Kamis, 25 Maret 2021

Catatan Kegiatan STQ Kabupaten Karimun 2021 (3)

AJANG MTQ (Musbaqoh Tilawatil Quran) atau STQ (Seleksi Tilawatil Quran) selain untuk lomba (musbaqoh) alquran, juga mengandung nila-nilai silaturrahim. Baik silaturrahim antara peserta dengan panitia dan dengan pengunjung atau antar peserta yang berbeda daerah juga antara sesama Dewan Hakim (juri) musabaqoh sendiri. Tidak mustahil pula silaturrahim akan kembali terjalin dengan masyarakat lain.

Berkumpulnya para peserta se-Kabupaten atau lebih luas, se-Provinsi atau Nasional, para juri dan masyarakat lain yang ikut terlibat memungkinkan terjalinnya silaturrahim antara satu orang dengan orang lainnya. Helatan musabaqoh yang melibatkan banyak orang atau kelompok orang sudah jelas akan Dan pengalaman saya di momen STQ kali ini benar-benera terasa istimewa. Silaturrahim dengan orang-orang yang membangkitkan kembali ‘kebersamaan’ lama membuat. Setidak-tidaknya dua orang yang saya jumpai pada kegiatan ini terasa begitu penting. Saya bertemu salah seorang Dewan Hakim yang tahun 2006-2007 lalu kemi mengukir catatan penting. Begitu pula dengan Darmawan yang tahun 1994 masih menjadi siswa saya tapi kini sudah menjadi orang penting dalam kesehariannya.,

Duo Rasyid di Arafah

Sebagai salah seorang Dewan Hakim, saya berkesempatan bersilaturrahim dengan rekan-rekan sesama Dewan Hakim (juri mengaji) lainnya. Tahun ini ada 75 orang Dewan Hakim yang terlibat untuk menilai dua cabang lomba yang diperlombakan dalam STQ Tingkat Kabupaten Karimun. Berbanding jumlah Dewan Hakim tahun sebelumnya, tentu saja jauh berkurang. Jumlah juri itu disesuaikan dengan jumlah cabang dan golongan musabaqoh yang dilombakan pada tahun ini.

Ada pengalaman menarik saya selama mengikuti kegiatan STQ (Seleksi Tilwatil Qur'an) Tingkat Kabupaten Karimun di Kundur, 15-18 Maret 2021 ini. Kebetulan saya oleh panitia ditempatkan satu kamar dengan Ustaz Abdul Rasyid, Lc di Hotel Gembira. Saya dan Ustaz Rasyid adalah dua dari 75 orang Dewan Hakim STQ Kabupaten Karimun tahun ini. Semua Dewan Hakim diinapkan di hotel ini. Kami berkesempatan lebih banyak untuk berbicara di luar tugas-tugas sebagai Dewan Hakim STQ, tentunya.

Ustadz Rasyid adalah salah seorang Dewan Hakim MTQ/ STQ Nasional yang bertempat tinggal di Batam. Setiap tahun pada kegiatan MTQ Tingkat Kabupaten Karimun, teman-teman Dewan Hakim yang bertempat tinggal di Batam dan di Tanjungpinang juga selalu diminta untuk menjadi juri mengaji selama MTQ di Kabupaten Karimun. Selain Ustaz Rasyid biasanya juga ada Ustaz As'ad Majid (baru saja berpulang ke rahmatullah), Ustaz Junaidi Jumah, Ustaz Mansyur (Tanjungpinang) dan beberapa nama lain sesuai kebutuhan kabupaten.

Ajang MTQ/ STQ sebagai ajang silaturrahim sesungguhnya dapat berlangsung dengan masyarakat lainnya selain dengan dan sesama para peserta, juri, panitia MTQ/ STQ sendiri. Saya sendiri, selama empat hari berada di Tanjungbatu yang dulu pernah selama 9 tahun saya menjadi guru di sini (1985-1994) maka kesempatan bersilaturrahim itu terasa sangat luas. Saya berkunjung dan bertemu dengan orang-orang yang dulu pernah bersama. Tapi dengan sesama Dewan Hakim (bersama di hotel yang sama) tentu saja banyak kesempatannya. Dan dengan Ustaz Rasyid, Lc tentu saja lebih dekat lagi karena kami berada dalam satu kamar. Kesempatan berbicara, itu pasti lebih banyak lagi.

Setelah beberapa hari saya dan Ustaz Rasyid bersama, tentu saja kami ngobrol banyak hal di luar kegiatan STQ. Tiba-tiba kami juga berkisah tentang pengalaman tahun 2006/2007 yang lalu, saat kami kebetulan sama-sama menunaikan ibadah haji pada musim Haji 1427 H itu. Inilah kesan dan kenangan yang tiba-tiba menyita rasa haru saya selama berlangsungnya STQ di Tanjungbatu tahun ini. Kisah 'doa rasyid' serasa terulang kembali.

Ada dua topik yang membuat obrolan saya dan Ustaz Rasyid menyita haru saya. Pertama ketika kami kembali berkisah tentang 'haji akbar' yang kami alami di tahun 2006-2007 itu. Kok tahunnya dua? Kebetulan musim haji 1427 itu berada dan dimulai di akhir tahun 2006 dan titik puncaknya berada di awal tahun 2007. Jadilah seolah tahun itu kami berhaji selama dua tahun. Berangkat 2006 dan kembali pada depannya, 2007.

Kisah berhaji tahun itulah yang membuat kami menelangsa ke masa 14-an tahun lalu itu. Inti kenangan itu adalah karena kami berdua waktu itu oleh penanggung jawab keloter yang jumlah jamaahnya sebanyak 450-an orang (satu pesawat SA) diberi peran khusus dan cukup penting. Ustaz Rasyid ditunjuk sebagai khotib untuk solat zuhur (jumatan) di puncak wukuf itu sementara saya ditunjuk sebagai imamnya. Jadilah 'duo rasyid' itu diberi tugas khusus.

Kisah tentang berhaji yang disebut Haji Akbar (karena wukufnya bertepatan hari Jumat) itu adalah satu hal. Sementara kami berdua diberi tugas begitu berat adalah hal lainnya.

Satu hal lagi yang membuat saya terharu, itu adalah saat Ustaz Rasyid menyatakan ingin menulis dan membukukan pengalamannya. Sebagai seorang Dewan Hakim yang mengerti Tafsir fan Hadits yang juga dilombakan di ajang STQ, dia tentu sangat sayang jika tidak menuliskan pengetahuan dan pengalamannya itu. Saya haru karena ajakan dan saran untuk menulis itu adalah dari saya.

"Ustaz mesti membukukannya, agar anak cucu mengetahuinya," saran saya dalam satu obrolan pagi itu. Sebagai penyuka dan ikut menggiatkan literasi, saya memang selalu mengajak siapa saja untuk suka menulis. Selama menjadi guru dan Kepala Sekolah saya merasa wajib mengajak siapa saja untuk menulis.

Dia ternyata antusias dan tertarik ketika saya juga menjelaskan luasnya kesempatan untuk membuat buku saat ini. Begitu saya menyimpulkan dari jawabannya.

Darmawan Suka Berderma

Silaturrahim kedua yang menjadi catatan penting saya pada momen STQ ini adalah ketika bertemu seorang siswa saya di era 90-an lalu. Dia adalah Darmawan yang tamat SMA Negeri Tanjungbatu --kini bernama SMA Negeri 1 Kundur-- pada tahun 1994. Saat itu saya baru memulai tugas di SMA Negeri 1 Moro. Saya ditunjuk oleh Kepala Kantor Depdikbud (Departemen Pendidikan dan Kebudayan) Kabupaten Kepri atas usul Kepala SMA Negeri Tanjungbatu sebagai Wakil Kepala Sekolah di sekolah baru itu. Kurang-lebih 9 tahun saya menjadi guru di SMA Negeri Tanjungbatu sebelum mengemban tugas baru.

"Saya siswa Bapak. Saya bertugas sebagai LO Dewan Hakim STQ ini," katanya dalam inbox FB beberapa hari menjelang STQ. Saya berterima kasih karena murid saya memberi info itu. Dan ketika STQ berlangsung, saya langsung mengontaknya via HP yang sebelumnya sudah diberikannya. Dia pun datang dan kami berjumpa di Hotel Gembira. Bersama Darmawanlah saya dalam banyak kesempatan selama di Tanjungbatu ini. Bahkan untuk pergi dan pulang dari dan ke arena STQ, Iwan (demikian dia saya sapa) yang menjemput antar saya. Saya jarang naik mobil bus khusus untuk Dewan Hakim.

Dari ngobrol-ngobrol dengan Iwan saya dapat menyimpulkan kalau anak muda ini sudah sangat matang berpikir dan bertindaknya. Meskipun dia hanya sebagai pekerja (honorer) di sebuah lembaga, dia tidak merasa khawatir tentang rezeki. Selain dia mampu melneruskan pendidikannya hingga ke S2 secara mandiri, dia juga mempunyai isteri dan anak-anak yang wajib ditanggungnya. Tapi dia percaya saja, kalau mau berusaha selalu ada rezeki. Begitulah perinsipnya.

Saya sendiri terkejut, ketika dia menyebut pekerjaannya yang 'serabutan' tapi dia mengantar dan jemput saya dan beberapa Dewan Hakim lainnya dengan avanza milik pribadinya. Saya diajaknya ke rumahnya pada saat saya kosong tugas. Dan ternyata dia juga memelihara dan menernak lebah kelulut. Satu botol madu lebah kelulut dihadiahkannya kepada saya.

Dia bekerja begitu sibuk selama STQ karena beban tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Untuk semua tugas dan tanggung jawab itu, katanya dia lakukan dengan ikhlas saja. Artinya, dia tidak pernah meminta kepada kami Dewan Hakim ongkos atau uang minyak mobilnya. Dia malah berkisah tentang tugas dia mengurus jamaah calon haji dan jamaah haji Kecamatan Kundur beberapa waktu lalu. Dan hingga hari ini dia malah terus dipercaya mengurus IPHI di sana sementara dia belum berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima itu. "Ini ibadah saja, Pak." Begitu dia bersikap.

Saya tentu bangga. Darmawan yang suka membantu orang lain. Suka memberikan kebaikan kepada orang lain. Artinya dia suka berderma kepada orang lain karena sikap suka membantu orang lain itu. Jujur, bagaimana rasanya bangga di hati guru menyaksikan langsung siswanya begitu murah hati dan ringan tangan kepada orang lain. Semoga sikap itu dapat terus dipertahankannya. ***
Juga di www.terbitkanbukigratis.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri Komentar

Postingan Terbaru

MUI Kecamatan Meral Barat Laksanakan Raker

BERTEMPAT di Balai Nikah, KUA (Kantor Urusan Agama) Kecamatan Meral Barat, Selasa (09/12/2025) pagi telah dilaksanakan kegiatan Rapat Kerja ...