Fiksi

Anda yang tidak mendapatkan kumpulan cerpen DUKA CINTA DI AWAL CITA yang sudah dicetak dua kali, berikut dipostkan naskah cerpen itu di halaman ini. Selamat menikmati.

DUKA CINTA DI AWAL CITA
(Cerpen ke-1 dari 17 cerpen)

BAGAI lingkaran roda mengitari jagat, begitu pula irama cinta ini kurasakan. Dia begitu patuh pada filsafat rotasi itu. Tapi biarlah. Barangkali sampai kiamat pun kehidupan ini akan tetap mengamalkan aturan tersebut. Sekali ke atas; sekali ke bawah. . ke atas; ke bawah, ke atas lagi ke bawah lagi, dst…
..Entah laut mana lagi yang mesti kuharungi – Entah gunung mana lagi yang harus kudaki dan tantangi – Entah terjal mana lagi yang wajib kujalani – Rasanya, semua derita telah kucoba menelan biar pahit sekalipun – Semua duka telah kurasakan meskipun sakit – Tapi fajar kebahagiaan kulihat malah kian jauh – Jauuuuuh sekali – Sinar rembulan pun tambah layu di balik hitam awan – Ah cinta – Sebenarnya begitu bening dirimu – Sayang – Tapi sayang sekali – Jarak menjurang masih menganga – Dan rintangan itu ada antara kau dan aku…. aku berhenti sejenak, dan menatap wajah Yeni yang duduk di sampingku, malam itu. Untaian kalimat itu meluncur begitu saja.

Kulihat Yeni tertunduk mendengar celotehku yang agak cengeng bunyinya itu. Di depan sana, gemerisik dedaunan ditiup angin malam seperti ikut merasakan kesedihan ini. Sementara di taman langit, bintang–bintang tak lagi indah kulihat. Dan di sini, di bawah rerimbunan flamboyan, dua anak manusia sedang tercenung dan termenung memikirkan sesuatu, sesuatu yang mesti ada dalam setiap remaja. Dua insan itu adalah aku dan Yeni.

Yani memandangku. Pandangan sayu penuh arti, aku kira. Di telaga matanya, kulihat butiran bening mulai mengambang. Tapi di situ masih tetap juga kulihat danau biru yang selama ini menyejukkan hatiku. Pipi itu mulai basah. Rasanya, ingin ku kembali mengecup kening itu seperti hari–hari sebeleumnya. Namun keinginan tersebut harus kusimpan jauh–jauh ke relung jantung yang paling dalam.
Lalu kuusap–lembut bening–bening air yang berderai itu.
“Kenapa, Yen?”

Sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu kulontarkan. Aku tahu, Yeni bersedih. Bukankah lewat surat kemarin, telah kuceritakan semuanya. Apa yang ada dalam album cerita cinta kami, semuanya telah kusampaikan. Dan memang bagai tak mungkin menyatukan aku dan dia. Dan malam ini, adalah malam terakhir semua itu Yeni tentu telah mengerti karena sebelumnya telah kujelaskan.
Dia tidak menjawab.

“Seandainya masih ada bumi lain, Yen, aku akan pergi ke sana dan membawa dirimu ke situ. Aku ingin melanjutkan cerita ini hingga kita sampai ke ujung cinta yang sejuk. Tapi bukan di sini”.
Yeni masih bisu.

“Aku merasa di tanah ini tiada lagi tempat buat kita menyemaikan benih cinta. Di sini begitu gersang, rasanya. Aku khawatir, cinta ini kelak akan kering, lalu layu, dan itu berarti lebih getir dan tragis,” diam sebentar. “Dan….engkau marah, Yen?” tanyaku pelan.

Dia memandang ke ujung sana. Sementara mutiara itu masih mengalir di sudut bagian dalam matanya.
“Apakah engkau marah, Yen?” ulangku.
Ia menggeleng, pelan.

Mendadak jantungku berdebar. Aku ragu, apakah makna geleng itu. Apakah itu berarti Yeni memang merelakan kepergianku tanpa setitik pun kesan di jantungnya?. Atau Yeni menggeleng berarti melarangku pergi. Atau…..atau….yaakh…entahlah. Aku belum dapat meraba dan memahami maknanya.

Kembali aku menatapnya. Menikmati wajahnya. Wajah yang telah kukagumi dan menumbuhsuburkan benih cintaku dua tahun ini. Wajah yang kudambakan kelak, membawa cahaya sejuk dalam hidupku. Wajah yang telah kulukis dalam denyut nadiku. Pokoknya, dialah segalanya dalam hidupku. Dialah yang kuharapkan pendamping hidupku kelak jika kami telah menutup lembaran ini dengan selembar surat dari kadi. Itu tekadku sejak pertama aku mendekatinya. Sebab Yenilah yang berhasil mencairkan hatiku yang sejak lama membeku.

Aku masih ingat, sebelum aku menemukan Yeni, dua tahun lamanya aku membenci wanita. Semua wanita kuanggap sebagai yang terlalu menyakitkan. Terlalu kejam. Aku tak tahu kegagalan cinta untuk pertama, adalah soal biasa bagi setiap remaja. Benarlah apa yang dikatakan kakek–nenek, ‘putus cinta soal biasa, putus satu datang seribu’. Untuk itu tak perlu sedih.

Tapi dulu, terus–terang saja, aku memang tidak mengerti. Akibatnya, kepergian Fatmi dari sisiku karena dipaksa kawin keluarganya, membuat aku kehilangan pedoman dan tempat bergantung. Semangatku patah, seleraku buyar dan gairahku berkeping. Lucu? Tapi itulah yang kulami.

Fatmi, gadis desa yang kucintai sejak aku masih di Es Pe Ge, dulu, kini akan kawin dengan pemuda lain yang masih terbilang bertetangga denganku. Hati siapa yang tidak akan hancur. Alasannya memang masuk akal. Karena terlalu lama menanti aku yang masih sekolah, dari pada jadi ‘perawan tua’ kata keluarganya, akhirnya ia pun memutuskan hubungannya denganku.

Aku benar–benar kecewa dibuatnya. Hatiku serasa diiris. Maka sejak itu aku berjanji tidak akan main cinta lagi sebelum aku punya pekerjaan dan kedudukan. Katakanlah, jaminan in come. Aku jadi buta cinta, melupakan asmara, bahkan ada yang mengejekku pemuda sok alim. Berlagak suci. Pemuda yang anti pacaran. Tak mau mendekati suku hawa alias para ceweq; dan entah apa lagi titelku diberi teman-temanku. Namun aku tetap pada pendirianku, membenci wanita kecuali ibu dan nenekku. (Kebetulan aku tak punya saudara perempuan).

Waktu terus merangkak ke ujungnya yang entah di mana.
Lama-lama ternyata batu hatiku mulai lembut dan berubah. Kian lunak. Aku mulai merasa sunyi. Kesepian mulai menyelimuti hidupku. Hal ini semakin kurasakan setelah aku diterima sebagai guru pada salah satu Es De di kota Pekanbaru. Teman pendamping hidup mulai kurasakan perlu kehadirannya. Itu tak bisa kubantah.

Betapa bahagianya rasa hatiku ketika surat pengangkatan itu keluar dan kuterima dengan hati penuh bunga. Dan mulai sejak itu akupun mulai bertugas sebagai guru. (Menjadi guru adalah cita-citaku sejak kecil). Pagi, siang dan malam dalam pikiranku hanya ada status baruku sebagai guru. Aku ingin menjadi guru yang baik. Seperti Pak Harun, guru kelasku dulu, ketika masih di Es De. Dia adalah guru yang sangat disukai para murid. Yang penting kini, aku sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aku sudah punya gaji tetap.

Maka, hadirnya Yeni dalam hatiku setelah bertugas kurang lebih setahun langsung kuanggap sebagai keistimewaan dalam hidupku. Wanita yang selama ini kupandang sebagai musuh ternyata membuat aku setengah edan sejak pandangan pertama dengannya.
“Engkaulah wanita paling kukagumi di kulit bumi ini, Yen.” Kataku ketika untuk pertama kali aku berkencan ke rumahnya, setahun lalu. Album luka bersama Fatmi rupanya dapat juga terutup rapat. Ah, cinta memang aneh.
“Hhmm, bisa saja. Namanya saja rayuan gombal,” jawabnya sambil menyunggingkan bibirnya yang aduhai.

“Aku benar, Yen,” sedikit aku bergeser. “Apakah engkau meragukannya?”.
Berbagai topik menghiasi cerita kami. Maklum, dua remaja yang saling dimabuk asmara.
“Bagaimana, Yen. Aku ingin mulutmu berkata yang sebenarnya” Akhirnya aku minta kepastiannya. Tentang ini ia tidak menjawab.
“Aku bukan main-main, Yen. Apakah kau masih ragu?”
Dia menatap padaku.

“Jawablah, Yen. Aku ingin kepastianmu”.
“Tapi….tt….tapi aku masiiih…” ucapannya tidak sampai selesai.
“Masih apa? Masih meragukannya, gitu?” potongku.
“Aku masih sekolah.” Mukanya sedikit merah.
“O itu. Itu bukan masalah. Sampai tamat aku bersedia menantimu,” jawabku kontan. Terus terang aku memang bukan ahli merayu.
“Apakah kakak tidak terlalu lama menunggunya?”
“Kalau begitu permintaanmu?” aku ingin terenyum rasanya. Dia menyapaku dengan panggilan kakak.

Sejenak Yeni terdiam. Kemudian, “Tapi aku bukan seperti gadis–gadis lain“.
“Hmm…?” tanyaku tanpa kalimat.
“Aku anak pingit… Nanti kakak menyesal.” seperti mengeluh.
“Ohh… itu. Aku mengerti, Yen. Tapi Yen, aku tidak seperti pria yang kau duga juga, Yen. Justeru gadis seperti itulah yang kuharapkan. Dan aku yakin, orang-orang seperti kamu sudah sangat langka. Terus–terang, aku meragukan gadis-gadis yang terlalu bebas” Aku meyakinkannya dengan berbagai cara.
Lalu dia diam.

Untuk beberapa saat hening saja. Aku bergeser lagi. Bertambah dekat lagi.
“Yen” Dengan nada yang sedikit bergetar ke jantungku. Kuletakkan tanganku di bahunya.

Ia menatapku. Tapi tetap bisu. Hanya di mata itu kulihat beribu makna.
Entah dari mana gerak itu datangnya, Yeni mengulurkan tangannya. Hanya beberapa saat, diapun sudah berada dalam pelukanku. Rasanya aku tidak tahu sedang di mana aku saat itu. Dari waktu itulah pertama kali aku memeluknya.

Begitulah, waktu terus berjalan bersama cinta yang kami sembunyikan berdua. Kedua orang tuanya tidak tahu. Untuk ini Yeni memang menginginkannya begitu.
Sesungguhnya aku dan Yeni selalu berusaha agar abah dan mak Yeni tahu hubungan kami. Beberapa kali malam minggu aku juga datang ke rumah Yeni. Apakah orang tua Yeni sama sekali memang tidak tahu hubungan kami? Atau mungkin pura-pura tidak tahu?
Setahun lamanya kami membina hubungan. Tapi orang tua Yeni, terutama emaknya tidak juga pernah kulihat seperti akan merestuinya. Dia selalu sinis jika aku datang berkunjung ke rumahnya. Dan malam ini aku harus menunjukkan kepada Yeni, bahwa aku juga bisa berbuat walaupun dengan menelan kepahitan untuk kedua kalinya, tekadku.
“Yen. Aku mengerti dengan perasaanmu. Tapi aku juga percaya, sesungguhnya tak ada gunanya bersedih. Toh ibumu tidak bakal merestui hubungan kita.” Aku kembali bersuara. Dan inilah problema cinta kami sebenarnya.

“Kak”. Suaranya itu bagai tersekat di kerongkongannya.
“Bila selama ini kita selalu saja bersembunyi karena kau selalu bilang takut pada orang tuamu, sebenarnya kenyataan itu saja tidaklah soal bagiku. Kalau memang orang tuamu tidak bisa menerima konsep pacaran ala jaman ini, yaakh terserahlah. Itu hak mereka. Lagi pula kewajibannya untuk selalu mengawasi anak gadisnya. Aku hanya memandangnya sebagai suatu perjuangan yang mesti kutembus demi melati yang lebih suci dan murni.”

Diam sejenak. Kami hanya saling pandang.
“Yeni pun pernah bilang, dulu. Aku mengerti kalau kedua orang tuamu adalah orang yang taat dengan ajaran agama. Alim, dan….” aku tidak melanjutkan.
“Tapi kenapa,” Yeni memotong,” Kakak seperti telah berubah?”

Tak kujawab pertanyaan itu. “Dan aku yang selalu berusaha mengunjungimu itu adalah bukti bahwa aku bukan main-main. Hanya sikap ibumu itu, Yen. Memedihkan. Aku sadar, yang kubawa hanyalah cinta tulus. Bukan harta kekayaan bergelimang pulus. Kebetulan aku dilahirkan dalam keluarga miskin. Bukan seperti engkau, Yen. Dulu aku masih percaya, kalau cinta suci melebihi segalanya. Ternyata itu hanya ada dalam teori. Sedang dalam kenyataannya, harta masih tetap lebih berkuasa dari apa saja. Harta ternyata lebih berharga dari manusia itu sendiri.”

“Kak”. Yeni mendekatkan duduknya kembali. Tangannya diletakkannya di atas lututku,”Aku tak ingin mendengar perkataan itu”
“Tapi itulah kenyataannya, Yen” Aku meremas jari lembut itu dengan mesra sekali. Aku menatapnya.”Dan kau tidak bersalah dalam hal ini. Hanya kau juga mesti patuh pada orang yang telah membesarkanmu, Yen”

“Yen nggak mau, kak. Yeni akan ikut kemana saja” Lalu ia merebahkan kepalanya ke dadaku. Aku mengusap rambut panjang itu.
“Tenangkan hatimu, Yen,” bujukku.

“Tapi Yen nggak mau ditinggal.” Yeni separoh merengek dalam pelukanku. Sepertinya Yeni tidak ikhlas jika harus berpisah. Tapi aku juga kian sadar bahwa jurang antara aku dan keluarganya tidak mungkin terjangkau.

“Tapi masih sekolah, kan?” kalimat itu kuharapkan menyadarkan Yeni.
Ia terdiam. Barangkali dia teringat kata-katanya tempo hari. “Ini hanya demi nilai lelakiku di mata orang tuamu, Yen. Aku bukan mengecewakan hatimu.”
“Mungkin kakak telah lupa dengan janjinya.”

“Tidak semudah ucapan itu aku melaupakannya, Yen. Percayalah. Ini demi tugasku belaka. Aku tidak bisa menawarnya.”
“Jadi Kakak tetap pada pendirian dalam surat itu?”
“Kita jangan terlalu menurutkan perasaan, Yen. Semua ini sudah kuperhitungkan.”
Yeni diam.

“Dan satu lagi yang paling berharga bagi kita, Yen. Kiranya kita bisa menerima kenyataan ini sebagai hal yang wajar. Bukankah hidup kita masih panjang? Lagi pula, cita-cita kita mesti kita pertimbangkan.”
“Tapi…tta…tt…tapi…” akhirnya Yeni tidak bisa menahan tangisnya, meski tanpa suara. Aku memeluknya lebih kuat. Sementara Yeni berusaha menahan tangisnya dalam pelukanku.

“Sabarlah, Yen. Suatu waktu mungkin ibumu tidak akan seperti sekarang lagi. Percayalah aku berbuat ini hanya demi ketenangan hatimu jua. Tak lebih. Aku tak tega melihat kamu selalu dikucilkan hanya karena kita berhubungan. Meskipun mutasi ini bukan atas permintaanku tapi mungkin Tuhan sudah mengaturnya begitu. Barangkali untuk ketenangan kita berdua meski harus berpisah.”

“Apa jadinya hubungan yang tidak direstui orang tua. Kamu akan lebih menderita jadinya. Lebih baik kita ambil tindakan seperti ini. Mungkin untuk sementara seperti inilah kita harus menerimanya. Tapi aku percaya, hari ini tidak sama dengan kemarin. Dan esok juga tidak akan sama dengan hari ini dan lusa. Kita akan berusaha hari-hari ke depan lebih baik daripada hari-hari yang ditinggalkan. Percayalah. Jika aku sukses mungkin akan dipindahkan lagi ke kota ini.”
Sepi kembali.

“Yen. Aku mohon doa darimu. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan meninggalkan kota ini. Aku ingin pula menyumbangkan tenagaku di desa. Kebetulan aku ditempatkan di salah satu Es De Inpres di sana. Aku dimutasi ke sana untuk mengisi kebutuhan guru buat sekolah baru. Aku harap, Yeni mau memahami keadaan kita ini. Kepergianku bukan lari darimu. Tapi kepergianku ini adalah untuk mencari dirimu. Percayalah, suatu saat perpisahan ini akan ada pertemuannya.” Berhenti aku sebentar berkhutbah. Barangkali Yeni sudah terlalu puas. “Dan pertemuan waktu itu akan terasa lebih indah dari semua ini, Yen.”

Dia hanya tengadah menatapku.
“Selamat malam, Yen.” Dengan perlahan kulepaskan Yeni dari pelukanku, “daaaagg…,” aku melambaikan tangan sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
***

Halaman