Senin, 13 Juni 2016

Dalam Kekurangan Aku Melakukan (6)

SUATU malam saya ditelpon oleh Pak Anwar Hasyim --saat ini Wakil Bupati Karimun-- yang waktu itu menjabat sebagai orang kedua (Kepala TU) pada Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun yang belum lama dibentuk sebagai konsekuensi lahirnya Kabupaten Karimun, mekaran dari Kabupaten Kepulauan Riau. Kepala Kantor Dinas Pendidikan waktu itu, tahun 2001 adalah Pak Said Fauzul. "Mau pindah ke Balai, tak?" tanya Pak Anwar setelah sebelumnya bertanya, apa kabar. Tentu saja saya sangat, sangat terkejut. Tidak pernah saya bayangkan akan ada tawaran pindah tugas dari Moro ke Tanjungbalai Karimun setelah lebih dari sewindu saya di sana.

Sudah menjadi kelaziman waktu itu, para pegawai negeri yang mendapat tempat bertugas di Kecamatan Moro adalah orang-orang yang bakal 'tenggelam' seperti bunyi peribahasa, "Bak melemparkan batu ke lautan". Sekali masuk ke Moro, selamanya akan tetap di Moro hingga pensiun. Itu adalah imej masyarakat waktu itu. Saya sendiri yang sejak ditugaskan di Moro (mutasi dari Tanjungbatu, 1994) hingga akhir 2001 itu juga seolah percaya dengan pandangan tidak resmi itu. Setelah begitu lama di Moro, sayapun sudah mempersiapkan diri untuk selamanya di Moro. Saya bahkan sudah bersiap-siap untuk membangun rumah tinggal dan persiapan segala sesuatunya, jika benar-benar akan pensiun di kecamatan ketiga di kabupaten pemekaran, Karimun waktu itu.

Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika mendapat pertanyaan begitu melalui telpon. Dengan sedikit gugup saya menjawab, 'jika kecik telapak tangan, nyiru akan saya tadahkan, Pak' kata saya sambil mengucapkan terima kasih. Pak Anwar yang di akhir karier PNS-nya dipercaya menjadi Sekda Kabupaten Karimun juga menanyakan kesediaan saya untuk menjadi pengawas atau masih mau tetap menjadi Kepala Sekolah. Pak Anwar malam itu benar-benar membuat saya terkejut dan haru pernuh harap.

Dengan diplomasi saya mengatakan bahwa saya masih ingin menimba ilmu dan pengalaman sebagai Kepala Sekolah sebelum kelak menjadi pengawas, jika masih dipercaya. Perbincangan malam itu memang tidak lama. Setelah jawaban saya yang terakhir itu, Pak Anwar yang sempat pula menjadi anggota DPRD Kabupaten Karimun beberapa bulan sebelum dicalonkan menjadi Wakil Bupati berpasangan dengan Pak Aunur Rafiq, menutup telpon di seberang sana. "Plek," telpon di seberang sana terdengar diletakkan di gagangnya. Saya serasa bermimpi, detik-detik berikutnya. Ya, Allah saya bakal dimutasi ke Karimun, kata saya dalam hati. Sesungguhnya, apapun amanah yang akan diberikan kepada saya (jadi Kasek lagi atau beralih ke pengawas) oleh Pemda Karimun, saya siap saja. Kalau boleh memilih, saya memang lebih ingin menjadi Kepala Sekolah dari pada menjadi pengawas sekolah, waktu itu.

Tidak berapa lama setelah mendapat telpon dari Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, itu mutasi para Kepala Sekolah benar-benar terjadi di akhir 2001 itu. Kepala SMA Negeri 1 Karimun yang dijabat Drs. Rasudianto Rauf, ternyata minta mutasi ke Pekanbaru dengan alasan pribadi yang hanya dia yang tahu. Kekosongan itu digantikan oleh Yatim Mustafa yang waktu itu menjadi Kepala SMA Negeri 2 Karimun. Tentu saja pengganti itu ditentukan oleh Pemda Karimun melalui Dinas Pendidikan Karimun. Saya sendiri ternyata akan menggantikan Pak Yatim di SMA yang berada di belakang Mapolres Karimun itu.

Dengan SK Nomor KPT 345/ XII/ 2001 tanggal 31 Desember 2001 akhirnya saya dan beberapa Kepala Sekolah dimutasi dan atau diangkat oleh Pak Muhammad Sani yang waktu itu sebagai Bupati Karimun. Terhitung sejak awal 2002 itu saya berpindah tanggung jawab dari SMA Negeri 1 Moro ke SMA Negeri 2 Karimun. Tempat yang saya tinggalkan diamanahkan kepada Drs. Masnur AN, salah seorang teman saya dulu di SMA Negeri 1 Tanjungbatu Kundur ketika sama-sama menjadi guru. 'Alhamdulillah', kalimat itulah ucapan yang paling tepat saya katakan ketika menerima amanah baru ini. Inilah sekolah ketiga saya selama menjadi guru di Kabupaten Kepulauan Riau yang berubah menjadi Kabupaten Karimun sejak 1999.

Di Tanjungbalai Karimun, tempat saya yang baru pasti saya akan tetap menggunakan perinsip yang sama untuk meneruskan tugas, tanggung jawab dan karier saya sebagai guru. Begitu pula tugas-tugas sosial, jika masih dipercaya oleh masyarakat atau Pemerintah. Dengan tugas tambahan --sebagai Kepala Sekolah-- yang sama sebagaimana di Moro, saya tidak akan jauh berubah sikap dan pikiran dalam mengemban tugas baru. Jika ada perbedaan, adalah karena sekolah baru ini jauh lebih besar dari pada sekolah yang saya tinggalkan di Moro. Jika di Moro saya tetap mau dan menerima tugas-tugas tambahan lain (di masyarakat) maka di Karimun pun saya akan tetap berusaha seperti itu. Kepercayaan orang adalah kekayaan yang paling tinggi nilainya. Itu adalah perinsip. (bersambung)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman