Selasa, 25 Juli 2017

Dalam Kekurangan Aku Melakukan (10)

INILAH tentang kebiasaan saya, mengajar mengaji (mengajarkan membaca alquran) di mana saja  saya bertempat tinggal. Baik di Tanjungbatu, ketika saya pertama kali menjadi PNS, 1984-1985-an atau di Moro, ketika pertama kali saya dipercaya memimpin sekolah --meski baru status wakil Kepala Sekolah Pembina, waktu itu-- 1994-an dan atau di Tanjungbalai Karimun, tahun 2002 saat saya pertama kali dimutasi ke ibu kota kabupaten, Tanjungbalai Karimun.

Periode 1985 hingga 2002 awal mutasi menjelang 2004 awal, ketika saya pindah rumah ke Wonosari, Meral saya juga masih mempertahankan kebiasaan mengajarkan membaca alquran kepada anak-anak tetangga atau siapa saja. Dan ternyata ada teman-teman yang mengamati kebiasaan saya ini. Itulah sebabnya, itu menjadi salah satu catatan saya dalam rangkaian catatan panjang tentang 'Dalam Kekurangan Aku Melakukan' ini. Teman itu, Supriadi namanya, pernah mengatakan begini kepada saya, "Pak, satu hal yang saya kagumi dari Bapak adalah bahwa di setiap tempat bapak tinggal, bapak selalu mengajar mengaji, anak-anak tetangga disamping anak sendiri." Saya tentu saja terkejut sekaligus haru diperhatikan begitu. Kata Supriadi lagi, dia juga mendapat informasi dari orang lain ketika bertempat tinggal di tempat lain, juga selalu mempunyai murid mengaji.

Pindah ke rumah di Wonosari ini adalah rumah pertama dan pertama kali berumah sendiri selama di Kepulauan Riau ini, sejak 1985 saya bermastautin di kepulauan ini. Awal menjadi guru, saya memang tidak memaksakan membangun rumah di 'rantau orang' karena waktu itu masih berpikir untuk kembali ke Pekanbaru jika bisa mutasi kerja. Itu jua sebabnya saya membangun rumah di Ibu Kota Riau itu sebagai antisipasi jika saya benar-benar pindah, 'pulang kampung'. Tapi mutasi itu tidak pernah terjadi. Saya berpindah tugas hanya di sekitar pulau-pulau di Kabupaten Karimun saja.

Sesungguhnya kebiasaan saya menjadi guru mengaji, sudah saya lakukan sejak lama, ketika awal saya menjadi mahasiswa di Pekanbaru (1978), misalnya. Bahkan boleh jadi ini adalah kelanjutan kebiasaan saya sejak awal remaja, ketika awal saya bermastautin di Pekanbaru (1976) atau di kampung kelahiran, Kabun Airtiris, Kampar. Kebetulan ketika di kampung, dalam usia menjelang atau belum remaja saya sudah menjadi guru mengaji adik-adik yang lebih kecil dari pada saya (yang masih belajar muqaddam) waktu itu. Saya sendiri, dalam usia menjelang remaja (pasca tamat SD dan melanjutkan pendidikan di PGA-P Rumbio) sudah mampu membaca alquran dengan baik. Maka sesuai tradisi di surau (kampung) harus mengajar adik-adik (usia SD) yang masih belajar awal alquran. Itulah mungkin awal saya menjadi guru mengaji.

Ingat saya waktu di kampung itu, karena saya dan beberapa teman sebaya saya sudah lancar membaca alquran dan sudah masuk kelompok pembaca lanjutan dengan pelajaran membaca alquran tingkat seni baca alquran waktu itu maka saya otomatis membantu teman-teman yang belum lancar membaca alquran. Itu pengalaman menjadi guru di surau dan itu adalah pengalaman awal menjadi guru dalam hidup saya. Dan ketika saya sudah remaja saya meneruskan mengajar di surau ini, milsanya ketika saya melanjutkan pendidikan di Pekanbaru, di PGAA atau kuliah di Unri.

Ketika saya masuk Pekanbaru karena melanjutkan pendidikan di PGA pada tahun 1975 saya tetap menajdikan kemampuan mengaji (membaca alquran) sebagai kebiasaan bahkan mulai menjadi topangan hidup saya. Saya menjadi gharim atau noje di masjid adalah dengan andalan sedikit-banyak karena kemampuan mengaji. Bahkan itulah ketika sudah menajdi mahasiswa saya pun mengajar mengaji anak-anak salah seorang dosen FKIP, Ibu Nurmi Khatim, SH.

Kurang lebih tujuh atau delapan tahun saya hidup di Pekanbaru (dua tahun di PGA dan lima tahun lebih) di Universitas Riau, selama itu pula saya tidak pernah meninggalkan tradisi mengaji dan mengajarkannya sekaligus kepada orang lain yang ada di sekitar saya bertempat tinggal. Pada awal di Pekanbaru, saya menumpang tinggal di rumah abang seayah (Bang Bakaruddin) yang waktu itu menjadi guru di Pekanbaru. Hanya beberapa bulan saja, lalu saya hidup belajar mandiri dengan tinggal di masjid. Waktu itu (1975/ 1976) saya membantu Thabrani yang saat itu menjadi gharim di masjid  yang ada di Jalan Kenanga, Pekanbaru. Hanya beberapa bulan bersama sahabat ini, sampai akhirnya saya pindah ke surau Senapelan (Jalan Riau) bersama seorang teman saya yang lain yang kebetulan namanya sama dengan saya, M. Rasyid. Sebenarnya dialah gharim (yang diberi honor) di surau itu. Saya hanya membantunya sekaligus menumpang tempat tinggal sambil sekolah.

Beberapa bulan di surau ini, akhirnya saya mendapatkan masjid sendiri di Jalan Mangga, Sukajadi. Itulah Masjid Alkhairat, masjid yang menjadi awal saya mandiri sekaligus masjid yang mengakhiri status menumpang yang selama ini melekat pada saya sebagai gharim. Di sinilah saya digaji (diberi honor) atas tugas saya menjadi gharim. Dan di sini pula saya merasakan kemandirian untuk mewujudkan harapan. Belajar dan mengajar mengaji semakin instensi saya lakukan karena akhirnya menjadi bagian penopang hidup saya selama menuntut ilmu di Pekanbaru.

Selepas kuliah (1983) dan menjadi guru PNS pada tahun 1985 dengan tempat tugas ke Pulau Kundur (Tanjungbatu) itu, tradisi menjadi guru mengaji tetap saya lakukan. Ketika bujangan mengajar anak orang lain. Ketika saya sudah memiliki momongan, saya tentu saja mengajar mengaji anak saya sendiri. Begitulah, ketika saya pindah ke Moro (1994-2001) dan mulai hidup di Tanjungbalai Karimun karena dimutasi lagi (2002), saya tetap meneruskan kebiasaan ini. Dan ketika anak-anak saya sudah dewasa, plus pekerjaan (tugas dinas dan sosial) yang kian menyita waktu (2004 dst) barulah tradisi mengajar mengaji bagi anak-anak yang ada di sekitar tempat tinggal itu saya hentikan. Bahwa ada teman yang memperhatikan kebiasaan saya itu, itu membuat saya haru.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan