Jumat, 26 Agustus 2011

Ramadhan Guru yang Diam

SATU BULAN penuh para muslim yang mukmin berkesempatan bersama Ramadhan 1432/ 2011 ini. Syukur, tentu. Ada banyak yang barangkali ingin juga bersama bulan penuh berkah, rahmah dan maghfirah ini akan tetapi tidak bisa. Entah karena tidak lagi berumur panjang menjelang bulan seribu bulan itu atau bisa juga hatinya tidak tertarik untuk bersama karena belum mendapat hidayah dari-Nya.

Buat yang berkesempatan bersama sangat perlu untuk berpikir, apakah yang dapat dipetik dari keberadaan Ramadhan ini. Atau dia akan berlalu begitu saja bersama kealpaan pemahaman terhadap keberadaannya.
Salah satu yang sejatinya dipetik dari keberadaan bulan ampunan itu adalah terdapatnya nilai-nilai pendidikan dan pengajaran di dalamnya. Dan salah satu nilai pendidikan dan pengajaran itu adalah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tempat menimba ilmu dan nilai-nilai kejujuran dan kasih-sayang.

Sudah dimaklumi bahwa puasa yang diwajibkan kepada muslim yang beriman selama bulan Ramadhan hanya dapat dilaksanakan apabila orang yang berpuasa (shoim) itu memastikan dirinya mampu berlaku jujur kepada dirinya selama proses pelaksanaan puasa. Tidak bisa puasa dilakukan dengan mencampur-adukkan antara kejujuran dan kebohongan.

Puasa adalah amalan pribadi yang langsung berhubungan dengan sang Khaliq, zat yang mewajibkan puasa itu sendiri. Sebagai amalan pribadi, dia terlaksana dengan tingkat kerahasaan yang sangat tinggi antara si shoim dengan orang lain. Artinya, oleh orang lain (sahabat, anak isteri, mak-ayah dan mertua atau siapa saja) kita dapat merahasiakan puasa kita. Mengapa? Karena jenis amalan ini berbeda dengan amalan-amalan lain.

Berbanding dengan sholat, zakat atau amal lainnya yang dengan mudah terdeteksi bentuk-bentuk amaliahnya, puasa tidak seperti itu. Jika sholat nyata bentuk gerak-geriknya sementara puasa tidak. Begitu pula haji dan amalan-amalan lainnya. Orang tahu apa yang sedang dikerjakan, sementara puasa tidak. Antara orang puasa dengan orang tidak puasa tidak ada batas perbedaan siknifikannya. Keduanya sama.

Maka yang tahu antara orang puasa dengan yang tidak puasa hanyalah Allah, zat Pencipta yang memefrintah puasa. Di situlah letaknya nilai-nilai kejujuran akan bermain. Jika shoim itu mampu berlaku jujur dalam pelaksanaan puasanya maka akan berhasillah dia dalam melaksanakan puasanya. Sebaliknya jika dia tetap mencurangi orang lain dengan hanya berpura-pura puasa maka sesungguhnya dia tidak akan termasuk orang yang berhasil melaksanakan puasa.

Jadi, tampak jelas betapa puasa yang dilaksanakan dalam bulan ramadhan itu mengandung pendidikan dan pengajaran, berupa penerapan nilai-nilai kejujuran buat orang yang melaksanakan puasa itu sendiri. Artinya bulan Ramadhan itu merupakan guru terbaik yang meskipun dia diam saja, akan tetapi dapat mengajar kita menjadi muslim-mukmin yang jujur.

Jadi, Ramadhan adalah guru diam yang perlu dimanfaatkan sendiri secaqra otodidak nilai-nilai p[endidkikan dan pengajaran yang ada di dalamnya untuk kebaikan dan kemasalahatan kita juga. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman