Rabu, 12 Agustus 2015

Berhentilah Berbohong dalam Gerak Jalan 45

KEMBALI Agustus 2015 ini, akan diperingati dengan berbagai kegiatan. Kegiatan lomba gerak jalan adalah salah satunya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada peringatan HUT RI ke-70 ini Panitia Peringatan HUT RI Kabupaten Karimun akan mengadakan beberapa kategori Lomba Gerak Jalan bagi pelajar dan masyarakat umum. Ada kategori 8 KM (Kilo Meter), ada 17 KM dan ada juga kategori 45 KM. Ketiga kategori itu mengambil nama bulan, tanggal dan tahun kemerdekaan RI, 17.08.(19)45.

Cabanag Gerak Jalan 45 KM adalah cabang yang paling bergengsi. Bukan karena jumlah peserta dan atau hadiahnya. Tapi cabang ini menjadi terkenal hebat karena jaraknya yang sangat jauh. Berjalan kaki dengan jarak sejauh 45 KM tentulah bukan pekerjaan yang enteng. Tidak semua orang mampu berjalan dengan jarak seperti itu. Walaupun berjalan (bukan berlari seperti lomba marathon) namun tetap saja jarak itu sangat jauh dan berat. Makanya kategori ini jauh lebih bergengsi dari pada dua kategori lainnya.

Tapi selama ini ada catatan buruk dalam pelaksanaan lomba gerak jalan jarak jauh ini. Setiap tahun diadakan gerak jalan cabang 45 KM, setiap tahun pula masyarakat tahu dan menyaksikan adanya kebohongan alias kemunafikan di dalamnya. Jujur saja, dari tiga kategori lomba gerak jalan yang tetap diadakan setiap tahun, maka kategori 45 KM ini selalu menyisakan rasa kesal di hati. Sekurang-kurangnya bagi saya sendiri dan orang-orang yang berpikirnya sama. Tentu saja rasa kesal ini mungkin tidak berlaku buat semua orang karena ternyata ada banyak pula yang tidak mempermsalahkan terjadinya kebohongan. Alih-alih mengatakan 'jangan' eeh malah ikut melaksanakan.

Yang saya maksud dengan kebohongan dan kemunafikan itu adalah karena dalam gerak jalan bergengsi ini ternyata ada kecurangan dilakukan oleh peserta dan atau para guru pembinanya. Anehnya kecurangan itu terjadi bukan tanpa diketahui oleh pihak-pihak yang seharusnya melarang kecurangan itu. Nyatanya, setiap tahun selalu saja ada kejadian yang sama. Itu berarti, kebohongan ini sengaja dibiarkan.

Dalam lomba yang dilaksanakan pada malam hari ini, selalu terjadi kecurangan. Para peserta lomba tidak lagi memegang perinsip-perinsip sportivitas dalam keikutsertaannya. Mengapa? Karena ternyata di tengah perjalanan, para peserta lomba yang ketika start sudah dicatat dan ditandai orang-orangnya (oleh panitia), rupanya para peserta ini berganti orang di tengah perjalanan. Biasanya pertukaran peserta itu dilakukan di tempat-tempat gelap (sepi) yang diperkirakan tidak dilihat oleh orang lain. Tanda-tanda yang diberikan ketika start mereka palsukan di tengah jalan. Misalnya, cap/ stempel yang ada pada tangannya, ketika orangnya berganti di pertengahan perjalanan, juga diberi cap yang sama yang seolah-olah orangnya tidak berganti.

Menurut para penonton bahkan laporan para guru dan siswa sendiri, para peserta itu memang boleh diganti dengan orang lain asal tidak ketahuan. Wow, asal tidak ketahuan? Artinya, jarak yang 45 KM itu ternyata tidak benar-benar dijalani oleh para peserta secara penuh karena orangnya sudah berganti itu tadi. Besoknya, ketika sudah mendekati finish, baru kembali peserta yang melakukan start itu masuk ke barisan lagi. Tadinya mereka diistirahatkan di dalam mobil-mobil pengiring dari sekolahnya/ dari kesatuannya. Inilah kebohongan yang setiap tahun selalu ada. Konon ada regu yang berganti kesemua pesertanya di tengah perjalanan, dan nanti akan kembali peserta regu awal yang disuruh masuk finish. Celaka kan?

Ingin sekali kita berharap kepada panitia (bahkan kesadaran peserta dan gurunya) agar kecurangan ini tidak terjadi lagi. Kalau terjadi juga diperhatikan dan diberikanlah sanksi. Jangan seperti yang selama ini terjadi, bahwa peserta yang sebenarnya tidak utuh berjalan dari start hingga ke finish, tetap dinyatakan juga sebagai pemenang lomba dengan alasan, konon panitia tidak tahu terjadinya kecurangan. Pemenang ini pun berhak mendapatkan hadiah yang biasanya memang lebih besar dari para gerak jalan 17 dan 8 KM. Ini benar-benar akan menjerumuskan mental anak-anak (peserta) yang nota bene adalah generasi masa depan bangsa.

Sudah saatnya, gerak jalan yang bertujuan memperingati heroik para pahlawan bangsa ini tidak dikotori dengan sikap tidak jujur oleh peserta, para guru dan bahkan oleh panitia dan juri sendiri. Sudah saatnya ini diubah. Berhentilah berbohong dalam gerak jalan bergengsi ini. Mau sampai kapan generasi muda ini dididik dengan cara kotor seperti itu?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan