Minggu, 08 November 2015

Betapa Amat Sangat Malasnya Saya, Ternyata

SETIAP subuh, saya sudah berusaha untuk sekurang-kurang satu 'ain atau 1-2 halaman membaca alquran. Saya tahu, itu memang sangat sedikit. Mungkin hanya 5-10 menit saja saya duduk membuka dan membaca kitab suci itu. Lalu saya mengisi waktu sepulang dari masjid itu untuk membaca dan menulis di komputer. Habi dan tekad saya untuk membudayakan 'menulis dan membaca' memang saya coba buktikan, minimal sebelum tidur dan sesudah bangun tidur.


Jujur saja, selama dan sejak saya rutin membaca alquran di waktu subuh dan pada malam hari beberapa saat, rasanya saya sudah sangat bangga dengan diri saya. Dulu, ya dulu sebelum mampu memaksa untuk biasa membaca setiap subuh, saya hanya rutin membuka alquran di waktu lain: sesudah magrib atau selepas isya sejenak. Kini, alhamdulillah saya sudah mampu menekan perasaan malas saya untuk membuka dan membacanya di setiap subuh.

Benar, memang benar belum juga terlalu lama saya memulai dengan rutinitas alquran ini. Paling juga baru satu-dua tahun belakangan ini. Sebelumnya hanya rutin di malam hari saja. Tapi saya merasa cukup puas dan bangga. Saya merasa ada peningkatan alokasi waktu mengaji saya. Ya, Allah ternyata saya keliru. Saya telah berlebihan dalam perasaan senang saya. Saya senang karena saya sudah bisa menekan rasa malas saya untuk membaca alquran di setiap subuh, sebagaimana dulu waktu saya kecil, di kampung sana. Saya bangga karena sudah menyadari perlunya rutinitas mentadarus alquran di waktu menjelang pagi itu. Tapi, sekali lagi, saya berlebihan dengan rasa bangga saya. 

Kalau rutinitas membaca dan mengajarkan membaca alquran dalam kadar di bawah waktu yang sekarang, itu memang sudah selama ini saya jalankan. Di manapun saya berada selalu berusaha membaca, mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lainnya, terutama anak-anak. Tapi itu tadi, rasanya waktunya tidak terlalu lama dan tidak pula rutin. Makanya kini saya mencoba rutinitas mulia itu.

Saat dua tahun ini, sepulang dari masjid untuk subuh bersama, dan saya memang sudah memaksakan membaca alquran, sebenarnya memang tidak berlebihan menurut saya kalau saya merasa senang dan bangga. Tapi itu ternyata sesuatu yang tidak perlu. Kini saya tahu, ternyata saya masih termasuk kategori orang yang amat dan sangat pemalas membaca alquran. Belum ada apa-apanya alokasi waktu yang saya sediakan untuk membaca alquran.

Kata para ustaz dan banyak buku menjelaskan, bahwa jika umat Islam benar-benar menjadikan alquran sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan, ternyata cukup sebagaimana yang saya sudah lakukan selama ini. Bukan hanya soal berapa lama kita membaca alquran, tapi berapa banyak kita membacanya. Mengapa?

Ternyata, nabi menganjurkan kepada umatnya untuk minimal menamatkan alquran dealam setiap tiga hari. Subhanalloh, kapan saya bisa mengamalkan anjuran nabi itu? Jika sahabat kebanyakan setiap hari khatam alquran. Bahkan dalam setiap hari bisa lebih dari satu kali mengkhatamkannya, jelas itu semakin tidak mungkin saya lakukan. Jika tidak setiap tiga hari menamatkannya satu kali, minimal dianjurkan dalam setiap pekan, tamatkanlah satu kali.

Pastilah anjuran minimal ini juga tidak pernah bisa saya lakukan. Jujur saja, belum pernah saya mampu menamatkannya dalam satu pekan. Bahkan ketika Allah memberi saya kesempatan menunaikan ibadah haji pada musim haji 1427 (2016/ 2007) lalu, saya juga tidak mampu menamatkan alquran dalam satu minggu itu. Seingat saya, saya hanya hanya menamatkan satu kali dan untuk yang kedua kalinya masih ada beberapa juz lagi. Padahal saya ingat, saya ada selama 40 hari di Tanah Suci.

Itulah sebabnya saya percaya bahwa saya memang benar-benar masih termasuk orang yang sangat malas membaca alquran. Ya, Allah kapan saya akan mampu rutin membaca dan menamatkan alquran dalam setiap minggu? Entahlah. Jika setiap subuh hanya satu ain atau sekadar beberapa halam saja, sudah dapat dipastikan bahwa saya tetap saja akan menjadi orang pemalas membaca alquran. Tapi saya tetap berdoa dan berusaha, kiranya tradisi mengaji di waktu pagi dan di malam hari seperti saat ini, tetap dapat saya jalankan hingga saya mati.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan