Minggu, 12 Juni 2016

Kemudahan di Balik Kesulitan: Pengalaman

Dari Google.com
INI benar-benar pengalaman. Ya, pengalaman hidup saya. Bukan rekayasa apalagi cerita dusta. Karena merasa yang saya alami ini ada gunanya buat saya ingat-ingat dan mungkin pula berguna buat pembaca lainnya, maka saya tulislah kisah ini di halaman ini. Barangkali saja bisa juga menjadi pembelajaran bagi siapa saja.

Banyak pengalaman dan kejadian serupa yang saya alami. Maksud saya pengalaman 'tak terduga' berkaitan beberapa masalah yang saya hadapi tapi selalu pula ada jalannya secara tidak terduga. Saya tidak pernah menduga jalan keluar itu akan saya alami begitu karena memang tidak ada dalam pikiran apa lagi perencanaan.

Pengalaman terakhir dari banyak pengalaman yang saya alami adalah ketika hari Jumat lalu saya harus dan akan berangkat solat Jumat tapi kendaraan (vespa yang biasa saya pakai) tidak ada. Kebetulan saat itu scutter itu sedang dipakai anak saya, Opy sejak pagi. Dia berangkat meninggalkan rumah sejak subuh pagi harinya dan ketika saya pulang dari sekolah, dia belum kembali juga

Hari Jumat (10/ 06) itu, seperti biasa, pagi-pagi tentu saja saya ke sekolah karena walaupun Ramadhan, sekolah belum libur. Saya ke sekolah menggunakan mobil tua yang saya punya. Usai sekolah, saya pulang agak terlambat karena kami para guru SMA Negeri 3 Karimun (tempat saya bertugas sejak 2007) siang itu kembali rapat lagi menyambung Rapat Kenaikan Kelas (RKK) yang belum usai pada hari Kamisnya. Jadi, agak terlambat pulang ke rumah karena dalam rapat itu masih banyak pertanyaan guru yang muncul. Akhirnya rapat baru dapat ditutup tepat pukul 11.35 dan saya langsung pulang ke rumah.

Mengingat saya ada jadwal khutbah jumat di Masjid Nurul Hasanah, Paya Manggis maka pikiran saya sudah tertuju ke rumah, bersiap akan ke masjid walaupun badan masih di sekolah. Sampai di rumah, di sinilah masalah mulai terasa bakal ada. "Lha, mana vespa? Saya tidak mungkin naik mobil karena masjidnya tidak terlalu jauh," kata saya dalam hati sambil terus bersiap mengganti pakaian dari sekolah (baju kurung melayu) ke baju koko, khas untuk solat. Saya teringat bahwa vespa memang dipakai anak saya. Dia belum kembali ke rumah jam sebegitu. Saya simpulkan saja bahwa dia tidak akan pulang siang karena sering juga dia pulang lambat.
Andalam Utama untuk Perjalanan Jauh

Akhirnya saya putuskan bahwa harus berjalan kaki saja ke masjidnya. Inilah masalah itu (menurut saya) yang harus saya hadapi. Saya tidak mungkin tidak pergi ke masjid Paya Manggis karena saya sudah menyatakan bersedia menjadi khatib di sana sebagai pengganti khatib lain yang tidak akan bisa hadir. Pada saat saya memerlukan vespa itu, ternyata vespanya tidak ada. Motor lain --kepunyaan Kiky atau Ery, anak saya yang lain-- juga belum ada. Keduanya belum kembali ke rumah dari sekolah masing-masing pada saat pikiran dan perasaan saya kian risau karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 12.03. Kurang lebih 10 menit lagi tentu saja waktu solat akan masuk.

Dalam kegalauan sambil terus melangkahkan kaki menuju jalan Paya Manggis, dari arah depan anak saya Opy datang dengan kecepatan vespa yang lumayan kencang. Dia berhenti ketika melihat saya berjalan kaki. Lalu spontan saja dia menyerahkan vespa ke saya. Karena jarak rumah sudah hampir setengah berjalan, saya mengantarkan anak saya itu ke rumah untuk selanjutnya memecut kencang vespa merah itu kembali ke arah jalan yang sama. Akhirnya saya tidak jadi berjalan kaki.

"Sungguh, ini adalah taufiq dari Allah," kata saya dalam hati. Kesulitan --sesedikit dan sekecil apapun itu-- yang tadinya saya rasakan, tiba-tiba ada jalan keluarnya maka rasa syukur dan bangga yang tak terhinggalah yang ingin saya ucapkan. Dan ini bukanlah kejadian dan pengalaman pertama saya rasakan. Tapi dalam Ramadhan 1437 ini, pengalaman tak terduga 'Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan' inilah yang saya rasakan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan