Selasa, 10 Mei 2016

Dalam Kekurangan Aku Melakukan (5)

MEMULAI 'hidup baru' di tempat baru sebagai guru, harus saya lakoni kembali di tempat baru setelah kurang lebih delapan tahun di Tanjungbatu. Dulu, ketika pertama kali datang ke Tanjungbatu dari Pekanbaru sekitar '85-an itu, saya benar-benar merasa baru dan memulai kehidupan baru. Pokoknya, benar-benar terasa baru. Segala-gala baru.

Datang dengan hanya berbekal selembar SK (Surat Keputusan) pengangkatan sebagai guru, saya benar-benar awam dengan kota kecamatan --Tanjungbatu-- itu. Meskipun saya membawa bekal informasi dari salah seorang teman sesama guru di SMP Nurul Falah Pekanbaru, Pak Armen, saya tetap saja sangat tidak mengerti dengan daerah baru ini. Namanya juga baru pertama kali menginjakkan kaki di situ tentu saja ada rasa canggung dan bingung.

Pak Armenlah yang sedikit memberi informasi tentang Tanjungbatu kepada saya sebelum saya berangkat meninggalkan kota 'bertuah' Pekanbaru. Dia adalah guru olahraga di tempat saya mengajar (SMP Nurul Falah, Pekanbaru) yang kebetulan berasal dari Tanjungbatu. Pak Armen guru PNS di STM (kini SMK) yang kebetulan ikut menjadi guru honorer di SMP Nurul Falah. Kedua orang tuanya masih ada di Tanjungbatu. Dia menyarankan untuk menuju atau bertanya kepada orang tua atau keluarganya yang ada di Tanjungbatu jika sudah sampai di Tanjungbatu. Bagamanapun, waktuy itu saya benar-benar merasa baru. Dan informasi panduan itu sangat berharga bagi saya waktu itu. Dan waktu delapan tahun lebih itu, sudah membuat saya merasa sudah menjadi orang Tanjungbatu.

Kini, setelah Kepala SMA Negeri Tanjungbatu memberi amanah menjadi Wakil Kepala Sekolah di SMA Moro pada tahun 1993 akhir itu, saya merasa memulai lagi hidup baru itu sebagaimana saya datang pertama kali ke Tanjungbatu pada tahun 1994/ 1995, dulu. Moro adalah kota (kecamatan) lain di pulau lain. Untuk ke Moro, perlu 2-3 jam waktu itu. Ada kapal (pompong) kayu yang bolak-balik Moro- Tanjungbatu. Kalau mau cepat, ada juga kapal trayek Tanjungbatu -Tanjungpinang yang kebetulan singgah di Moro. Harga ticketnya juga lebih mahal dari pada naik pompong saja. Saya memilih naik pompong walaupun lambat tapi harganya lebih murah.

Kalau di tahun 1984 lalu saya masuk Tanjungbatu bertemu daerah baru (berbanding Pekanbaru yang saya huni dan tinggalkan) kini setelah saya ditugaskan ke Moro, kembali saya menemukan daerah baru lagi. Tanjungbatu yang sudah saya anggap kampung sendiri setelah kurang lebih sembilan tahun menghuninya, kini harus ditinggal pula untuk mengemban amanah baru.

Di Moro saya tetap bersikap seperti di Tanjungbatu. Tugas-tugas lain  selain tugas wajib tetap saya lakukan. Sebagai Kepala Sekolah SLTA saya disejajarkan dengan para pejabat setingkat pegawai kecamatan yang ada di sini. Pak Camat adalah pejabat yang selalu mengajak saya dalam berbagai kegiatan. Ketika camat mengadakan kunjungan kerja ke Desa-desa seperti ke Durai, Dusun Nyiur, Sugi dan beberapa desa lain di wilayah Kecamatan Moro, saya selalu diajak. Isteri saya --Rajimawati-- juga ikut sebagai anggota PKK Kecamatan. Hubungannya tentu saja bertambah akrab dengan para isteri petugas (pejabat) yang ada di Moro. Seingat saya, isteri saya waktu itu juga menjadi guru di TK Pertiwi Kecamatan Moro. TK ini adalah sekolah kanak-kanak yang diprakarsai dan dikelola langsung oleh Ibu-ibu pengurus PKK Kecamatan.

Selama delapan tahun tiga bulan di Moro saya bertemu dengan beberapa camat seperti Pak Robert (alm), Pak Raja Fadjarullah (alm), Pak Iwan Aziz, Pak M. Hasbi, dan beberapa camat lagi. Dengan Kepala KUA (Kantor Urusan Agama) juga bertemu dengan beberapa orang yang silih berganti. Di kecamatan, Ka KUA adalah partner Camat dalam berbagai kegiatan keagamaan yang saya selalu ikut terlibat di dalamnya. Saya memang sengaja menyebut dua pejabat ini karena dengan dua pejabat ini saya merasa begitu dekat dan begitu terbantu dalam tugas-tugas sebagai Kepala Sekolah. Bahkan untuk tugas-tugas sosial kemasyarakatan, dua pejabat inilah sebenarnya yang menjadi penentu dan pemabantu kemajuan dalam diri saya. Motivasi dan kepercayaan dari dua pejabat ini benar-benar membuat saya lebih dikenal masyarakat dari pada sebagai Kepala Sekolah. Kunci perinsip saya, walau merasa serba kekurangan namun saya tetap berbuat.

Sekali waktu saya menjadi penceramah dan berdakwah. Pak Ka. KUA-lah yang menentukan dan membimbing serta memberi kesempatan kepada saya untuk terlibat. Ketika ada MTQ Tingkat Kecamatan, saya ikut menjadi salah seorang juri, camat dan ka. KUA juga yang akan berperan penentu. Saya memang tidak pernah menolak ketika diminta bantu untuk tugas-tugas di luar sekolah. Dan karena itu pula saya merasa nyaman-nyaman saja bertugas di tempat yang waktu itu dianggap tempat yang terbelakang berbanding dua kecamatan (Karimun dan Kundur) yang menjadi bagian Kabupaten Kepulauan Riau. Istilah 'Moro Sulit' masih populer waktu itu karena memang daerah ini termasuk daerah sulit. Tapi saya tidak pernah meminta pindah ke daerah lain yang dianggap lebih ramai masyarakatnya. Hanya karena mendapat tawaranlah, akhirnya saya bersedia pindah dan akhirnya dimutasi ke Tanjungbalai Karimun pada tahun 2002 itu.*** (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan