Minggu, 23 Februari 2014

Surat untuk Guru: Berharaplah Anak Didik Punya Blog



SAYA --menurut saya-- tidaklah mahir menggunakan PC atau laptop. Balckbarry, iPhon,  iPad atau gedget canggih lainnya saya juga tidak punya. Sebagai guru, kebutuhan penggunaan teknologi elektronik ini saya pelajari secara otodidak saja karena kebutuhan profesional. Meski sudah puluhan tahun bisa mengoperasikan komputer tapi itu baru pada program word, exel dan power point. Itulah program utama yang memang dibutuhkan guru.


Perkembangan TIK yang begitu pesat membuat kemampuan dan keterampilan menggunkan alat canggih ini tidak bisa dielakkan. Dewasa ini, hampir semua orang di semua keadaan dan di semua situasi tidak lagi bisa melepaskan dirinya dari teknologi yang bernama komputer ini. Dengan jaringan internet yang sudah ada hampir di merata tempat, sudah pasti komunikasi melalui teknologi ini menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
Sementara secara pribadi saya sesungguhnya belumlah terlalu mahir dalam mengoperasikan komputer justeru saya bermimpi bagaimana anak-didik saya mampu melakukannya lebih hebat. Saya malah bermimpi anak didik saya masing-masing memiliki blog pribadi tempat mereka berkreasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi ini.

Punya blog saja sebenarnya belumlah ideal. Harapan sebenarnya adalah mereka menjadi bloger. Punya blog dengan menjadi bloger tentu berbeda. Sekedar memiliki akaunt blog saja jelas tidak lebih sulit. Kita tinggal mendaftar di situs tertentu (berbayar atau gratis) untuk membuat blog. Dengan mengikuti semua langkah yang sudah ditentukan, membuat blog tidaklah sulit. Buat nama yang diinginkan dan itu dapat diakses setiap saat selama admin situs yang dipakai memandang bahwa blog yang kita buat tidak ada masalah.
Setelah blog dimiliki lalu mau diapakan? Jika ternyata halaman blog hanya halaman standar yang memang sudah disediakan scara gratis oleh situs-situs tertentu itu dan tidak benar-benar dipakai untuk membuat dan menyampaikan informasi kepada pembaca lain, maka itulah yang disebut memiliki blog. Ini saja belum dapat disebut sebagai bloger. Jika pun status itu mau dipakai, itu pun baru bloger pasif. Yang saya maksud istilah bloger di sini adalah bloger aktif.

Bagi para peserta didik kita, memiliki blog saja di tahap awal tentu itu sudah bagus. Setiap guru TIK masuk di kelas dapat meminta anak untuk membukanya, lalu menjadikan itu sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran TIK di kelas. Artinya, memiliki blog ksong pun tetap itu mempunyai nuilai tertentu bagi siswa dan guru itu sendiri.

Persoalannya, sudahkah peserta didik kita memiliki blog pribadi? Atau, sudahkah guru menyuruh, meminta atau mengajarkan membuat blog pribadi peserta didiknya? Jangan-jangan guru pun belum memiliki blog pribadi seperti pernah ditulis seorang kompasianer yang sudah terkenal sebagai bloger.

Andai saja blog-blog  pribadi itu dibuka (sendiri, sekurang-kurangnya) maka itu berarti akan timbul juga kecintaan siswa kepada dunia internet yang selanjutnya jika dia aktif menulis, akan timbul pula kecintaannya pada dunia tulis-menulis. Sangat besar manfaat yang akan diterima peserta didik dan guru andai setiap peserta didik itu punya blog pribadi. Guru sendiri tentu akan memberi reward tertentu kepada mereka.
Harapan peserta didik memiliki blog pribadi tentu saja tidak bisa disandarkan harapannya hanya kepada guru TIK saja. Semua guru mesti berpartisipasi mendorong anak didiknya untuk memiliki blog pribadi. Tentu saja hal-hal berikut akan mempengaruhi hajat besar ini:
1) Apakah gurunya sudah memiliki blog pribadi terlebih dahulu? Ini sangat berpengaruh kepada anak didik kita. Bagaimana memotivasi anak didik untuk memiliki blog sendiri jika gurunya tidak/ belum punya blog sendiri. Itu akan berpengaruh besar kepada anak didik.
2) Guru TIK adalah tenaga profesional di bidang TIK di sekolah yang akan memberi warna kepemilikan blog pribadi peserta didik ini. Walaupun alokasi waktu jam TIK hanya dua kali tatap muka dalam setiap minggu, itu tidak bisa menjadi alasan untuk tidak cukup dalam mengajarkan pembuatan blog. Waktu-waktu esktra kurikuler dapat diprogramkan untuk ini.
3) Kepala Sekolah harus mendorong semua guru di bawah kepemimpinannya untuk memiliki blog. Itu berarti, Kepala Sekolah sendiri wajib terlebih dahulu memiliki blog pribadi. Pertanyaannya, apakah Kepala Sekolah juga mau dan sudah memiliki blog sendiri?
4) Pihak Dinas Pendidikan harus pula memberi dorongan konkret dalam mengembangkan TIK di sekolah-sekolah terutama di sekolah setingkat sekolah menengah (Pertama/ Atas). Lomba-lomba membuat blog antar peserta didik harus diperbanyak.

Dan tentu saja masih ada beberapa kemungkinan lain yang akan berpengaruh terhadap harapan agar anak-didik memiliki blog pribadi. Semoga!***
Dimuat ulang dari:  http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/10/surat-untuk-guru-berharaplah-anak-didik-punya-blog-485130.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan