Minggu, 06 April 2014

Berhati-hati Memberi Suara Hati

PEMILU (Pemilihan Umum) Legislatif tinggal tiga hari lagi. Masa kampanye sudah ditutup. Dari sekarang menjelang tanggal 9 April 2014 nanti masyarakat sudah diminta tenang. Ini masa tenang menjelang waktu mencoblos datang. Siapa-siapa caleg yang akan dipilih juga tinggal menunggu hari dan keputusan hati yang bersih.

Di masa tenang ini juga diingatkan untuk tidak lagi ada yang berkampanye. Baik secara terbuka maupun secara tertutup tidak lagi dibenarkan mengajak orang dalam bentuk kampanye untuk untuk memilih seseorang. Undang-undang sudah melarang. Masyarakat diharapkan sudah mempunyai jagonya yang menurut penilaiannya layak untuk dipilih menjadi wakil di parlemen.

Jika ada yang bertanya, siapa sebaiknya jagoan kita, sepenuhnya menjadi hak masing-masing kita. Tidak ada yang boleh memaksa. Di sinilah perlunya kehati-hatian dan kewaspadaan. Selalu banyak janji dan provokasi dalam menentukan suara hati. Iming-iming uang dan benda lainnya sering menyilaukan. Maka putuskanlah menurut nurani hati yang bersih.

Masyarakat boleh saja merasa diberi janji oleh para caleg yang bertebaran di mana-mana. Seratusan orang dalam satu dapil akan membuat masyarakat linglung dalam menentukan pilihan jika tidak ada sikap berhati-hati. Di kiri mungkin saudara sendiri. Di kanan juga ada teman yang akrab dalam persahabatan. Padahal surat suara yang akan disi hanya ada satu. Hanya satu suara untuk satu orang. Baik DPR Pusat, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten, masing-masing hanya satu orang yang dapat dipilih. Padahal ada seratusan orang caleg yang berharap dipilih. Maka suara hatilah yang akan menentukan.

Tidak harus merasa berutang budi kepada seseorang yang memberi janji jika selama ini ternyata tidak bisa dipercaya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dia pernah menjadi wakil rakyat dan ternyata selama itu tidak bisa dipercaya, lupakan saja orang itu. Karena memilih orang-orang yang tidak bisa dipercaya, akan menimbulkan penyesalan sepanjang masa tugasnya. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek untuk menyimpan rasa penyesalan. Maka pilihlah orang-orang yang benar-benar dapat dipercaya.

Bahwa kita sebaiknya menggunakan hak pilih, ya itu wajib seharusnya. Jangan dengarkan ajakan untuk golput dari orang-orang yang anti Pemilu. Benar di luar negeri sangat rendah tingkat partisipasi warga dalam Pemilu. Konon kabarnya tidak sampai 10 persen yang memberi hak suaranya. Tapi itu jangan mempengaruhi keinginan kita untuk memilih. Mari kjita pakai hak kita untuk memilih. Semoga orang-orang yang kita pilih itu benar-benar wakil kita. Bukan wakil kelearga semata.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan