Kamis, 01 Desember 2016

Pesan dan Harapan Pak Kadis Baru

HARI Selasa (29/11) lalu untuk pertama kali Pak Kadis (Kepala Dinas) Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Arifin Nasir datang ke Karimun sejak dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, kurang lebih satu bulan yang lalu. Jabatan sebagai Kadis Pendidikan kali ini adalah untuk kedua kali setelah di era Pak Sani (gubernur) pernah pula memegang amanah yang sama sebelum berubah dan dimutasi sebagai Kepala Dinas Kebudayan dan Sejarah Kepri.

Walaupun kehadirannya di Karimun dalam rangka memenuhi undangan Wisuda Sarjana Universitas Karimun UK), namun Pak Kadis baru ini menyempatkan bertemu dengan para Kepala Sekolah (SMA/ MA/ SMK) se-Kabupaten Karimun setelah acara wisuda usai. Pertemuan silaturrahim itu dilaksanakan di SMA Negeri 1 Karimun karena dinilai inilah sekolah (SLTA) terdekat ke Aston Hotel, lokasi wisuda UK. Pukul 13.15 siang itu pertemuan sudah dilaksanakan walaupun beberapa orang Kepala Sekolah masih belum hadir.

Dalam pengarahannya sebelum sesi tanya jawab, Arifin Nasir mengingatkan pentingnya semua pihak (sekolah, masyarakat dan pemerintah) untuk bekerja keras dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan. Harus diakui, masih jauh perjalanan menuju mutu yang diharapkan. Kecuali beberapa sekolah dan untuk beberapa siswa, secara umum mutu pendidikan kita harus ditingkatkan karena persaingan dan kebutuhan yang akan terus juga meningkat. Begitu antara lain sari pengarahan yang disampaikan Pak Kadis.

Paling tidak (dalam catatan saya) ada empat hal pokok yang disinggungnya dalam pengarahannya, seperti 1) Wacana akan ditiadakanya UN oleh Mendikbud; 2) Tentang full day school yang juga pernah dilontarkan Mendikbud; 3) Tentang PPDB yang saban tahun selalu ada saja masalahnya; dan 4) Tentang mutasi guru dan Kepala Sekolah yang nyata-nyata akan menjadi penentu usaha peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan.
Kadisdikpro Memberi Pengarahan

Perihal berita dan pemberitaan UN yang dikatakan akan ditiadakan, Pak Kadis memberikan beberapa penjelasan. Pertama, isu UN akan dihapus itu akan menambah ketidakpercayaan Pergurun Tinggi (PT) yang selama ini tidak bisa langsung menerima tamatan SLTA kita karena menganggap UN dan hasilnya itu belum akuntabel. "Apalagi jika ditiadakan, otomatis PT akan tetap dengan kebijakannya bahwa sistem penerimaan mahasiswa baru itu tidak bisa langsung dengan penilaian sekolah saja sebagaimana seharusnya yang ditetapkan Undang-undang Sisdiknas.

Hal lain yang juga disorot berkaitan UN adalah sikap peserta didik yang bisa saja semakin tidak termotovasi untuk belajar. Dengan UN selama ini, pada umumnya siswa itu begitu khawatir akan tidak lulus, lalu berusaha belajar sekuat tenaga. Tapi dengan ditiadakannya UN bisa saja siswa akan acuh-tak acuh belajarnya. Ini jelas tidak baik untuk peningkatan mutu pendidikan. Belum lagi jika sekolah tidak mampu membuat alat uji kompetensi siswa yang akan ditamatkan. Pokoknya cukup banyak masalah yang akan muncul dengan wacaca ditiadakannya UN. Oleh karena itu, yakinlah bahwa UN itu akan tetap ada, hanya akan dilimpahkan ke daerah pelaksanaan dan pembiayaannya.

Jika mutu pendidikan benar-benar diharapkan untuk ditingkatkan maka pemetaan sekolah sangatlah perlu dilaksanakan. Pemikiran ini muncul dari diskusi antara Pak Kadis dengan para Kepala Sekolah. Dari pertanyaan para Kepala Sekolah tentang perlunya sarana prasarana sekolah yang lengkap (RKB, Laboratorium, dll), perlunya tenaga (guru) yang cukup, diskusi mengerucut kepada strategi meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dalam hal ini menurut Pak Kadis, perlu pemetaan yang jelas dan konfrehensip tentang sebuah sekolah. Apa yang dibutuhkan sekolah, seharusnya jelas dan terukur agar mudah memenuhinya.
Para Kasek Mendengar Pengarahan

Pesan dan harapan Pak Kadis tentang perlunya peningkatan mutu pendidikan sesungguhnya adalah harapan dari Kepala Sekolah juga. Sekaligus pastila harapan dari masyarakat juga. Pertemuan silaturrahim ini semoga saja mampu menjadi kesempatan menindaklanjuti harapan-harapan itu. Para Kasek memberikan penjelasan perihal sekolah, sementara Pak Kadis memberikan gambaran jalan keluar terhadap permsalahan yang disampaikan Kepala Sekolah.

Saat ini memang begitu masih banyaknya permsalahan sekolah dikaitkan dengan usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Seorang Kepala Sekolah, misalnya mengeluhkan betapa banyakna kekurangan guru di sekolah. "Satu guru harus mengajar dua atau tiga Mata Pelajaran," keluh Kasek ini dalam pertemuan dengan Kadisdikpro tersebut. Sementara Kasek lain melaporkan berbagai kekurangan yang masih ada di sekolah seperti RKB, Ruang Labor atau pagar sekolah.

Jika pendataan berbagai hal sekolah ini tidak dilakukan dengan baik, atau jika dilakukan dengan baik tapi tidak ditindaklanjuti dengan aik, tentu saja harapan peningkatan mutu yang dimimpikan itu hanya akan tetap menjadi mimpi saja. Pemetaan yang benar itu perlu, tapi tindak lanjut pemetaan itu jauh lebih perlu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan