Minggu, 26 Maret 2017

USBN: Berita Duka itu Masih Ada

SAYA menyebut berita bocornya soal-soal USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) SLTA itu sebagai berita duka. Menyedihkan. Artinya bukan hanya tentang kematian seseorang yang menyebabkan kesedihan. Kecurangan ini pun amat menyedihkan. Jadi, tidak salah jika berita bocor (dibocorkannya) soal USBN itu sebagai sebuah berita duka.

Berita yang sempat dimuat di media cetak tentang bocornya soal USBN di salah satu sekolah di Kudus, Jawa Tengah sana pastilah itu bukan satu-satunya kejadian yang sama atau hampir sama. Kita juga mendengar berita yang tidak resmi bahwa masih adanya guru-guru yang sengaja membocorkan soal-soal USBN dengan motif-motif tertentu. Meskipun beritanya tidak resmi, namun itu bagaikan bunyi peribahasa, 'tidak akan ada asap jika tidak ada apinya'. 

Motivasi membocorkan soal oleh beberapa oknum guru dapat ditarik dari beberapa kemungkinan berikut, seperti 1) ingin membantu siswanya, apalagi jika siswa tersebut ada hubungan kekeluargaan seumpama adik, anak atau ponakan misalnya. Kenyataan pembocor soal UN selama ini tidak jauh sebabnya dari kemungkinan ini; 2) ingin menaikkan nama sekolah dengan asumsi jika nilai-nilai perolehan siswanya tinggi maka akan terangkatlah nama sekolahnya. Motivasi seperti inipun banyak terjadi dalam kasus bocornya soal UN di masa-masa lalu. Mungkin masih ada motivasi lain.

Di sebuah sekolah, ada informasi rahasia yang menyebutkan bahwa seorang guru di sekolah lain, justeru memberikan jawaban soal-soal USBN kepada siswa di sekolah lain. Jika ini benar, artinya ada banyak --beberapa-- guru yang terlibat (melibatkan diri) dalam kejadian ini. Pertama, seorang guru mengambil soal yang berpredikat rahasia itu sebelum ujian dimulai. Lalu dibuka dan dibuatlah kunci jawabannya.

Jawaban --haram-- ini disampaikan melalui SMS atau WA ke guru lain di sekolah lain. Kok harus ke sekolah lain? Ternyata ini masalah anak kandung. Guru (orang tuanya) menjadi guru di sekolah lain sementara anaknya menjadi siswa di sekolah lain. Tentu hanya dengan perantaan guru saja kunci jawaban itu akan sampai ke anaknya yang bersekolah di tempat lain itu.

Sekali lagi, sinyalemen ini sepertinya benar adanya. Dan saya yakin, isu yang saya dengar dari satu sekolah ini bukanlah satu-satunya kemungkinan sekolah melakukan kecurangan seperti itu. Saya sangat yakin bahwa kebocoran soal-soal USBN seperti yang ditulis koran itu bukan hanya terjasdi di satu sekolah. Artinya berita duka itu masih ada.

Lalu apa yang akan terjadi pada UN yang akan datang? Tentu kasus seperti ini juga akan terjadi lagi. Jika sekolah menggunakan sistem komputerisasi (UNBK = Ujian Nasional Berbasis Komputer) dalam UN di sekolahnya nanti, tentu sedikit kemungkinan bocornya soal. Tapi jika masih menggunakan kertas, dan mental gurunya masih tetap seperti berita-berita duka itu, maka kemungkinan bocornya soal tetap terbuka.

Sesungguhnya kita (para guru) tidak ingin berita duka ini terus-menerus ada di sekolah kita. Mari belajar dari pengalaman buruk itu. Terlalu picik cara berpikir kita jika demi nilai-nilai Mata Pelajaran kita korbankan nilai-nilai moral dan agama kita. Lebih celaka lagi, efek jangka panjang bagi para siswa (anak-anak generasi pengganti kita) itu sangatlah buruk. Pengaruh buruk itu akan menimpa mereka, bagi bangsa dan negara kita. Akankah itu dibiarkan begitu terus? Mari kita berubah. Mari kita belajar dari kesalahan selama ini. Kita pastikan di sekolah kita bahwa kebocoran soal, kecurangan penyelenggaraan ujian itu tidak boleh terjadi.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman