Rabu, 13 Januari 2016

Dalam Kekurangan Aku Melakukan (4)

SELAIN beberapa catatan tentang kerja-kerja 'lain' yang sudah saya paparkan itu, saya juga mempunyai beberapa catatan 'pengalaman' yang menurut saya rada lucu  tapi mungkin jelek bagi  orang yang akan saya ceritakan di sini. Untuk itu, akan lebih elegant jika saya tidak menyebut nama dalam memaparkan pengalaman ini. Dengan menyebut pekerjaan, secara tidak langsung sebenarnya saya sudah menyebut dengan jelas siapa yang dimaksud dalam pengalaman ini.


Pengalaman ini ingin saya slipkan di sini sebagai bagian pengalaman sekaligus bahwa 'kerja lain' itu bukan hanya kerja-kerja sosial dengan atau untuk masyarakat semata, tapi juga kerja-kerja yang berkaitan dengan diri dan keluarga saya sendiri. Menurut saya, meskipun kelihatannya saya seperti kurang penyabar dengan membeberkannya di depan umum seperti ini tapi saya memandangnya bahwa ini ada amanatnya juga kepada siapa saja yang mau membacanya.

Catatan yang ingin saya sampaikan ini adalah perihal pengalaman almarhumah isteri saya (Rajimawati) ketika dia masih menyambil sebagai penjual kue (bakwan) selain sebagai ibu rumah tangga, ibu dari anak-anak saya. Waktu itu antara tahun 1986 s.d. 1988, saya dan isteri setiap hari membuat kue bakwan untuk dijual/ diantarkan ke kedai. Sebelum masuk waktu subuh, kami berdua sudah bangun untuk mulai mengadon tepung menjadi bahan bakwan. Bahannya sangat sederhana. Hanya tepung dengan beberapa rempah seperti bawang, garam dan penyedap rasa. Dengan sebuah sendok acuan dan sebuah wajan yang kami miliki, kami menggoreng tepung itu menjadi bakwan. Selanjutnya disediakan kuahnya. Bakwan dan kuanya itulah yang diantarkan ke kedai untuk ditumpangjualkan di kedai tersebut.

Jujur saya jelaskan bahwa membuat kue untuk dijual di kedai pada waktu itu adalah bagian dari usaha tambahan penghasilan untuk menopang bahtera rumah tangga. Bukan karena tamak untuk mencari kekayaan. Tapi ini benar-benar tambahan yang dibutuhkan. Gaji seorang guru di awal berdinas --tahun 1984-- itu sangatlah tidak memadai untuk menopang belanja sehari-hari dalam satu keluarga. Maka kami memutuskan untuk berjualan kue dengan mengantarkannya ke kedai. Selain di kedai yang tidak jauh dari rumah tempat tinggal (Tanjungsari, Tanjungbatu) kami juga meletakkan bakwan itu di warung atau kantin sekolah. Saya sendiri yang membawanya setiap pagi sambil ke sekolah.

Pengalaman menumpangkan kue bakwan inilah yang menurut saya ada haru dan lucunya serta layak pula untuk dibentangkan di halaman ini. Pertama, lucu bercampur haru karena isteri seorang guru merangkap menjadi penjual kue walau kecil-kecilan. Sebagai perantau dari Pekanbaru, hidup di Tanjungbatu seperti itu tidaklah perlu merasa malu meski harus berjualan seperti itu. Kami waktu itu sudah punya perinsip bahwa untuk biaya hidup tidak boleh berutang di kedai atau di mana saja. Jangan untuk alasan membeli beras, lauk-pauk atau apa saja, lalu berutang. Ini kami pantangkan. Lagi pula, ayahanda (abah) dari isteri saya (Abd. Mutalib) sudah juga berpesan untuk hal yang sama. "Jangan biasakan berutang, nak." Begitu pesannya sebelum kami berangkat ke Tanjungbatu.

Itulah sebabnya kami mencoba berusaha kerja lain sebagai usaha penghasilan tambahan. Jika ini menyedihkan atau terasa lucu, tidaklah masalah. Saya ingat, tidak ada rasa malu kami dalam menjalankan peran tambahan sebagai penjual kue. Bahwa ada orang lain yang menyatakan perasaan simpati dan harunya kepada kami, itu tidak masalah bagi kami. Pekerjaan tambahan seperti ini nyatanya dapat memperkuat tonggak ekonomi kami. Istseri saya bahkan mampu menyisihkan sebagian hasil jualannya untuk membeli barang kemas yang dia inginkan tapi belum mampu saya belikan. Dari tabungan jualan bakwa, dia bisa membeli gelang tangan.

Lucu berikutnya adalah perasaan lucu bercampur sedih. Kok sedih? Inilah yang menarik dalam pengalaman berjualan dengan sistem menumpangkannya di kedai dan kantin sekolah. Lagi asyik dan menariknya berjualan kue bakwan, khususnya di sekolah, ada pula masalah yang pada awalnya kami tidak mengetahuinya. Saya berani mengatakan bahwa dalam kurang lebih satu tahun berjualan, bakwan yang kami tumpangkan termasuk yang laris-manis karena selalu habis. Antara 40 s.d. 50 buah bakwan yang dititipkan selalu ludes. Saya tidak tahu, apakah karena bakwan 'made in' isteri tercinta itu memang enak rasanya oleh para siswa, atau hanya karena rasa segan para siswa kepada gurunya. Kalau mengikut selera saya, ya menurut saya rasanya lumayan enak.

Persoalannya muncul adalah ketika beberapa hari belakangan menjelang ketahuan, bakwan buatan isteri saya mulai ada yang berlebih. Tidak seperti biasanya. Semakin hari jumlah kelebihannya bertambah banyak. Selama ini, yang selalu berlebih adalah bakwan yang dititipkan oleh orang lain. Di kantin yang sama memang ada tiga orang penitip bakwan. Tapi alhamdulillah, bakwan yang dibuat isteri saya selalu habis. Kini sudah mulai ada yang berlebih.

Tentu saja timbul rasa sedih saya. Saya pasti akan sedih setiap hari karena ada saja kelebihan bakwan yang dibawa pulang sepulang sekolah. Isteri saya pada awalnya sebenarnya tidak mempermasalahkan banyaknya kelebihan bakwan itu. Dia selalu mengatakan, rezeki sudah ditentukan Yang Maha Kuasa. Inilah yang membuat saya sedih dan haru.

Lama-lama isteri saya curiga juga. Masalahnya kuah bakwan yang dibuat isteri saya ternyata tetap habis seperti biasa. Hanya bakwannya saja yang berlebih. Lalu dia sekali waktu bertanya, mengapa kuahnya habis tapi bakwannya masih lebih?

Ternyata, ya ternyata inilah masalahnya. Akhirnya terjawab mengapa bakwan buatan isteri saya masih saja ada sisa? Ternyata eh ternyata bakwannya tidak langsung dipajang sejak pagi sebagaimana biasanya. Ternyata eh ternyata, bakwan lainnya sudah diletak di atas meja sementara bakwan buatan isteri saya masih disimpan dulu di bawah meja. Anehnya, kuahnya tetap dikeluarkan. Makanya kuah itu duluan habis sebelum bakwannya habis. Sedih, kan?

Ketika saya mencoba bertanya, orang kantinnya mengatakan memang seperti itu adanya. Tentang kuahnya yang habis sementara bakwannya belum habis, orang kantin menjelaskan, karena anak-anak memang merasakan kuah itu lebih enak. "Kan anak-anak tidak diatur mau mengambil kuah yang mana?" Katanya ketika saya tanya. Jadi, dia menjelaskan bahwa tdak ada yang salah perihal selalu berlebihnya bakwan kami.

Lalu, diam-diam saya suruh salah seorang siswa menjadi 'intel' untuk melihat, apakah benar bakwannya sama-sama dikeluarkan. Eeh ternyata eh ternyata, memang kecurigaan saya itu terbukti. Ketika suatu pagi itu si-intel pura-pura berbelanja dan bertanya mana piring bakwan satunya lagi, kata orang kantin, bakwannya hanya ada dua piring saja. Padahal saya tahu, hari itu bakwan tetap ada tiga pinggan. Terbuktilah kalau salah satu bakwan itu memang belum dikeluarkan.

Sesabar isteri saya, dengan kenyataan seperti itu akhirnya dia 'bersikap' juga. "Bang, sudahlah kita berhenti saja menitipkan kuenya di kantin sekolah." Itulah kata-katanya kepada saya ketika saya sudah memastikan penyebab kue kami sering tidak habis. Akhirnya isteri memutuskan untuk tdak lagi berjualan kue di sekolah. Kami hanya menitipkan di kedia di dekat rumah tempat tinggal. Bahkan es bungkus yang tadinya juga ditumpangkan di kantin sekolah, sejak saat itu juga kami hentikan. Hanya di kedai di dekat rumah itu saja kami menumpangkan jualan sekaligus menumpangkan harapan. Pekerjaan tambahan masih tetap kami jalankan walaupun tidak lagi di sekolah tempat saya memupuk harapan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman