Minggu, 19 Desember 2010

Nilai Ujian dan Mental Korup

UJIAN semester ganjil Tahun Pelajaran (TP) 2010/ 2011 telah usai Sabtu (18/ 12) lalu. Tugas guru berikutnya adalah mengoreksi lembaran jawaban ujian anak (para siswa) yang menjadi tanggung jawab masing-masingt guru sesuai dengan Mata Pelajaran (MP) yang diampu. Suka tak suka, tugas mengoreksi yang cukup menyita waktu dan pikiran guru, wajib tetap dilakukan.

Bahwa dulu ada guru yang ternyata tidak melakukan koreksi terhadap ujian anak dengan alasan begitu merepotkan, kini tentu tidak boleh ada lagi guru berperilaku seperti itu. Itu adalah perilaku tidak bertanggung jawab.Tugas mengoreksi itu wajib. Sama wajibnya dengan tugas mengajar itu sendiri.

Buat guru yang meskipun dengan penuh tanggung jawab melaksanakan tugas mengoreksi lembaran jawaban anak, masih ada satu godaan 'jelek' yang perlu diwaspadai. Buat guru yang tidak kuat pegangan, godaan 'jelek' ini dapat menjerumuskan, bukan saja anak-didik akan tetapi juga guru itu sendiri. Godaan apa? Itulah memberi nilai yang tidak objektif disebabkan malasnya guru mengolah nilai anak dengan benar.

Benar ujian dilakukan dengan objektif: soal objektif, koreksi awal (nilai mentah juga objektif, karena dikoreksi silang) namun itu saja tidak menjamin nilai akhirnya akan objektif. Hal itu bisa terjadi jika guru tidak berlaku objektif dalam memutuskan nilai akhitr anak.

Mengapa? Karena terkadang anak yang kurang mampu --nyata nilai harian dan nilai murninya rendah, misalnya-- tapi karena hubungan kekeluargaan dan mungkin karena hubungan tetangga, bisa saja guru memberi nilai tidak sesuai dengan kemampuannya. Mungkin nilainya ditinggikan dar pada seharusnya.

Sebaliknya buat anak yang sesungguhnya mampu, justeru diberi nilai akhir rendah karena tidak ada hubungan tertentu. Nah ini sangat berbahaya. Berbahaya, karena akan membuat mental anak terbangun menjadi bermental korup. Dan kelak setelah dia menamatkan pendidikannya dia akan menjadi orang yang terus bermental korup.

Dapat diduga kelak apa yang akan terjadi pasca pendidikan yang dilalui begini. Besar kemungkinanan jika dia menjadi pegawai atau pejabat suatu hari nanti maka dia akan melakukan perbuatan korupsi.
Apa guru mau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan