Selasa, 24 Maret 2015

Nilai Ujian Jngan Menyesatkan

SISWA (peserta didik) yang berhasil meraih nilai minimal setara KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dalam setiap ujian, oleh guru (pendidik) dianggap sudah berhasil dalam proses pembelajaran yang dikelola. Setiap mata pelajaran yang diampu dan pembelajaran yang dikelola, selalu akan diukur secara akademis dari hasil belajar yang dicapai siswa. Semakin tinggi perolehan nilai ujian, semakin dianggap sukses pembelajaran tersebut.


Selain nilai akademis, keberhasilan seorang guru juga harus diukur dari nilai non akademis. Jika akademis merupakan bukti kesuksesan fungsi mengajar, maka nilai non akademis dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan fungsi mendidik dan atau membimbing. Jadi, selain keberhasilan mengajar, seorang guru pun dituntut untuk sukses dalam mendidik. Mengajar dan mendidik adalah dua tugas yang antara satu dengan lainnya memang tidak boleh dipisahkan.

Mengingat anggapan pentingnya nilai siswa dalam setiap ujian maka setiap guru dipastikan akan berusaha sekuat tenaga untuk memperolehnya sesuai harapan. Karena nilai-nilai akademis selalu lebih diutamakan, maka untuk mendapatkan nilai akademis ini pun guru tidak jarang justeru salah langkah dalam pelaksanaannya. Melupakan hakikat memperoleh nilai secara baik dan taat azas adalah sesuatu yang selalu ditemukan di lapangan.

Pengalaman banyak membuktikan betapa telah terjadi kekeliruan yang fatal dalam usaha memperoleh nilai akdemis. Dari beberapa peristiwa ujian yang tidak jujur, misalnya sesungguhnya ini adalah sebagai bukti betapa nilai akademis telah menenggelamkan nilai-nilai non akademis seperti kejujuran dan tanggung jawab. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam setiap ujian selalu saja ada kecurangan-kecurangan yang dilakukan. Tiada alasan yang dapat dibenarkan untuk kecurangan ini kecuali sekadar mendapatkan nilai akademis yang dianggap 'baik' itu saja.
Melatih anak-anak jujur dan kerja sama

Sekali waktu, kecurangan itu dilakukan oleh para peserta ujian (peserta didik). Di lain waktu, bisa juga para gurunya yang melakukan. Oleh peserta, caranya bisa dengan saling mencontek antara satu dengan lainnya. Bisa juga dengan membawa catatan ke dalam ruang ujian untuk sewaktu-waktu dibuka, lalu dijadikan dasar dalam menjawab ujian. Yang lebih agak canggih, kecurangan berlaku pula melalui pengiriman SMS via HP. Jarak dan tempat yang berjauhan, tidak menjadi alangan untuk melakukan kecurangan.

Tapi ada pula bukti kecurangan yang dilakukan guru. Menurut beberapa catatan dan informasi yang beredar ternyata ada informasi yang lebih seram: guru yang sengaja membocorkan soal ujian sebelum berlangsungnya ujian. Banyak alasan untuk melegalkan kecurangan ini. Salah satu alasan bahwa soal-soal itu adalah  soal-soal untuk latihan dalam ulangan, guru memberikan soal ujian yang sebenarnya akan diujikan dalam ujian resmi beberapa hari menjelang ujian kepada siswa. Cara lain, guru mengajarkan peserta didik untuk membuat catatan-catatan yang akan dibawa dalam ujian. Bagaimana membuat catatan yang baik (?) untuk dibawa ke ruang ujian sehingga pengawas tidak bisa mengetahuinya. Dan yang paling celaka, gurunya langsung memberi jawaban alias membocorkan soal ujian. Sudah menjadi berita umum, kecurangan-kecurangan seperti ini terjadi dalam UN, misalnya.

Suasana ujian di salah satu SMA
Mengapa itu bisa terjadi? Jawaban sederhananya adalah demi memperoleh nilai akademis yang memuaskan. Karena khawatir dianggap gagal dalam mengeampu mata pelajaran dan mengelola pembelajaran, dilakukanlah berbagai cara dan strategi yang sayangnya tidak menjunjung perinsip-perinsip kejujuran dan tanggung jawab. Sudah pasti hasil yang dicapai dari strategi kotor ini adalah sebuah kerusakan dan kesasatan bagi semua pihak.

Sejatinya, nilai ujian yang akan diberikan kepada peserta didik tidak boleh sampai menyesatkan. Berikanlah apa adanya saja. Dan biarkanlah mereka melaksanakan ujian sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Jika para guru tetap saja menipu siswa sekaligus menipu dirinya demi nilai, betapa akan hancurnya pendidikan bangsa ini. Yang sudah terlanjur, biarlah itu menjadi catatan saja. Ke depan, sudah saatnya berubah. Ujian memang tidak boleh menyesatkan.*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan