Minggu, 12 Januari 2014

Sepak Bola (Dapat) Mengubah (Tradisi) Saya

SELAIN baca alquran sebentar, setiap habis subuh saya pasti buka laptop. Waktu satu jam lebih sebelum berangkat sekolah itu adalah waktu wajib membuka perangkat pintar itu bagi saya. Jika internet tidak macet maka saya akan bermain internet. Tapi jika internetnya bermasalah maka cukuplah membuka file-file lama untuk dibaca atau mengonsep file baru untuk dipublish kelak ketika internetnya sudah connect kembali.


Tradisi buka laptop selepas subuh adalah tambahan kesempatan buka laptop sebelum tidur. Waktu wajib buka laptop saya yang lainnya adalah sebelum ke peraduan itu. Sebelum mata benar-benar mengantuk maka laptop itulah yang menjadi penyebab nantinya mata benar-benar mengantuk untuk selanjutnya tidur. Isteri saya bahkan sering mengingatkan juga bahwa waktu istirahat sudah tiba saatnya walaupun dia mengerti juga kebiasaan saya ini.

Pagi Ahad (12/ 01) ini tradisi buka laptop pasca solat subuh saya langgar. Saya tidak membukanya subuh tadi. Catatan yang Anda baca ini saya tulis tepat pukul 07.30 WIB. Sudah sangat jauh dari pasca solat subuh itu. Dan memang benar tulisan ini tidak dibuat subuh tadi. Saya menulisnya setelah sempat tertidur dulu setelah subuh itu. Tradisi tidak boleh tidur setelah solat subuh pun terlanggar. Jadi, ada dua tradisi yang sekaligus saya langgar.

Tentang mengapa harus sebelum tidur dan setelah bangun tidur (selepas subuh) saya biasakan membuka laptop, ini karena di dua kesempatan itulah waktu yang pasti ada sebelum saya melaksanakan tugas rutian keseharian. Sebagai guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) waktu-waktu kosong untuk berlama-lama dengan laptop itu pasti tidak banyak. Ditambah dengan tugas-tugas sosial lainnya praktis waktu satu hari satu malam itu hampir habis untuk beraktivitas. Maka sebelum tidur dan setelah bangun tidur itulah waktu yang tersisa. Itu juga terkadang tidak bisa terlalu lama. Makanya saya memaksakan waktunya di dua kesempatan ini.

Karena sudah dibiasakan maka jika tidak terlakukan akan terasa ada yang salah. Itulah sebabnya catatan ini saya buat persis setelah mata saya terbuka kembali karena tadi saya tidur sepulang dari masjid tadi. Ini sebuah kesalahan menurut saya. Mengapa harus tidur, padahal sudah lama saya mengikuti pesan orang-orang tua-tua agar 'jangan tidur lagi setelah solat subuh' itu? Ini juga satu hal penting.

Jujur saya katakan, ini semua memang karena alasan libur yang selama ini tidak lagi saya pakai. Sudah lama saya biasakan juga, walaupun hari libur (sekolah) saya tetap bangun subuh seperti biasa dan membuka laptop baru kegiatan lainnya. Tapi pagi ini semuanya saya langgar. Ini tidak baik. Tapi harus saya jelaskan penyebabnya. 

Penyebabnya adalah karena malam tadi saya menonton sepak bola hingga terlalu malam. Saya menyaksikan laga antara Manchaster United versus Swansea di Liga Primer Inggeris. Saya memang terlalu hobi menyaksikan pertandingan sepakbola. Ini juga salah satu kebiasaan saya. Mungkin karena ketika masih muda memang suka bermain si kulit bundar itu. Dan sepakbola memang terasa begitu penting dalam hidup saya. Sepakbola memang mampu mengubah kebiasaan saya.

Kalau saya ingat di masa muda dulu, sepakbola ikut mengubah saya dari suka merokok menjadi tidak merokok. Saya ingat, semasa masih sekolah --di PGA-- saya sudah mulai terbawa-bawa teman untuk merokok. Walaupun dilarang guru tapi selalu berusaha mencuri-curi waktu untuk merokok. Rokok yang semula terasa pahit lama-lama ternyata membuat saya ketagihan juga. Dan ketika saya taman sekolah agama itu, saya benar-benar sudah ketagihan. Ayah dan ibu sudah tidak marah lagi kalau saya merokok di hadapan mereka.

Ketagihan merokok saya rasakan betul berpengaruh pada saya. Sehabis makan pasti saya utamakan merokok sebelum kegiatan lain. Saya juga diejek teman-teman di surau karena suara saya waktu mengaji sudah sangat jelek gara-gara merokok. Saya sendiri juga mulai menyesal mengapa saya menjadiketagihan merokok.

Sampai akhirnya saya ikut klub sepakbola di Kampung Bukit, Pekanbaru. Saya memang hobi bermain sepakbola. Bersama teman-teman di Jalan Riau dan Kampung Bukit, hampir setiap sore saya ikut latihan. Dan inilah ternyata yang akhirnya mengubah saya. Suatu sore, ketika latihan bersama, pelatih sepakbola itu bertanya apakah saya mau main sepakbola atau mau merokok? Rupanya dia tahu kalau saya merokok. Dan akhirnya saya memutuskan spontan untuk berhenti merokok.

Tidak mudah mewujudkan keputusan saya itu. Tapi saya sudah berjanji untuk tidak merokok. Akhirnya ketika suatu hari saya demam dan mengisap rokok terasa tidak enak maka kesempatan itu saya pakai untuk bersumpah untuk tidak merokok lagi. Saya berjanji untuk serius saja bermain sepakbola dengan risiko harus berhenti merokok. Singkat cerita, saya mampu berhenti menghisap tembau itu. Wamtu itu saya masih di semester empat di Universitas Riau.

Pengaruhn sepakbola itu pula yang membuat saya berubah pagi ini. Walaupun hanya karena menonton tapi tradisi buka laptop pasca subuh dan tidak boleh tidur sehabis subuh terlanggar lagi. Saya memang masih mengantuk karena menyaksikan Liga Inggeris hingga pukul 02.30 baru tidur. Dan menjelang waktu subuh saya harus bangun lagi. Makanya, karena hari libur, saya tertidur lagi. Sepakbola memang dapat mengubah kebiasaan saya.***

1 komentar:

Silakan

Halaman