Selasa, 19 Desember 2017

Perbarukan Informasi dengan Membaca Setiap Hari



MEMBACA setiap hari? Ya, itu mesti. Harusnya menjadi salah satu kewajiban, kewajiban pribadi, kewajiban kita masing-masing diri. Bukan membaca sekadar isengan atau sekadar mengisi hari dan waktu kosong yang dianggap tak berarti. Sejatinya, bukan membaca kaena menganggap waktu yang karena tiada kerja. Membaca, ya membaca karena memang sudah dalam rencana.


Tapi apakah sudah begitu? Nyatanya, memang belum juga. Tak usah bertanya ke kanan-kiri. Tanya saja diri sendiri, jawabnya seragam: kita malas membaca. Kita belum menjadikan membaca sebagai kewajiban pribadi yang diatur dan waktunya diatur tersendiri. Jangankan diwajibkan sebagai sebuah kewajiban, sekadar mengisi waktu kosong saja juga ternyata belum terealisasi.

Banyak info data dan fakta yang mendukung kesimpulan ini. Kita (bangsa kita secara umum) konon masih sangat sedikit yang menjadikan membaca sebagai kegiatan rutin tertata rapi sebagaimana orang bekerja untuk mencari rezeki. Membaca, begitu rendah tingkat kemauan dan kenyataan pelaksanaannya. Kita masih berada pada posisi paling belakang di antara negara-negara yang ada dalam sikap dan kemauan membaca. Bayangkan, 62 negara yang disurvei, Indonesia masih berada pada angka 61. Sedih? Itu hasil survei.

Sudah saatnya berubah. Menjalani masa libur sekolah ini, guru dan siswa tentu memiliki waktu yang lumayan banyak untuk mengubah ini. Maksudnya mengubah sikap anti membaca dengan sikap ingin membaca. Selalu menggunakan waktu untuk membaca. Waktu-waktu yang kita maksud tentu saja waktu-waktu yang tidak mengganggu waktu-waktu yang sudah diperuntukkan untuk kerja-kerja lain. Maka membacalah setiap hari.

Membaca setiap hari, maksudnya tentu bukan setiap hari dengan alokasi waktu yang sedikit sekali. Misalnya, saban pagi dalam lima menit saja lalu berhenti. Itu terlalu sedikit. Alokasikanlah lebih banyak dari pada sekadar isengan itu. Sesungguhnya tanpa libur sekolah pun, kita masih tetap mengalokasikan waktu kita untuk membaca. Seperti kita (muslim) mengolakasikan waktunya untuk membaca alquran. Mungkin jadwal rutinnya setiap selesai solat selama kurang-lebih 30 menit atau kurang dari itu. Jika pun tidak setiap waktu solat, sekurang-kurangnya rutin per solat magrib dan subuh, artinya ada dua kali jadwal rutin membacanya.

Membaca tulisan, artikel atau buku apa saja sebagai bagian rutin jadwal membaca mestinya juga dijawal seperti membaca alquran. Waktu-waktunya juga bisa fleksibel, kapan saja. Intinya membaca itu haruslah sebagai bagian hidup kita sehari-hari. Dan jika kita bepergian dengan jewa waktu kosong sering banyak, isilah waktu untuk membaca. Tidak lagi bercerita ke sana-sini seperti kebanyakan orang kita kalau bepergian.

Itu adalah sisi waktu yang menjadi dasar untuk menajdikan rutinitas membaca sebagai sebuah kegiatan. Apapun bisa kita baca dalam waktu yang sudah kita sediakan untuk itu. Kita akan terus ingat, jika waktunya maka kita akan membaca. Ini seperti kita meminum obat. Tiba masanya, kita melakukannya.

Jika tidak lamanya waktu yang menjadi patokan, pakailah patokan isi atau materi sebagai dasar menentukan berapa banyak atau berapa lama kita membaca. Katakanlah setiap periode per hari kita wajib membaca satu atau dua bagian buku atau media bacaan lainnya, maka wajibkanlah patokan itu.

Membaca itu penting karena akan terus terbarukannya informasi yang kita ketahui. Tapi informasi akan terhenti jika tidak disampaikan lagi kepada orang-orang di kanan-kiri atau orang-orang dimanapun yang ingin mengetahui. Maka berbicaralah atau menulislah dari apa yang kita ketahui. Membaca dan menulis adalah dua aktifitas literasi yang sangat penting dalam perkembangan dan kemajuan informasi. Dan informasi adalah kebutuhan pokok yang saat ini statusnya sudah sama dengan kebutuhan makan dan minum. Bisakah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan