Selasa, 20 Mei 2014

Tangis Pilu yang Tak Perlu

Penyerahan UN beberapa tahun lalu


PENGUMUMAN hasil UN (Ujian Nasional) tingkat SMA/ MA/ SMK sudah diumumkan sore (Selasa, 20/ 05) tadi secara serentak di seluruh Tanah Air. Di Kabupaten Karimun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pengumuman kelulusan dilaksanakan sore hari, pukul 16.00 WIB setelah rapat penentuan kelulusan pada pagi menjelang siang hari yang sama.


Menurut laporan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, MS Sudarmadi ketika menyerahkan hasil UN kepada Kepala Sekolah se-Kabupaten Karimun hari Senin (19/ 05) lalu, "Tingkat kelulusan UN SMA/ MA/  SMK pada tahun ini sedikit menurun. Begitu kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI," katanya di SMA Negeri 1 Karimun ketika memberi pengarahan sebelum penyerahan hasil UN. Kabupaten Karimun sendiri, menurut Pak Kadis, alhamdulillah mampu menaikkan peringkatnya dari peringkat ke-5 pada tahun lalu menjadi peringkat ke-3 dari tujuh kabupaten/ kota se-Porvinsi Kepri pada tahun 2014 ini. "Target Kantor Dinas Kabupaten kelulusan sebesar 99 koma sekian persen alhamdulillah sudah tercapai," katanya. Dan karena bukan 100 persen itu berarti masih ada peserta UN yang gagal di Karimun.

Nah, pengumuman di salah satu SMA di Pulau Karimun sore tadi itu, memperlihatkan pemandangan yang cukup mengharukan. Setelah Kepala Sekolah memberi pengarahan dan mengumumkan siswa yang meraih nilai tertinggi, selanjutnya para Wali Kelas menyerahkan ampelop berisi pengumuman kelulusan. Setiap satu orang siswa mendapatkan satu ampelop yang berisi keterangan lulus atau tidak lulus yang dilengkapi dengan nilainya. Pada saat itulah pecah tangis haru dari para siswa yang gagal lulus. Terasa pilu juga hati menyaksikan beberapa orang siswa yang tidak lulus itu. Mereka menangis sesunggukan. Beberapa orang guru memeluk mereka untuk menenangkan. Tapi mereka tetap saja tidak bisa tenang. Sementara para rekannya bergembira dan haru, tapi mereka tidak lulus jelas akan membuat mereka sedih.

Memang dapat dipahami kalau mereka sangat berduka dan sedih. Dari seratusan peserta yang ikut dalam UN kali ini, hanya tiga orang di sekolah ini yang tidak lulus. Ketiganya juga dari Jurusan Ilmu-ilmu Sosial. Memang, di sekolah lain ada juga yang tidak lulus sampai empat atau enam orang per sekolah. Begitu Kepala Dinas menjelaskan kemarin. Tentu saja mereka sangat pilu hatinya menerima kenyataan tidak lulus di tengah-tengah temannya yang lulus. Tapi apakah ada gunanya menagis saat itu? Tidak ada gunanynya.

Sangat sudah terlambat jika baru menangis pada saat pengumuman. Sejatinya para siswa menangis dan menyesali diri jauh-jauh hari. Bukankah para guru sudah mengingatkan bahwa untuk menghadapi UN mestilah dengan persiapan yang cukup? Tidakkah peringatan itu sudah disampaikan jauh-jauh hari? Di awal tahun di kelas XII sesungguhnya sudah diingatkan untuk lebih meningkatkan kesungguhan untuk belajar. Bahkan sejak dari kelas X pun sudah diingatkan kalau nanti aka nada UN yang masih menjadi momok itu.

Sayangnya masih ada siswa yang tidak juga bersungguh-sungguh dalam kesehariannya di sekolah. Kini setelah sampai di ujung perjalanan, artinya ‘nasi sudah menjadi bubur’ maka hasil apapun mestilah diterima. Tidak perlu menangis. Itu tidak perlu. Itu hanya akan menambah kerugian sendiri. Mendingan pikirkan kesempatan untuk mengulang kembali untuk satu tahun lagi. Coba lebih bersungguh-sungguh. Jika tidak juga, masih ada peluang ikut Paket C di bulan Agustus nanti. maka jangan bersedih lagi, wahai calon generasi pengganti.!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman