Jumat, 01 Agustus 2014

Sungai Kampar itu Masih Jernih (4)

LAMBAT tidur tidak dapat menjadi alasan terlambat bangun pagi. Sekitar pukul 04.00 harus sudah terbangun karena 40-an menit berikutnya sudah harus imsak sesuai waktu setempat. Waktu-waktu itu adalah saat melaksanakan sunah makan sahur untuk puasa hari itu. Dan selepas makan sahur bersiap-siap untuk ke masjid, menunaikan solat subuh.

Sesungguhnya catatan penting  pagi ini bukan pada momen makan sahur dan solat subuh berjamaah itu. Tapi yang saya tunggu-tunggu adalah mandi 'berkecimpung' di sungai Kampar yang mengalir deras tidak jauh di belakang rumah kami. Sekitar pukul 07.00 saya dan isteri pergi melihat-lihat tepian tempat mandi yang dulu waktu kecil adalah tempat mandi rutin pagi siang dan sore saya dan orang-orang yang tinggal di sekitar tepian itu. Jika dikenang, sungguh kenangan manis ketika bersama teman sebaya berenang tanpa sehelai benang pun di badan. Seumur anak-anak SD itu kami memang tidak memakai 'kain basahan' (semacam pakaian mandi) untuk mandi dan berenang.

Itu adalah kisah lama. Ketika beberapa tahun belakngan saya dan isteri (pertama) bersama dua orang anak pulang ke kampung, dan mandi-mandi di sungai nan jernih itu, kami juga mempunyai kenangan dan catatan penting. Saya ingat sekitar tahun 1992, saat anak-anak saya masih berusia 4 dan 6 tahun, kami mandi di sungai ini, ada kejadian yang membuat saya tidak dapat melupakan sungai deras itu. Saat itu, anak saya yang bungsu (Ery) tanpa saya sadari hanyut dibawa arus deras sungai. Sekitar 50 meter arah ke hulu saya melihat anak saya yang baru 4 tahun itu menggapai-gapai tangan dan sudah mau hilang tenggelam.

Ketika saya sadar anak saya hanyut, saya berlari menyusuri bibir sungai arah ke hulu. Saya meloncat ke dalam sungai dan menyelam karena anak saya sudah tenggelam menjelang saya sampai. Saya melihat dalam jernihnya air sungai itu kalau Ery sudah tidak bergerak ke arah dasar sungai. Kebetulan di sekitar itu ada tunggul pohon yang dirubuhkan air dan membuat air di belakangnya sedikit tenang. Pada air tenang itulah Ery terhenti dan tenggelam. Saya sudah pasrah dan menduga anak saya sudah tidak bernyawa lagi.

Setelah saya bawa ke tepi sungai, saya melihat mukanya masih jernih dan melihat lemah ke arah saya. Saya tunjukkan tiga jari dan saya tanya, berapa. Dia masih bisa menjawab 'tiga', alhamdulillah anak saya masih bernyawa. Saya menggendongnya ke tepian tempat kami mandi dan langsung kembali ke rumah. Waktu itu seisi rumah bagaikan memekik dan menyalahkan saya yang cuai dan tidak awas melihat anak-anak. Air sungai itu memang jernih dan deras sekali arsunya.

Kenangan itu kembali terbayang oleh saya, ketika saya dan isteri saya yang sekarang mandi bersama di sungai itu. Tepiannya tidak sama tapi sungainya masih sama. Sungainya tetap sungai Kampar yang mengalir di belakang rumah kami dan sungai yang airnya sangat jernih. Walaupun saya khawatir juga, tapi saya mandi dengan puas bersama isteri. Mata saya tetap memperhatikan isteri saya yang baru pertama dalam hidupnya mandi di sungai dan tepian ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan