

    Bagi Anda Yang Berminat Silahkan Tlf Bpk KI AGENG MUSTARI Di Nomor 085-145-297-167.

    BalasHapus
  2. Salam Dr Malaysia...timba lah ilmu walau dimana jua...jujur Saya sering belajar dr wak(panggilan utk org jawa dr Indonesia) yg bekerja dimalaysia atas ilmu/kemahiran 'art' yg merka miliki,kadang terpikir bagaimana rakyat Indonesia yg Punya kepandaian ini tidak dihargai diindonesia.

    BalasHapus

Silakan