Senin, 01 Juni 2015

Cermin Sanksi FIFA

KALAU mau belajar dari kasus jatuhnya sanksi FIFA ke PSSI pada Sabtu (30/ 05) kemarin itu, sebenarnya ada banyak juga pelajarannya. Di luar rasa emosi kita yang harus menerima hukuman itu terhadap persepakbolaan di negara kita, sesungguhnya tetaplah ada yang dapat dipetik dari perasaan sakit itu.


Tanpa bermaksud membela Menpora yang dengan SK-nya mencabut eksistensi dan keberadaan PSSI, saya percaya di balik 'pemakzulan' PSSI yang terbentuk secara sah dalam kongres Luar Biasa, itu pasti ada juga pelajaran yang dapat ditangkap. Apalagi di belakangnya ada presiden yang penuh membela menterinya, tentu saja harus juga dilihat segi positifnya.

Bahwa keputusan Menpora plus dukungan presiden bisa saja diperdebatkan, itu tidak dapat dibantah. Banyak pengamat sepakbola menganggap keputusan Menpora itu terlalu jauh dan berlebihan. Bagi yang anti, akan menganggap kalau keputusan pemerintah melalui Menpora itu kebablasan. Jika menduga di PSSI ada masalah (dugaan mafia, korupsi, dll) seharusnya bukan PSSI-nya yang diberangus pemerintah. Hukum saja orang-orang yang diduga bermasalah itu. Bunuh tikusnya tapi jangan bakar limbungnya. Begitu istilah yang selalu dikemukakan para orang bijak.

Tapi bagi pihak-pihak yang pro keputusan Menpora, akan menganggap itulah satu-satunya cara terbaik untuk membenahi PSSI. Istilah presiden, mereformasi secara keseluruhan. PSSI tidak cukup dengan menyelesaikan secara sebagian-sebagian saja untuk memperbaikina. Harusnya dari A ke Z jika ingin sempurna perbaikannya. Tidak setengah-setengah. Begitulah komentar para penentang PSSI La Nyalla beralasan.

Apapun perdebatan pro kontra terhadap keputusan pemerintah, yang sudah terjadi saat ini --menurut berita yang kita baca-- adalah telah jatuhnya sanksi dari FIFA, induk sepakbola dunia ke PSSI, induk sepakbola Indonesia. Dengan sanksi itu maka FIFA memutuskan untuk menyetop semua aktivitas sepakbola Indonesia yang dinaungi FIFA. Indonesia, baik atas nama negara maupun atas nama PSSI-nya tidak boleh melakukan aktivitas sepakbola yang diakui FIFA dimanapun. Lalu, para pemain sepakbola Indonesia juga dilarang bermain untuk klub manapun di dunia ini untuk aktivitas yang diakui FIFA.

Dengan sanksi seberat itu, sesungguhnya tidak ada lagi celah bagi Indonesia sebagai sebuah negara, PSSI sebagai sebuah organisasi dan para pemain sepakbola sebagai individu dan insan sepakbola untuk melakukan aktivitas persepakbolaan yang mendapat pengakuan dari FIFA. Sungguh sangat menyakitkan.

Kini nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlanjuur. Berdebat terus perihal mengapa FIFA begitu kelihatan kejam, tidak akan ada gunanya. Pihak-pihak yang menjadi penentu jatuhnya sanksi itu sudah kita lihat bersama, betapa kokohnya (baca: keras kepala) mereka mempertahankan kebenaran versi masing-masing. Dengan pertahanan 'membabaibuta' itu pula jatuhnya sanksi FIFA. Artinya, semua pihak pun sudah wajib menerimanya. Dan saatnya sanksi itu dijadikan cermin saja.

Bagaikan cermin, keputusan pahit yang diterima Indonesia dapat diterik pelajarannya antara lain, 1) Jangan Memaksakan Kehendak; Ini dapat ditelusuri dari awal bagaimana kerasanya PSSI untuk tetap melaksanakan keputusannya memainkan liga dengan 18 klub yang oleh pemerintah dianggap bermasalah. Sebaliknya pemerintah juga keras kepala dengan memutuskan melarang Surabaya dan Arema untuk ikut liga yang menurut peraturan versi PSSI sudah tidak ada msalah. 2) Tidak hendak mau bertolak angsur; Ini dapat ditelusuri bahwa sebelumnya jatuhnya sanksi, sesungguhnya ada waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk merenung dan meluruskan pikiran. Baik Ppemerintah ke PSSI atau sebaliknya dari PSSI ke Pemerintah, masing-masing saling mengancam dan juga saling memberi waktu untuk berpikir. Tapi waktu itu tidak pernah dipergunakan. Di situlah seharusnya sikap bertolak-angsur diterapkan.

Ketika FIFA yang sudah mendapat begitu banyak masukan dari PSSI akan memberi sanksi, sebenarnya juga ada waktu berpikir untuk mengubah sikap keras kepala masing-masing pihak. FIFA hanya meminta agar pemerintah dan PSSI menyelesaikan kisruh itu. Apapun caranya. Tapi waktu itu juga tidak dimanfaatkan untuk membuat penyelesaian. Sampai jatuhlah sanksi itu.

Maka jalan terakhir dari jatuhnya sanksi FIFA adalah menjadikan kisruh sepakbola di Tanah Air ini sebagai dasar untuk membenahi semuanya. Setiap diri (individu) yang merasa ingin berjasa di bidang sepakbola sudah saatnya untuk tidak lagi keras kepala. Berubahlah dari sikap sok hebat sendiri, sok kuat sendiri, sok menang sendiri, dst... untuk juga mendengarkan suara dari pihak lain. Katanya 'mari bersatu agar teguh' mengapa juga harus memaksa menang-menangan sendiri.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan