Minggu, 06 November 2016

Menulis Papan Tulis Tanpa Kapur dan Spidul

KALAU di sekolah yang sudah maju sudah lazim penggunaan papan tulis tanpa harus menggunakan kapur atau spidul ketika menulisnya. Seperti aplikasi yang terdapat pada sebuah smartpon, menulis layar handpon cukup dengan pena khusus bahkan cukup dengan ujung jari saja. Apalagi di luar negeri yang negaranya sudah begitu maju, istilah layar sentuh sudah biasa termasuk untuk papan tulis yang ada di sekolah.

Untuk negeri 'segantang lada' alias Provinsi Kepri di beberapa sekolah juga sudah banyak digunakan papan tulis dengan layar sentuh. Tentu saja dengan perangkat komputer yang mendukung papan tulis layar sentuh terebut. Menulis papan tulis tanpa kapur dan tanpa spidul itu sudah biasa bagi sekolah-sekolah dengan dukungan fasilitas yang sudah canggih. Bahkan di Karimun pun sudah ada sekolah yang menggunakannya.
Teknisi Lagi Merakit

Untuk tahun 2016 ini ada beberapa sekolah yang mendapat bantuan Alat Bantu Pembelajaran Layar Sentuh Berbasis IT alias papan tulis layar sentuh tersebut. Yang saya tahu, ada 6 sekolah di Batam, dan lebih banyak lagi di Tanjungpinang. Karimun pun mendapat bantuan alat yang sama. Di Karimun, selain SMK Negeri di Pulau Kundur dan Moro juga ada SMA Negeri di Pulau Karimun walaupun --kabarnya-- baru dua sekolah. Dengan alat bantu pembelajaran seperti ini, para guru tidak perlu lagi menulis papan tulis dengan menggunakan kapur atau spidul seperti selama ini dilakukan. Selain tidak harus mengotorkan tangan, fasilitas seperti ini juga lebih mudah dan bebas melakukannya.

Dengan beberapa aplikasi yang ada pada alat ini, para guru sudah terbantu dalam menyiapkan bahan ajar sekaligus bagaimana menyampaikannya kepada peserta didik. Ada aplikasi dengan gambar (animasi) tiga dimensi, video, suara rekaman yang berkaitan dengan materi ajar serta yang istimewanya adalah aplikasi untuk menulis papan tulis yang cukup dengan jari saja. Dengan menggunakan ujung jari, layar sentuh ini sudah cukup untuk menggambarkan tulisan yang dibuat guru. Jika tidak ingin menggunakan jarinya, juga ada pena khusus untuk menulisnya.
Menulis Papan Tulis dengan Jari

Tentu saja sangat diharapkan kepada Pemerintah untuk, 1) memberikan bantuan secara merata kepada semua sekolah yang ada di Indonesia tercinta ini; 2) melengkapkan/ mencukupkan jumlah alat bantu yang sama untuk semua kelas yang ada di sekolah atau lebih banyak kelas yang mendapatkannya. Saat ini, setiap sekolah yang mendapat bantuan, baru diberikan satu unit saja. Tentu saja tidak atau belum memadai dengan jumlah siswa (rombel) yang ada.

Sementara di sisi sekolah, diharapkan pula kiranya, 1) sekolah benar-benar memanfaatkan alat canggih dan mahal ini dengan sebaik-baiknya agar mampu mengefektifkan pembelajaran di sekolah; 2) sekaligus tentunya sekolah harus memelihara dan merawatnya dengan baik agar nilai manfaatnya dapat ditunjukkan dan terus dipertahankan; 3) ikut memikirkan pengadaanya dengan menggalang dana dari masyarakat atau lembaga lain yang memungkinkan.

Meskipun setiap sekolah hanya mendapatkan satu saja, saat ini hendaknyalah sekolah yang mendapatkan ini benar-benar menggunakannya seefektif mungkin.  Jika perlu, dapat diimbaskan juga kemanfaatannya ke sekolah-sekolah lain yang berdekatan, semisal dalam kegiatan-kegiatan pertemuan yang bersifat kolektif. Kegiatan MKKS dan atau MGMP adalah contoh kegiatan yang dapat membuktikan kemanfaatan bersama itu. Yang penting, jangan alat yang memakan dana hampir 200 juta itu sia-sia saja di sekolah.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan