Senin, 31 Maret 2014

Motivasi yang Asli adalah Teladan

KESULITAN memotivasi, salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan teladan motivasi. Ketidakmampuan memberi teladan oleh si pemberi motivasi untuk mencontohkan apa yang diharapkan adalah kegagalan awal dari hajat memberi motivasi. Tidak jarang, seorang guru, misalnya yang memberi motivasi siswanya justeru memunculkan antipati dari siswa karena guru gagal membuktikan apa yang diharapkan dari motivasi itu sendiri.


Seorang guru Pendidikan Agama (Islam) misalnya tidak akan berhasil memotivasi peserta didiknya untuk melaksanakan praktek ibadah jika anak-didik tidak mendapatkan teladan dari guru dalam praktek ibadah tersebut. Bagaimana berharap kepada anak-didik untuk taat solat atau berpuasa jika siswanya tidak yakin kalau gurunya sudah lebih dahulu melakukan. Jika di sekolah ada program solat berjamaah --zuhur atau asar-- misalnya, tapi oleh para siswa, guru-gurunya tidak terlihat melakukannya maka siswanya juga tidak akan tertarik untuk melakukannya. Tidak bisa dengan motivasi verbal saja.

Begitu juga guru Bahasa Indonesia misalnya, ketika memberi motivasi untuk terampil menulis atau membaca. Tidak akan mudah bahkan tidak akan bisa jika gurunya sendiri tidak bisa memberi teladan tentang menulis dan membaca. Gurunya boleh saja berbuih-buih memberi motivasi bagaimana hebatnya seorang penulis. Orang seperti Edgar Allen Poe, John Updike, JK Rolling atau Andre Hirata dan beberapa nama top di Tanah Air boleh saja disebut sebagai penguat contoh. Guru boleh saja mengatakan bahwa orang-orang itu menjadi terkenal dan kaya-raya kaena terampil menulis.

Persoalannya adalah apakah gurunya sendiri mampu meneladankan membaca dan menulis? Teladan itulah sebenarnya yang menjadi kunci dari berhasil-tidaknya motivasi yang diberi. Sekurang-kurangnya guru dapat membuktikan bahwa dia memang rutin membaca. Katakanlah dengan berlangganan koran atau majalah. atau bisa dengan menunjukkan bukti membeli buku secara rutin untuk dibaca. Dengan begitu, siswa akan percaya bahwa gurunya memang suka membaca. Dan ketika guru tersebut memotivasi siswanya untuk membaca tentu saja siswa akan terpengaruh dan akan termotivasi untuk membaca.

Hal yang sama juga berlaku untuk keterampilan menulis. Guru yang memotivasi siswanya menulis, akan lebih mudah jika guru bersangkutan dapat menunjukkan bahwa dia juga belajar dan bisa menulis. Sejelek dan sesederhana apapun karya tulis yang dibuatnya, itu adalah bukti bahwa guru tersebut sudah melakukan kreativitas menulis. Dan jika guru tersebut memotivasi siswanya untuk menulis, ada kemungkinan para siswanya akan percaya dan akan termotivasi.

Mungkin tepat analogi memandikan kambing atau kuda. Seorang penggembala kuda yang ingin memandikan kudanya maka dia sendiri harus masuk terlebih dahulu ke dalam sungainya. Kuda itu harus ditarik dengan talinya. Tidak bisa berharap kudanya akan mandi sendiri. Tapi harus ditarik dan dibuktikan bahwa tuannya juga masuk ke dalam sungai. Dengan begitu barulah kudanya akan mandi.

Dalam hal memberi motivasi, mungkin tidak seekstrim itu. Mungkin saja seseorang termotivasi dengan kalimat-kalimat tertentu oleh sang motivator walaupun tanpa membuktikannya sendiri. Tapi tetaplah akan lebih baik dan meyakinkan sasaran motivasi jika si pemberi motivasi memang sudah membuktikan apa yang dia harapkan kepada orang yang diberi motivasi. Singkatnya, lakukan terlebih dahulu baru menyuruh kepada orang lain. Itulah kunci dari motivasi, yaitu teladan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan