Jati Diri

Pengantar Diri
DENGAN segala kerendahan hati, ketulusan tak berbagi dan untuk kejujuran diri, tiada salah jika informasi diri ini diungkap di sini. Yang merasa ada guna, pakailah untuk informasi dan berita. Tapi buat yang merasa  tak perlu apa-apa darinya, lupakanlah rubrik ini sekarang atau kapan-kapan saja hingga saatnya mungkin diperlukan juga.

Sesederhana apapun jalan hidup yang pernah dihadapi, terkadang diperlukan untuk diterang-benderangkan. Jangan lagi ada keraguan. Dari situ bisa jadi ada pula informasi yang diperlukan. Atau bisa jadi informasi yang kurang teliti dapat diperjelas oleh siapa saja yang merasa lebih mengetahui kejadian yang  sesungguhnya. Itulah inti pentingnya jati diri ini.

Tidak ada harapan berlebihan dari pengungkapan jati diri ini kecuali untuk memberi arti kepada diri sendiri dan kepada siapapun yang merasa memerlukan. Setiap titik dan koma, apa lagi sebuah kata hingga menjadi wacana, harapannya sama, kiranya informasi ini mempunyai arti saya atau kita semua, insyaallah.

Tentang Diri Saya
Nama saya, M. Rasyid Nur dengan sapaan cukup Rasyid saja. Saya, lelaki dengan tugas utama sebagai guru (saat catatan ini ditulis), menurut catatan terlahir di Airtiris (dulu, desa kecil di Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar) pada 11 April 1957. Catatan itu memang tak ada data pendukung autentik semacam 'akte kelahiran' misalnya, waktu itu. Tapi itu informasi yang dapat saya jelaskan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Saya baru punya akte kelahiran yang tertulis justeru dalam usia 53 tahun --tahun 2010-- karena menjelang pensiun, konon wajib punya akte; maka dibuatlah akte itu. Akte itu pun dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil dan Kependudukan Kabupaten Karimun tempat saya bermastautin dan bertugas selama dan saat ini. Akte itu bukan dari lembaga yang sama di daerah asal saya dilahirkan dulu.

Kedua orang tua saya, Nurdin (ayah) dan Sawai (ibu) hingga mengakhiri hidupnya, bertempat tinggal di Kampung Kabun, Air Tiris, Kecamatan Kampar itu. Sebagai petani, sesungguhnya kedua orang tua saya tidak berkemampuan dari segi ekonomi untuk menyekolahkan saya. Tapi dari sisi semangat dan nasehat, keduanya sangat berharap agar saya melanjutkan sekolah saya setamat SD sekitar tahun 70-an dulu. Saya ingat, ketika masih di Sekolah Dasar, ayah saya pernah mengingatkan dan berharap agar saya jangan seperti dia. Katanya, "Aku tak bisa tulis baca latin, karena tidak pernah sekolah rakyat." Jadi, dia berharap saya bisa sekolah lebih tinggi dari pada SD itu.

Itulah sebabnya, sedari kelas enam PGA (Pekanbaru) saya sudah mencoba mengais rezeki untuk menambah biaya hidup sambil sekolah di Pekanbaru. Saya bekerja sebagai 'gharim' atau penunggu masjid. Sambil memebrsihkan masjid saya juga menjadi muazzin. Selama dua tahun saya menjadi gharim masjid hingga saya memasuki semester tiga di Universitas Riau, Pekanbaru.

Sejak dan selama masih di bangku kuliah (1978-1983) di Unri (Universitas Riau = UR) Pekanbaru itu, saya juga sudah mengabdi menjadi guru. Waktu itu bertugas sebagai guru honorer di SMP (Swasta) Nurul Falah, Pekanbaru (1980 s.d. 1084). Dalam waktu yang hampir sama juga mengajar di SMA (Swasta) Nurul Falah juga. SMA ini dibuka belakangan setelah sekian lama SMP-nya ada.

Harus saya akui di sini bahwa saya mengajar selagi masih di bangku kuliah, itu disebabkan oleh kebutuhan kelanjutan pendidikan saya. Saya sangat memerlukan jaminan keuangan untuk biaya kuliah yang oleh orang tua saya sudah tidak mampu menopangnya. Orang tua sudah sejak menamatkan PGA enam tahun itu, tidak lagi mampu memberi biaya. Dan itu sudah mereka jelaskan secara terus-terang ketika saya menyatakan keinginan melanjutkan kuliah, waktu itu.

Sebagai orang yang terlahir di keluarga sederhana, melanjutkan pendidikan sampai ke Perguruan Tinggi tentu saja sesuatu yang istimewa bahkan rada mustahil. Ketika di PGA saja (1971-1977) sebenarnya orang tua sudah sangat kesulitan menyekolahkan saya. Mereka hanya memberi uang sekolah (bulanan) tanpa jajan dan mengirimkan beras dan sambal masak setiap pekan. Makanya ketika duduk di kelas lima dan enam saya sudah berusaha mencari uang sendiri dengan menjadi gharim (penjaga) masjid di Pekanbaru. Hanya ketika menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) tahun 1966- 1971 saja saya tidak terlalu menyulitkan orang tua. Itupun karena bersekolah di kampung.

Oh, ya, untuk tambahan informasi mengenai pendidikan saya, SD saya tempuh dan tamatkan di SD Negeri 07 Airtiris yang berada di Kampung Kabun, Airtiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar (sekarang sudah berubah sesuai pemekaran). Setamat SD saya melanjutkan ke PGA-P (Pendidikan Guru Agama Pertama) di Rumbio (kurang lebih tujuh kilometer dari Kabun Airtiris). Pada tahun 1975 saya tamat di kelas IV (setingkat SLTP) dan saya melanjutkan ke PGA-A (Atas) 6 Tahun di Pekanbaru. Setemat PGA Pekanbaru tahun 1977 inilah saya meneruskan pelajaran di Universitas Riau Pekanbaru.

Tahun 1983 (sekitar bulan Juni di saat Ramadhan), saya ikut ujian skripsi untuk menyelesaikan studi di Universitas Riau, tempat saya kuliah sejak 1978 itu. Menjelang akhir tahun ini saya masih tetap mengajar di sekolah di bawah naungan Yayasan Nurul Falah sampai saya ditugaskan (mendapat Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) sebagai guru Negeri di SMA Negeri Tanjungbatu, Kundur pada tahun 1984. Itulah sebabnya saya hanya mengabdi hingga tahun 1984 saja di Nurul Falah. Selanjutnya saya mengabdi di sekolah baru, daerah baru yang cukup jauh dari Pekanbaru. Itulah Tanjungbatu, Kecamatan Kundur (saat itu termasuk Kabupaten Kepulauan Riau Provinsi Riau).

Awal Saya Memimpin Sekolah
Kurang lebih sembilan tahun mengabdi di sekolah yang dibangun di tengah kebun karet milik China di sekitar Batu-4 arah Sawang itu saya diberi kepercayaan mewakili Kepala Sekolah dan memimpin sekolah baru di daerah baru Kecamatan Moro (Kepri). Di Moro yang waktu itu dikenal dengan sebutan Moro Sulit (karena segalanya memang sulit) saya memimpin sekolah yang berdiri pada awalnya atas prakarsa masyarakat Kota Moro melalui Yayasan Pendidikan Moro (YPM). Sekolah ini didirikan dengann target kelak akan dinegerikan oleh Pemerintah. Saya datang ke Moro bersama Kepala SMA Negeri Tanjungbatu, Supardjo Suk, BA dan dihadiri juga oleh Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Riau, Drs. Abdrul Rahman yang menugaskan saya mengelola sekolah baru ini. Saya merasa haru dan bangga karena langsung diantarkan oleh Kepala Sekolah Induk (Pembina) dengan didampingi oleh orang tertinggi di Departemen Pendidikan se-Kabupaten Kepulauan Riau.

Tidak mudah mengelola sekolah baru ini. Apalagi, penunjukan tugas awal hanya sekadar mewakili Kepala Sekolah SMA Negeri Tanjungbatu sebagai sekolah pembina. Status SMA Moro sebagai kelas jauh, hanya ditunjuk guru sebagai perwakilan Kepala Sekjolah saja. Selama satu tahun saya berposisi sebagai Wakil Kepala Sekolah kelas jauh SMA Negeri Tanjungbatu.

Berdiri di atas tanah kebun (kurang lebih satu kilometer dari Pelabuhan Moro) SMA Moro yang setahun berikutnya menjadi sekolah negeri dan saya dipercaya menjadi Kepala Sekolah dengan surat tugas dari Kakanwil Depdikbud Provinsi Riau, sekolah ini benar-benar baru segalanya. Meski lokal awal ini dibangun semi permanen oleh YPM namun bangunan baru yang dibiayai oleh Pemerintah, sudah berupa bangunan permanen tapi berada di tengah kebun yang semula dimiliki seorang keturunan. Setahun berikutnya barulah hadir belasan guru negeri menggantikan guru honor waktu itu. Pelan tapi pasti, sekolah ini beroperasi dengan baik.

Dari tahun 1993 hingga 2002 saya berkutat dengan SMA ini. Sebagai sekolah baru dan pimpinan baru serta rekan-rekan guru baru juga, saya dan rekan-rekan guru itu berusaha bekerja keras untuk meletakkan dasar pengelolaan sekolah yang sesuai dengan ketentuan dan oeraturan. Tentu saja tidak mudah mengelola sekolah yang jauh dari akses komunikasi dari dan ke daerah lain itu. Urusan sekolah yang mengharuskan ke Kandepdikbud di Tanjungpinang atau ke Kanwil Depdikbud di Pekanbaru, terasa sekali betapa sangat jauhnya akses informasi itu. Waktu itu, sarana telpon juga belum semudah yang diharapkan.

Kurang lebih 8 tahun saya mengelola sekolah ini, selanjutnya oleh Pemerintah Kabupaten Karimun yang sudah menjadi kabupaten otonom sejak 1999, saya dimutasi ke Pulau Karimun. Tepatnya, saya ditugaskan sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 2 Karimun. Terhitung sejak 2002 itu saya dimutasi secara resmi dari Moro ke Karimun. Saya memulai tugas baru di sekolah baru. Sebagai Kepala Sekolah baru, saya harus mampu menyesuaikan diri dengan teman-teman baru yang sudah duluan ada di SMA Negeri 2 Karimun. Para guru yang sebelumnya dipimpin oleh Drs. Yatim Mustafa, selanjutnya akan menjadi mitra kerja saya. Saya harus belajar lagi menyesuaikan diri dengan sekolah baru ini.***

Disambut Siswa Kesurupan
BEBERAPA hari setelah saya dilantik menjadi Kepala Sekolah di sekolah baru, SMA Negeri 2 Karimun saya kembali ke Moro. Untuk pindah, diperlukan persiapan yang matang. Jadi, setelah dilantik bupati di Karimun bersama beberapa rekan Kepala Sekolah yang sama-sama dimutasi, saya harus ke Moro lagi. Rumah memang sudah ada yang akan disewa di Tanjungbalai Karimun. Rumah itu adalah rumah Ibu Hj. Asmiati Sudiro yang selama ini ditempati (disewa) oleh Pak Rasudianto, mantan Kepala SMA Negeri 1 Karimun yang akan pindah tugas ke Pekanbaru. Tersebab mutasi Pak Rasudianto itu pula yang membuat Pak Yatim harus meninggalkan SMA Negeri 2 Karimun karena akan mengisi kursi yang ditinggalkan Pak Rasudianto di SMA Negeri 1 Karimun. Sebelumnya, Pak Ras (begitu dia disapa) juga pernah bertugas di SMA Negeri 2 sebelum digantikan oleh Pak Yatim Mustafa.

Ketika saya masih di Moro menjelang akan pindah rumah ke Tanjungbalai itulah saya ditelpon oleh salah seorang Wakil Kepala Sekolah, SMA Negeri 2 Karimun. Siang itu, katanya ramai sekali para siswa yang kesurupan. "Sekolah menjadi kacau dan para siswa khusus yang puteri banyak yang ketakutan." Begitu laporan salah seorang Wakil Kepala Sekolah itu. Para guru mengusulkan agar siswa dipulangkan saja. Maksudnya pada hari itu tidak usah belajar lagi.

Saya mengizinkan seluruh siswa dan guru pulang. Melalui telpon pula saya meminta rekan-rekan guru untuk terlebih dahulu mengurus para siswa yang tengah kesurupan. Dalam hati saya berkata, "Saya disambut oleh kasus siswa kesurupan." Saya kembali teringat kasus serupa yang pernah menimpa anak-anak SMA Negeri Tanjungbatu beberapa tahun yang lalu. Saya ingat, awal-awal saya menjadi guru di SMA Negeri Tanjungbatu (kini bernama SMA Negeri 1 Kundur) sekitar tahun 1986 atau 1987-an, kasus siswa kesurupan pernah terjadi beberapa kali. Kami para guru dibuat kalang kabut oleh ramainya siswa yang kesurupan, waktu itu

Bahkan ketika saya sudah bertugas di Moro saya juga pernah mengalami kasus yang sama.Salah seorang siswa tiba-tiba saja mengalami kesurupan pada saat mengikuti perkemahan pramuka. Saya ingat, itu adalah pertama kali anggota pramuka SMA Negeri 1 Moro mengadakan acara perkemahan, sekitar tahun 1994 atau 1995. Waktu itu, salah seorang anggota pramuka puteri mengalami kesurupan yang membuat kami para guru sibuk dan risau. Berbagai dugaan penyebab kesurupan bertebaran dari mulut ke mulut. Ah, benar-benar kejadian nyata yang saya alami sebagai orang yang dipercaya menjadi pimpinan sekolah.

Persitiwa siswa kesurupan di SMA Negeri 2 Karimun yang akan saya pimpin ini ternyata menimbulkan berbagai cerita dan spekuliasi. Ada cerita-cerita lucu yang saya dengar dari beberapa guru. Konon, kesurupan itu disebabkan oleh ulah Kepala Sekolah lama (Pak Yatim) yang sengaja melepaskan hantu-hantu yang selama ini ada di sekolah. Menurut kabar burung itu, Pak Yatim sengaja melepaskan hantu-hantu itu agar Kepala Sekolah baru (baca: saya) berhati-hati.

Saya hanya tersenyum saja mendengar kisah yang saya sanggap banyolan itu. ...
  (tunggu kelanjutannya...)