Kamis, 23 Juni 2016

Dalam Kekurangan Aku Melakukan (7)

SEKOLAH baru di tempat baru, kembali terjadi. Bagi seorang abdi negara yang berarti abdi masyarakat tentulah berpindah-pindah tugas dari satu tempat ke tempat lain adalah suatu keniscayaan dan biasa seperti itu. Mutasi tuags seorang PNS --termasuk guru, tentu-- tidak hanya akan terjadi dalam satu wilayah terbatas seperti di sebuah kabupaten tapi juga bisa antar kabupaten dalam satu provinsi. Ketika awal melamar menjadi PNS sudah ditandatangani kesanggupan ditempatkan dimanapun di seluruh wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini. Bukan hanya di Karimun sebagaimana yang saya alami ini.

Setelah mengikuti pelantikan langsung oleh Bupati Karimun, Muhammad Sani bersama beberapa Kepala Sekolah yang dimutasi dan atau mendapatkan promosi, saya pun resmi memimpin SMA Negeri 2 Karimun. Saya teringat di awal saya resmi menjadi Kepala Sekolah baru di sekolah ini ada kejadian yang membuat saya khawatir. Waktu itu saya belum benar-benar bekerja di SMA Negeri 2 Karimun karena saya belum pindah secara pisik dari Moro ke Karimun. Saya masih di rumah lama (di Moro) sambil bersiap untuk pindah ke Tanjungbalai Karimun. 

Mengingat jarak antara Moro dengan Tanjungbalai Karimun cukup jauh, menyeberangi laut sebagaimana dulu saya pindah dari Tanjungbatu ke Moro maka tentu saja perlu persiapan yang matang. Barang-barang kebutuhan dan apapun yang dimiliki tentu harus dipersiapkan proses pindahnya. Butuh kapal (pompong atau lainnya) secara khusus untuk mengangkut barang-barang itu. Jadi, sebelum benar-benar masuk bertugas di sekolah baru itu saya perlu beberapa hari tetap di Moro sekaligus menunggu seremoni perpisahan dengan para guru dan Kepala Sekolah baru di SMA yang akan saya tinggalkan.

Waktu-waktu satu-dua hari menunggu dan bersiap itulah tiba-tiba siang itu ada telpon dari seberang sana. Salah seorang Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 2 menelpon ke HP saya yang menyebutkan telah terjadi 'kesurupan massal' di SMA Negeri 2 Karimun, pagi menjelang siang itu. "Pak, anak-anak banyak sekali yang kesurupan," begitu informasi dari SMA Negeri 2 Karimun. Dalam kondisi sekolah tidak lagi memiliki pucuk pimpinan karena Pak Yatim sudah bertugas di SMA Negeri 1 Karimun sementara saya masih di Moro, tentu saja masalah ini akan menjadi 'beban' tersendiri bagi para guru di SMA Negeri 2 Karimun. Dan tentu saja kabar itu membuat saya risau dan khawatir karena saya masih di Moro.

Saya dengan cepat membuat keputusan, meminta para guru terutama para Wakil Kepala Sekolah untuk menangani masalah itu dengan baik. Langkah pertama, perintah saya, pulangkan saja semua siswi (kebetulan, katanya hanya siswa perempuan saja yang terkena kesurupan) itu dan kumpulkan semua siswa yang lain di halaman sekolah. Lalu beri pengarahan untuk dipulangkan saja ke rumah masing-masing. Itulah perintah (instruksi) pertama saya sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 2 Karimun.

Saya kembali teringat kejadian yang mirip di SMA Negeri 1 Moro beberapa waktu lalu. Juga teringat kejadian yang persis sama dengan yang di SMA Negeri Tanjungbatu beberapa tahun lalu ketika saya masih sebagai pendidik di sana. Beda di Moro dengan yang di Tanjungbatu waktu itu adalah bahwa kejadian di SMA Negeri 1 Moro hanya menimpa seorang siswa wanita saja. Itupun terjadi di lokasi perkemahan, ketika anggota pramuka sekolah mengadakan perkemahan Sabtu-Minggu, waktu itu. Sementara kejadian di sekolah awal saya bertugas itu menimpa siswa wanita dalam jumlah yang sangat banyak. Berarti mirip dengan kejadian di SMA Negeri 2 Karimun ini.

Sambutan 'kesurupan' di awal saya akan bertugas ini memang membuat berbagai perasaan tak menentu di hati saya. Berbagai isu juga timbul bak menusuk telinga saya. Ketika saya sudah benar-benar berada di kampus SMA Negeri 2 Karimun, dan sudah bersama-sama mengelola dan mengurus sekolah dengan para guru lainnya, aneka cerita tentang kesurupan itu saya dengar langsung. Salah seorang guru menyampaikan ke saya, yang konon katanya ceritanya itu berasal dari Pak Yatim Mustafa, kepala sekolah yang saya gantikan. "Katanya, ini karena kepala sekolah lama sudah melepaskan 'hantu-hantu' yang selama ini diikatnya," jelas guru itu seperti bergurau namun dengan mimik serius. Saya hanya tersenyum saja mendengar cerita itu karena saya anggap itu cerita 'bergurau' saja. Iya atau tidak, buat saya itu jelas tidak dapat saya terima begitu. Apa iya, ada yang mampu mengikat para hantu itu begitu lama dan melepaskannya sesuka hatinya saja?

Kini, dengan aneka tantangan baru di sekolah yang baru bagi saya, saya akan memulai 'langkah baru' juga sebagai penanggung jawab sekolah. Saya berharap tidak ada lagi kejadian serupa di masa-masa yang akan datang, selama apa saya bertugas nanti di sekolah ini. Sungguh menegangkan sekaligus mengkhawatirkan melihat anak-anak (wanita) yang kesurupan, memekik saling bersahutan. Apalagi dengan jumlah yang begitu banyak. Di SMA Negeri 1 Tanjungbatu waktu itu, tidak kurang 30 orang anak yang memekik tak tentu arah, saling bersahutan dalam kesurupan bersama. Dan di SMA Negeri 2 Karimun pun kabarnya dengan jumlah yang cukup ramai juga. Sekali lagi, doa dan harapan saya semoga saya tidak menemukan lagi hal-hal seperti di awal bertugas ini.*** (bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman