Rabu, 09 November 2016

Dalam Kekurangan Aku Melakukan (9)

BERMASTAUTIN (bertempat tinggal) di Ibu Kota Kabupaten, Tanjungbalai Karimun, ternyata sedikit banyak ikut mengubah perasaan  saya setelah begitu lama tinggal di kota kecamatan, Moro.  Merasa tinggal di kota yang lebih besar dan maju dari pada sebelumnya di Kota Moro atau bertempat tinggal di Kota Tanjungbatu, Kundur --ketika mengabdi di sana, 1985 s.d. 1994-- bahkan berbanding dengan tinggal di beberapa daerah kecamatan di Pulau Karimun di luar Tanjungbalai,  rasanya tinggal di Tanjungbalai Karimun terasa lebih bangga. Apakah ini perasaan berlebihan atau perasaan wajar bagi seorang yang baru berpindah tempat dari daerah yang relatif sepi berbanding daerah yang lumayan ramai, boleh jadi begitu. Yang pasti, saya merasakan betapa lebih 'bernilainya' bertempat tinggal di sini. Serasa ada kehidupan baru dalam diri saya.

Syahdan, tidak disangka, akhirnya saya merasakan juga tinggal dan hidup di daerah yang jauh lebih ramai dari pada sebelumnya. Apalagi Moro  sudah dikenal sebagai kota (kecamatan) yang sedikit tertinggal berbanding dua kota di dua kecamatan lainnya di kabupaten Karimun, yakni Kecamatan Kundur dan Kecamatan Karimun sendiri. Perlu diulangjelaskan bahwa tiga kecamatan asal yang menjadi cikal-bakal pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau (Kepri) menjadi Kabupaten Karimun adalah tiga kecamatan ini, Karimun, Kundur dan Moro.

Sebelum berubah nama menjadi 'Moro Bersinar' di era --camatnya-- Pak Robert sekitar tahun 1994/ 1995, daerah ini bahkan lebih terkenal dengan nama 'Moro Sulit' karena memang sulit untuk dijangkau dari daerah lain di Kabupaten Kepulauan Riau (sebelum lahirnya Kabupaten Karimun) itu. Bahkan di kabupaten pemekaran ini pun, posisi Moro tetap sebagai daerah yang sulit untuk dijangkau karena transportasi dari dan ke Moro memang tidak banyak. Dari Tanjungbatu (Kundur) akan ke Moro hanya ada kapal-kapal (pompong) kecil yang pulang-pergi memncari dan membeli kebutuhan masyrakat Moro. Selain itu, hanya ada kapal very yang singgah dengan trayek Tanjungbatu - Tanjungpinang atau ke Batam. Jadi, sangat sulit untuk pulang dan pergi ke Moro.
HUT PGRI Bersama Anggota DPRD Kab. Karimun

Kini daerah itu sudah menjadi kenangan setelah saya dimutasi ke Pulau Karimun, tempat Ibu Kota Kabupaten Karimun berada. Kurang lebih delapan tahun saya hidup bersama keluarga saya di sana, tentu saja sudah cukup buat saya merasakan suka-dukanya di daerah yang disebut Moro Sulit itu. Satu tahun pertama saya menjadi Wakil Kepala Sekolah (SMA Negeri Tanjungbatu, sebagai sekolah pembina) di Moro, saya bahkan tidak membawa isteri saya. Bersama dua anak saya, isteri saya tetap tinggal di Tanjungbatu mengingat sulitnya transportasi ke Moro. Saya bertahan berpisah, karena Kepala Sekolah waktu itu (Supardjo Suk, BA) berpesan agar bekerja saja dengan baik dan saya jangan berharap untuk diangkat menjadi Kepala Sekolah. Saya hanya sebagai wakilnya saja hingga ada Kepala Sekolah defenitif, kelak. Saya tak mengerti maksudnya waktu itu, walaupun belakangan saya mengerti juga maksud Kepala Sekolah pertama SMA Negeri Tanjungbatu itu.

Namun setelah tujuh bulan saya berulang-alik Tanjungbaru- Moro, isteri saya yang sudah hamil berat meminta ikut ke Moro. Padahal saya waktu itu tinggal (menumpang) di mess guru yang ukurannya sangat kecil dan sederhana. Saya menempati salah satu kamar dan menggunakan ruang di belakang untuk masak dan makan. "Sepertinya Abang tidak akan kembali lagi ke Tanungbatu," kata isteri saya waktu itu meminta ikut pindah saja ke Moro. Akhirnya saya memboyong keluarga ke Moro. Bermulalah saya dan keluarga dengan kehidupan baru di Moro dengan suasana yang sangat sederhana itu.

Kini saya sudah meninggalkan Moro. Dengan SK Bupati Nomor ....itu saya dimutasi dari SMA Negeri 1 Moro ke SMA Negeri 2 Karimun. Di Tanjungbalai Karimun, awal tempat tinggal saya adalah di rumah sewaan milik Ibu Asmawati Sudiro. Itulah rumah pertama ketika pertama sampai di Ibu Kota Kabupaten ini. Rumah itu tadinya adalah rumah yang disewa oleh Pak Rasudianto Rauf, Kepala SMA Negeri 1 Karimun yang berpindah tugas ke Pekanbaru. Rumah itu berada di daerah Kampung Melayu, berseberangan jalan dengan SD Negeri 002 Teluk Air, Tanjungbalai Karimun. Di sebelah SD ini --waktu itu-- ada dua sekolah lagi, SMP Negeri 2 Karimun dan SMK Yaspika Karimun. Cukup lama saya menempati rumah itu, sampai saya mampu mengangsur membangun rumah sendiri di Wonosari, Keccamatan Meral tahun 2004.
Ketika Mendapat Penghargaan dari Gubernur HM Sani

Selama memimpin dan sebagai guru di SMA Negeri 2 Karimun, seperti 17 tahun berlalu menjadi guru, saya juga mengemban tugas-tugas tambahan 'lain' yang sedikit banyak bersinggungan juga dengan tugas pokok saya sebagai guru. Beberapa tugas sosial diamanahkan kepada saya selama di Tanjungbalai Karimun. Begitulah barangkali posisi dan nasib guru yang jika mau selalu ada pekerjaan baru yang dipercayakan masyarakat atau lembaga tertentu kepadanya. Selagi mau dan mampu memikul amanah yang disandarkan, maka pekerjaan tambahan akan terus berdatangan.

Pada Rapat khusus membicarakan kevakuman kepengurusan PGRI Cabang Karimun di awal-awal saya bertugas di pulau ini, saya dipercaya oleh rekan-rekan guru anggota PGRI Kecamatan Karimun sebagai ketuanya. Itu adalah tugas tamabahan pertama saya setelah saya menjadi guru yang bertempat tinggal di Tanjungbalai Karimun. Saya tidak menolak amanah itu karena itu kepercayaan rekan-rekan guru lainnya. Pada kesempatan lain, saya juga diajak bergabung dalam organisasi yang menghimpun para pendakwah, PMKK (Persatuan Muballigh Kabupaten Karimun) yang terbentuk di awal berdirinya Kabupaten Karimun. Pada organisasi ini saya menjadi salah seorang Wakil Ketua dengan Ketua Umumnya H. Zamzuri.

Ada beberapa tugas tambahan saya ketika saya berdinas di Ibu Kota Kabupaten Karimun. Selain dua organisasi di atas, saya juga ikut menjadi pengurus MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Karimun. Bahkan saya diberi tugas yang cukup berat, Sekretaris Umum MUI Kabupaten Karimun. Ketika menjadi pengurus orgnasiasi Islam itu pula saya ikut terlibat di LP-POM MUI Kabupaten Karimun. Bahkan setelah Direktur LP-POM MUI Kabupaten Karimun dimutasi, saya ditunjuk sebagai pelanjut jabatannya.

Saya sesungguhnya bangga dengan berbagai tugas tambahan itu, namun itu juga sebuah tanggung jawab yang begitu berat buat saya. Belakangan, bahkan saya menjadi beberapa pengurus lainnya seperti Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan PGRI Kabupaten Karimun, sebagai Wakil Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Karimun dan menjadi salah satu Ketua Bidang pada LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Kabupaten Karimun yang Ketuanya adalah Wakil Bupati Karimun, Aunur Rafiq.

Sesungguhnya berbagai tugas tambahan itu benar-benar menyita waktu tugas pokok saya sebagai guru yang juga merangkap sebagai Keala Sekolah. Andaikan saya tidak terus berusaha mengatur waktu-waktu lowong saya, sudah pasti saya tidak akan mampu bersama berbagai organisasi itu. Ternyata, selama kita mau dan terus berusaha untuk berbagi tugas dengan teman-teman lainnya, maka berbagai tugas tambahan itu akan tetap mampu dilaksanakan sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada.*** (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman