Jumat, 05 Desember 2014

K13 Berubah Lagi?

MEMBUKA presentasinya di depan peserta workshop bertema "Kondisi dan Alternatif Peningkatan Daya Saing dan Kebahagiaan Masyarakat Karimun" di ruang rapat Kantor Bupati Karimun, Prof. Dr. Eko Supriyanto mengemukakan dua pernyataan yang saling bertolak belakang. Pernyataan pertama, dengan mengutip pendapat mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh, kata sang profesor, pendidikan kita sudah sangat bagus saat ini. Sudah  berjalan di relnya yang benar.

Pada sisi lain, dengan mengemukakan pendapat Menteri Pendidikan saat ini, Dr. Anies Baswedan, pak prof mengatakan bahwa pendidikan Indonesia saat ini sedang dalam keadaan gawat darurat. Wow, sungguh membingungkan kita. Pak M. Nuh yang baru beberapa hari meninggalkan kkursi yang diduduki Pak Anies dengan bangganya menyebut keadaan pendidikan Indonesia yang baik-baik saja. Penerapan K13 yang sudah dimulai secara terbatas pada TP 2013/ 2014 dan wajib dilaksanakan penuh pada TP 2014/ 2015 (termasuk kelas XI)  yang kemarin belum mendapatkannya.

Lebih jauh Pak Prof. Eko menjelaskan perselisihan pandangan kedua tokoh itu. Jika M. Nuh menyebut K13 akan mengantarkan anak-anak muda Indonesia ke jenjang terbaik justeru Pak Anies menyebut kalau K13 itu justeru menyisakan masalah besar dalam implementasinya. Berdasarkan evaluasi oleh tim yang ditunjuk oleh Anies Baswedan, paling sedikit ada beberapa hal yang menyebabkan K13 akan bermaslah dalam pelaksanaannya.

Masalah pertama adalah ketidaksiapan tenaga guru. Pada saat kurikulum akan diterapkan, sesungguhnya para guru belum diberi penjelasan yang detail perihal kurikulum ini. Guru-guru yang akan menerapkannya di kelas sama sekali belum mendapat pelatihan untuk melaksanakannya. Hanya ada beberapa orang narasumber sebagai orang yang akan bertugas menyosialisasikannya kepada para guru. Guru ini pun bukan untuk di kelas tapi akan diberi tugas lagi untuk menjadi instruktur di daerah-daerah. Sampai batas harus melaksanakan di awal TP 2013/ 2014 lalu, sesungguhnya para guru di sekolah sama sekali belumlah siap.

Persoalan lainnya adalah ketersediaan buku dan bahan ajar dari kurikulum itu sendiri. Pemerintah tidak mampu menyiapkan buku-buku itu sampai batas seharusnya sudah ada di sekolah. Akibatnya para guru hanya meraba-raba saja dalam menerapkan K13 di sekolah. Belum lagi ketersediaan sarana-prasarana sekolah sebagai sarana pendukung. Pokoknya begitu masih banyak persoalan yang menghambat pelaksanaan K13 tersebut.

Mungkin itulah yang oleh Pak Anies disebut sebagai masalah besar. Padahal masih ada seabrek masalah pendidikan bangsa ini. Masalah itu misalnya, masih rendahnya mutu guru, kurangnya inovasi dan kreativitas guru, rendahnya semangat dan buruknya tingkat kejujuran guru dan sekolah.  Dan masih banyak lagi. Itukah sebabnya menteri baru ini menyebut pendidikan Indonesia dalam bahaya? Entahlah.

Yang justeru timbul saat ini adalah pertanyaan, apakah K13 akan berubah lagi? Apakah K13 bahkan akan dihapus saja? Pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan mengganggu konsentrasi para guru dalam melaksanakan tugas di sekolah. Ah, mari kita tunggu saja.**.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan