Rabu, 13 Mei 2015

Jika Peserta Didik Tak Tuntas

MEMBICARAKAN peserta didik yang bermasalah dalam setiap rapat Majelis Guru (MG) biasanya selalu sengit. Di satu sisi, kebijakan sekolah agar para siswa tuntas semua sementara di sisi lainnya para siswa tidak atau belum mengikuti setiap tugas yang diberikan guru. Guru sendiri tidak boleh atau tidak ingin memberikan nilai pembelajaran yang asal-asalan, sekadar disebutu tuntas saja.


Tidak mudah memang. Dalam setiap kelas selalu ditemukan satu atau lebih peserta didik yang 'tersangkut' penyelesaian nilai ujiannya. Target minimal (KKM) yang ditentukan sekolah tidak mampu tercapai oleh beberapa orang siswa ini.Gabungan nilai ujian dengan nilai harian juga tidak cukup untuk menyatakan tuntas yang akan dimasukkan ke dalam buku Laporan Pendidikan. Dilema, memang.

Ketika masalah nilai yang belum tuntas itu sampai ke dalam rapat MG, maka akan hangatlah rapat itu. Antara guru dan Kepala Sekolah dan atau antar sesama guru akan terjadi perdebatan sengit. Bagi Kepala Sekolah, tidak berlebihan jika berharap semua peserta didik bisa berhasil. Begitu pula dengan Wali Kelas, ingin sekali semua siswa di kelasnya tuntas untuk setiap Mata Pelajaran (MP).

Tapi bagi guru yang mengampu MP yang beberapa siswanya tidak/ belum tuntas itu, ini adalah masalah pelik. Segala usaha dengan segala metode dan strategi sudah dilakukan, tapi tetap saja masih ada beberapa siswa yang tersangkut itu tadi. Dan ketika masalah sampai ke forum rapat MG, maka akan terjadilah semacam perang antar guru atau antara guru dengan Kepala Sekolah.

Seperti terjadi kembali pada Rapat Bulanan Guru di SMA Negeri 3 Karimun hari Senin (11/ 05) lalu. Ketika Kepala Sekolah meminta laporan masing-masing Wali Kelas perihal keadaan siswa di kelasnya, muncullah beberapa nama siswa yang masih bermasalah dengan nilai mid semesternya. Intinya belum tuntas dan siswa yang bersangkutan tidak pula kelihatan keseriusannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.

Tidak terelakkan perdebatan sengit antara satu guru dengan guru lainnya, terutama dengan Wali Kelas. Menurut versi guru, siswa tersebut memang tidak mempunyai kemauan dan motivasi yang cukup untuk menyelesaikan persoalan nilainya yang masih 'tersangkut' itu. Boleh jadi siswanya sangat lemah daya tangkapnya.

Menurut versi guru lainnya pula, belum tentu sepenuhnya kesalahan siswa yang bersangkutan. Boleh jadi, sebagai guru, kita belum terlalu bersungguh-sungguh dalam mengelola masalah mereka. Atau guru tidak mampu memahami keadaaan sebenarnya tentang anak tersebut. Begitu kurang lebih argumen guru-guru lainnya.

Solusi yang disepakati dalam rapat tersebut adalah bahwa sekolah (para guru) harus terus berusaha agar anak-anak bisa tuntas. Walaupun ada kemungkinan satu-dua orang itu adalah siswa yang memang sangat rendah tingkat kecerdasannya, namun mereka bukanlah anak idiot yang layak di SLB.Mereka diterima di SMA (sekolah umum) adalah karena daya tangkap otak dan kecerdasan otaknya sudah kurang lebih sama dengan para siswa lainnya.

Maka guru tidak boleh putus asa menghadapi siswa-wi yang demikian. Harus terus diusahakan. Harus terus dibina, dibimbing dan diasuh untuk keberhasilan mereka. Jika memang tidak mudah membuat mereka tuntas untuk beberapa MP itu, harus tetap diusahakan. Cari terus cara agar mereka mau dan mampu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman