Rabu, 27 Februari 2013

Kurikulum 2013: Menanti Guru Kreatif-Inovatif

SEPERTINYA Kemdikbud tidak akan surut. Rencana memberlakukan kurikulum 2013 sudah bulat walau masih akan bertahap. Beberapa kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh menegaskan kalau kurikulum itu akan diberlakukan pada awal tahun pelajaran baru, 2013/ 2014 nanti. Tinggal lima bulan lagi, berarti.
Di tengah pro kontra yang belum reda, sosialisasi terus berjalan. Wakil Mendikbud, Musliar Kasim sudah berkelana ke beberapa kabupaten di beberapa provinsi di Tanah Air. Di setiap tempat dia cenderung mempromosikan kurikulum itu dari pada menjelaskan. Seperti ketika dia berkunjung ke Kabupaten Karimun beberapa waktu lalu, sepertinya dia lebih kepada meminta dukungan guru --untuk diberlakukan-- dari pada mencerahkan guru berkaitan kurikulum baru itu. Apakah karena masih ada penolakan dari beberapa pihak? Pak Wamenlah yang tahu.

Sampai saat ini sebagian besar guru, terutama di daerah-daerah belum juga memahami benar esensi kurikulum yang katanya penyempurnaan dari kurikulum KTSP yang saat ini masih berlaku. Pemberlakuannya sendiri juga akan bertahap: kelas 1 dan 4 (di SD), kelas 7 (SLTP) dan kelas 10 (SLTA) akan dilaksanakan pada awal Juli 2013 nanti. Tahun berikutnya naik ke kelas di atasnya. Artinya diperlukan tiga tahun untuk berlaku secara keseluruhan dari kelas rendah hingga kelas akhir.

Jika kurikulum 2013 benar-benar akan mengarahkan peserta didik untuk menjadi anak-anak yang kreatif, inovatif dan berkarakter, seperti selalu didengung-dengungkan Mendikbud maka inilah sesungguhnya tugas berat guru. Guru harus memikirkan strategi yang tepat untuk mewujudkan harapan itu. Tentu saja itu tidak akan mudah.

Sebagian informasi yang diterima guru saat ini bahwa untuk melaksanakan kurikulum baru ini nantinya sebagian besar perangkat pembelajaran yang selama ini harus dikerjakan guru, nanti tidak perlu lagi guru yang mengerjakannya. Seumpama silabus yang selama ini menjadi momok bagi guru yang cenderung malas, nanti sudah tidak perlu lagi disusun guru. Semuanya sudah dipersiapkan dari kementerian. Buku-buku ajar pun nantinya akan disiapkan Pemerintah. Sekolah-sekolah tinggal melaksanakannya saja.

Di sinilah kekhawatiran muncul. Akankah model 'serba ada' ini akan melahirkan guru-guru kreatif dan inovatif sebagaimana target yang diharapkan kepada peserta didik? Bukankah untuk melahirkan anak-anak yang kreatif dan inovatif justeru mesti dimulai dari dan oleh para guru yang kreatif dan inovatif juga?

Dengan kurikulum KTSP yang menjadikan otonomi sekolah dan guru sebagai salah satu perinsip, terbukti tidak banyak lahir guru-guru kreatif dan inovatif lalu bagaimana dengan kurikulum yang serba disiapkan ini akan melahirkan guru-guru kreatif dan inovatif? Bagaimanapun, kita tetap berharap dan menanti lahirnya guru-guru kreatif dan inovatif untuk melaksanakan kurikulum baru ini. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan