Minggu, 09 Juli 2017

Indahnya Berbagi di Bulan Suci (Catatan Tersisa)

BULAN suci Ramadhan dikatakan bulan pernuh berkah, karena di bulan itu benar-benar dilihat dan dirasakan keberkahannya oleh kita semua. Catat, kita semua, bukan hanya beberapa saja atau hanya untuk kelompok tertentu saja. Berkah Ramahahn bahkan tidak hanya orang Islam saja yang merasakan berkahnya (sebagaimana anggapan selama ini) tapi berkah Ramadhan juga dirasakan oleh orang-orang non muslim lainnya.


Jika muslim mendapatkan pahala selain berbagai kemudahan yang ada di dalam Ramadhan, maka non muslim ternyata merasakan pula kemudahan lain seperti berbelanja kueh-mueh, pakaian dan lain sebagainya yang di bulan Ramadhan memang selalu lebih lengkap dan banyak barang-barangnya. Di pasar, di kedai berbagai barang kebutuhan tiba-tiba saja menjadi lebih lengkap dan banyak ketika Ramadhan tiba. Itu tentu saja sebuah keberkahan. Keberkahan itu juga adalah karena berkahnya Ramadhan yang memang dirasakan oleh semua orang.

Tapi yang mungkin lebih berkesan di bulan Ramadhan adalah kebiasaan berbagi antara satu dengan lainnya. Indahnya berbagi itu benar-benar terasa di bulan suci. Berbagi di bulan suci adalah untuk membuat hati menjadi suci, kata ustaz dalam tausiah Ramadhan di surau atau masjid-masjid yang kita dengar. Berbagi di bulan suci memang merupakan tradisi yang tidak sekadar bernilai ibadah tapi juga menjadi sebuah budaya.

Mari diperhatikan sejak Ramadhan awal datang, betapa praktik berbagi ini terlaksana dengan baik. Orang kaya cenderung gemar berbagi rezeki dengan para fakir-miskin, dhu'afa dan orang-orang yang membutuhkan lainnya. Orang berilmu begitu sangat bersemangat berbagi ilmu dalam bulan yang penuh berkah dan ampunan itu. Tausiah-tausiah terdengar dimana-mana. Tidak hanya pada malam hari (bakda Isya menjelang tarwih) tapi ada juga tausiah yang dilaksanakan selepas subuh, sebelum atau sesudah zuhur. Jadwal-jadwal itu bertambah lengkap karena di radio, televisi dan media-media elektronik lainnya juga ada kegiatan berbagi ilmu itu.

Selain harta dan ilmu, masyarakat (muslim) juga tiba-tiba gemar bersedekah jariah, mengorbankan waktunya untuk berbuah kebajikan dengan tenaga yang ada. Karena tidak memiliki harta dan atau ilmu yang mumpuni, maka bekerja dengan tenaga untuk kemaslahatan bersama, juga dapat dan sempat dilakukan. Bersedekah memang tidak hanya dengan harta dan pengetahuan saja, tapi bisa juga dengan tenaga dan daya yang ada pada diri kita.

Itulah indahnya bulan suci ini. Kecendrungan untuk berbagi benar-benar dilakukan dan dirasakan oleh hampir semua orang. Sekali lagi, tidak hanya dirasakan oleh para muslim yang mengagungkan bulan puasa, akan tetap orang-orang non muslim pun melakukan dan merasakan indahnya berbagi di bulan suci.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman