Minggu, 03 Agustus 2014

Ramainya Pantai Pelawan di Akhir Pekan

Turis Asing di Pantai Pelawan
BERTEPATAN dengan suasana lebaran Idul Fitri 1435 dan akhir pekan, Ahad (03/ 08) ini begitu luar biasa ramainya Pantai Pelawan. Pantai Pelawan adalah salah satu dari dua pantai yang selalu dikunjungi selain Pantai Pongkar.. Jika Pantai Pelawan berada di Kecamatan Meral Barat maka Pantai Pongkar berada di Kecamatan Tebing. Pulau Karimun menjadi terkenal oleh kedua pantai dengan pasirnya yang putih itu.
Saya dan keluarga pada hari ini ikut menikmati suasana pantai di Kecamatan Meral Barat itu. Sekali-sekali kami berekreasi di Pantai Pongkar. Masing-masing pantai memang memiliki keistimewaannya. Di Pantai Pongkar terkenal dengan pasirnya yang lebih putih dan area pantai yang juga lebih tertata bersih. Tapi di Pantai Pelawan fasilitas umum dan permainan lautnya lebih lengkap. Di pantai yang ikut dibantu pengembangannya oleh perusahaan PT Saipem ini, ada boat dengan fasilitas pelampung untuk penumpang yang ingin mengharungi laut jauh ke tengah sana.

Yang saya rasakan pada akhir pekan yang kebetulan masih dalam suasana lebaran ini adalah begitu ramainya masyarakat yang berkunjung. Boleh jadi karena besok (Senin) juga akan sudah masuk kantor/ sekolah setelah libur selama puasa dan Idul Fitri. Begitu ramainya manusia, terasa sekali ketika akan mencri tempat duduk-duduk membentangkan tikar, sudah begitu sulit. Hampir semua lokasi di sepanjang tepi pantan sudah dipenuhi manusia. Waktu saya datang, sekitar pukul 10.30 itu manusia sudah sangat ramai di pantai itu.

Saya juga mencatat biaya masuk ke lokasi pantai yang mendadak naik dibanding hari-hari biasa. Jika di hari-hari libur biasa, harga tikcket masuk ke lokasi hanya 5-10 ribu rupiah saja untuk kenderaan roda empat, ternyata tadi waktu akan melewati gerbang ke lokasi pantai, para penjaga gerbang itu menyebut angka 50 ribu rupiah. Naik hingga 500 persen berbanding hari-hari lainnya. Tentu saja ini disebabkan oleh jumlah pengunjung yang membludak itu. Dan ternyata, ketika akan memarkir mobil mendekati pantai, para penjaga di sana juga meminta uang parkir kenderaan yang selama ini tidak pernah ada bayaran parkir itu. Semua perubahan ini jelas disebabkan oleh jumlah pengunjung yang sangat ramai itu.

Biaya yang mahal itu tentu saja tidak akan kami persoalkan. Kami yakin, para pengunjung lainnya juga akan diperlakjukan sama oleh para penjaga dan pengelola pantan itu. Seterusnya kami mencari tempat duduk. Kami juga sengaja membawa tikar pandan untuk alas duduk. Kami melihat masih ada tempat seukuran 3x4 meter yang kosong lalu kami bentangkan tikar kami di situ. Kami duduk sambil menghadap ke laut sana. Di sepanjang bibir pantai dengan pasir yang cukup putih itu sudah dipenuhi manusia. Di dalam air sepanjang pantai juga begitu ramainya orang mandi. Dari anak-anak hingga ke orang tua-tua ikut mandi.

Saya sendiri, ingin mandi waktu itu. Tapi saya putuskan akan mandi setelah solat zuhur saja. Dan setelah selesai solat dan makan, saya turun ke laut. Dengan membawa Akif (cucu satu-satunya) saya mulai membasahkan kaki lalu celana. Ini juga sekaligus memperkenalkan cucu berumur 10 bulan itu ke air laut. Walaupun dia masih takut pada walnya, tapi akhirnya dia suka dan ikut berbasah-ria juga. Saya, Kiki (anak saya) dan Ade (suaminya) ikut mandi bersama begitu banyaknya orang-orang yang mandi.

Hingga pukul 14.00 kami naik ke darat. Lalu mandi air tawar dengan membayar dua ribu rupiah dan ganti pakaian yang basah dengan yang kering, istirahat sejenak sambil menyantap makanan yang masih ada, selanjutnya kami kembali ke rumah. Dan saat akan menuju kenderaan yang ndiparkir cukup jauh, kami masih melihat ramainya orang yang datang. Mereka akan menambah ramainya Pantai Pelawan pada hari libur akhir pekan ini.*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan