Selasa, 11 Januari 2011

Menutup Tahun di Langkawi (3)

Yang ketiga dari tiga tulisan (habis)

PULAU Langkawi tujuan awal menutup tahun sudah kami lalui, Sabtu hari pertama 2011, pagi hari. Waktu pendek di pulau itu ternyata menyisakan kenangan panjang di hati kami. Malam ini, Sabtu Malam Minggu (1/1/11) kami akan menikmati suasana awal tahun baru di KL pula. Dan pendeknya waktu di Langkawi pun akan berlaku juga bagi kami di kota ini.Waktu-waktu kami harus lebih banyak di bus dalam perjalanan Langkawi- KL yang cukup jauh.
Jadwal memang hanya semalam di KL. Itu bahkan jauh lebih pendek dari pada di Langkawi. Besok Minggu, pagi-pagi kami harus meninggalkan KL akan kembali ke Indonesia (Karimun, Kepri) via Kukup, Johor Baru lagi. Mengapa harus pagi? Karena rombongan juga akan singgah barang satu-dua jam di Nilai 3, lokasi syurga orang berbelanja dengan harga murah di Malaysia ini. Minggu sore adalah masa akhir yang kami miliki di Malaysia. Kami harus kembali ke Indonesia (Karimun) dengan fery terakhir agar besok Senin kami dapat kembali masuk kantor atau sekolah.
Namun pendeknya waktu, bukanlah alasan menakutkan untuk menikmati ujung tahun menjelang tahun baru. Untuk beberapa orang anggota rombongan yang sudah beberapa kali ke Malaysia atau ke lokasi wisata lain, perjalanan ini tetap saja istimewa. Apalagi buat yang untuk pertama kali ke luar negeri, sangat-sangat istimewa perjalanan wisata ini, tentunya.
Jadwal pertama kami di kota KL adalah tentu saja melihat menara kembar (Petronas Tower) di KLCC. Menara ini sudah sangat terkenal ke mana-mana. Diantara sekian banyak menara tertinggi di dunia dia termasuk salah satu yang tertinggi. Sampai tahun 2004, sebelum muncul menara Taipei dengan ketinggian 508 meter selesai dibangun, menara kembar Petronas Tower adalah yang paling tinggi di dunia mengalahkan menara-menara tertinggi yang selama ini selalu berada di Amerika atau di kawasan benua lain. Petronas Tower sendiri mempunyai ketinggian 452 meter. Itu yang kita baca di buku-buku referensi. Dan saat ini menara ini menduduki rangking ketiga karena muncul menara Gedung Burj Dubai, Uni Emirat Arab.
Di malam hari seperti ketika kami datang berwisata ini, kami hanya melihat-lihat gedung pencakar langit KL ini dengan rasa kagum. Tidak ada di antara kami yang dapat memasuki dan naik ke atas menara itu. Dulu, beberapa tahun lalu ketika saya sempat berkunjung di awal diresmikannya menara kembar ini, dan masyarakat berkesempatan menaiki gedung ini, alhamdulillah waktu itu saya dan beberapa rekan dapat naik ke atasnya. Dengan membayar beberapa ringgit, kita dapat naik ke atas dan melihat kota KL dari tempat yang begitu tinggi. Saat itu, saya sudah merasakan berada di lantai atas menara petronas itu. Namun dalam kunjungan yang terburu-buru ini, kami memang tidak berkesempatan naik ke atas sana. Kami hanya menikmati toko-toko mewah dengan produk-produk mewah juga. Jika tidak berbelanja, ya sekedar cuci mata. Maklumlah, hari sudah agak malam.
Sampai pukul 21.30 WM kami masih di seputar menara kembar untuk bersiap-siap pergi ke kompleks Putra Jaya, lokasi gedung-gedung pemerintahan Malaysia. Kami hanya menjadwalkan dua lokasi itu saja untuk malam singkat ini. Hanya satu malam saja. Sampai di KL di waktu magrib (menjelang isya), eeh besok pagi harus sudah berangkat meninggalkannya. Jadi, hanya semalam di KL. Bukan semalam di Malaysia seperti lagu yang sangat terkenal itu.
Waktu malam di seputar lokasi Putra Jaya juga tidak terlalu memuaskan. Suasana malam yang sudah gelap tentu saja membatasi mata kami untuk melihat pemandangan lebih jauh. Padahal di lokasi yang begitu luas itu kami ingin menyaksikan berbagai pemandangan: alam, gedung-gedung, masjid Putra Jaya dan banyak lagi. Itu semua enaknya disaksikan tentu saja pada waktu siang. Namun apa boleh buat, jadwal perjalanan kami memang sangat singkat berbanding keinginan kami.
Setelah turun dari bus --disepakati kurang lebih satu setengah jam-- kami berjalan ke sana kemari. Mata kami lebih banyak tertuju ke salah satu arah, tempat berlangsungnya bazar yang diadakan di sepanjang jalan sebelah kanan masjid Putra Jaya. Di sini dijual berbagai macam, dari pakaian, gambar-gambar untuk cendra-mata hingga berbagai jenis makanan. Kedai-kedai lain tampaknya sudah mulai ditutup. Sebagian stand bazar ini pun sudah ditup.
Di antara kami ada yang melihat-lihat pakaian jadi yang dipajang di situ, ada pula yang tertarik dengan aneka aksesori yang mungkin bisa menjadi oleh-oleh. Tapi yang membeli makanan dan minuman juga ada. Inti kehadiran kami tentulah untuk berhibur berrekreasi menyambut tahun baru. Berbelanja atau tidak, tentu terpulang kepada masing-masing. Yang saya lihat, gairah berbelanja teman-teman masih cukup tinggi.
Hingga larut malam kami baru meninggalkan taman Putra Jaya. Waktu sependek itu, meskipun terasa sangat singkat namun kami merasa memadai untuk sekedar bermalam Minggu di awal tahun baru itu. Kami harus menerima kenyataan waktu singkat. Tapi kami merasa perjalanan empat hari di Malaysia saat ini akan memberi kesan dan kenangan panjang bagi kami. Pasti banyak kenangan yang sudah dilalui.
Sebegitu banyak yang dapat melegakan hati kami, salah satunya adalah selalu tersedianya sarana prasarana dan fasilitas pendukung pariwisata ini. Perjalanan senantiasa lancara kemanapun kami pergi. Tidaklah salah jika pengelolaan yang profesional terhadap tempat-tempat (tujuan) wisata juga diterapkan di Indonesia, khususnya di Karimun. Jika tempat=tempat wisata yang cukup banyak di Karimun terkelola dengan baik, fasilitas pendukung tersedia dengan baik, akan banyaklah pengunjung (turis) datang. Masyarakat Malaysia, Singapura atau Thailand yang selama ini sedikit banyak sudah datang, tentu akan lebih banyak lagi jumlah yang akan datang. Semoga.
(Mohon maaf, ada banyak poto-poto pendukung tulisan ini, namun tidak/ belum tertampilkan di sini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan