Jumat, 01 Mei 2015

Catata dari Darunnadhwah: Mengapa Mencuri, Anakku?

KETIKA memberi sambutan pengarahan pada acara Pembinaan Akhlak Mulia Bagi Remaja di aula Darunnadhwah, Masjid Agung Karimun hari Rabu (29/ 04) lalu, Pak Arnadi Supaat yang mewakili Bupati Karimun menyampaikan rasa khawatirnya. Dengan suaranya yang khas 'lembut' dia menegaskan bahwa saat ini sudah ada ramaja yang berani mencuri. "Beberapa hari yang lalu, saya baca di koran seorang remaja yang masih pelajar terlibat pencurian kendaraan bermotor," katanya dengan mimik muka serius.


Agak terkejut juga peserta dan undangan mendengar informasi dari Asisten Pembangunan Setda Karimun itu. Seorang yang masih berstatus pelajar di sebuah SLTP sudah terlibat pencurian di kota ini. Bagaimana dan seperti apa akhlak siswa ini? Tentu kita akan bertanya-tanya dalam hati masing-masing. Bersempena pembukaan kegiatan pembinaan karakter dan akhlak yang diselenggarakan Bagian Kesra Setda Karimun, Pak Arnadi menyinggung perihal sudah menakutkannya kelakuan anak-anak muda di kabupaten berazam ini, tentu tiak salah. Dalam kapasitas Kepala Pemerintahan Kabupaten, dia memberi pengarahan pada acara pembinaan akhlak remaja, tentu saja dia ingin memberi contoh akhlak remaja yang terlanjur tidak baik.

Kita baca di harian yang terbit di daerah kita dalam satu-dua hari lalu, beberapa orang anak-anak muda kita sudah terlibat pencurian. Hanya untuk main balap-balap motor, mereka berani melakukan pencurian. Begitu dijelaskan polisi, seperti ditulis wartawannya. Sungguh akhlak yang sudah sangat mengkhawatirkan. Saya pikir, semua kita setuju bahwa kelakuan anak-anak remaja usia sekolah itu sangat mengkhawatirkan.

Pak Arnadi mengutip berita koran adalah untuk memberi contoh tentang betapa perlunya pembinaan karakter dan akhlak ini. Jika tidak ada usaha untuk membina anak-anak muda ini, tentu saja suatu hari nanti akan lebih menakutkan lagi. Jadi, kegiatan pembinaan akhlak remaja ini memang harus didukung dan kalau perlu diperbanyak intensitasnya.
Pak Arnadi saat memberi pengarahan
Sudah tepat dia menyinggung peristiwa jelek tapi harus diingat itu sebagai penguat pidato pengarahannya. Sebagai seorang yang dulu juga seorang guru, Pak Arnadi pasti merasa betapa beratnya membina akhlak anak-anak di sekolah. Kalau dia menyinggung contoh kejadian buruk itu, tentulah dimaksudkannya agar itu jangan sampai terulang atau dilakukan oleh para siswa yang lain. Kejadian itu adalah contoh buruk yang harus dihidnari.

Sebagai mantan guru, para peserta yang merupakan siswa/ wi sekolah-sekolah yang ada di Pulau Karimun itu tentu saja akan mengingatkan Pak Asisten itu ke masa-masa lalunya ketika setiap hari dan setiap harus berhasdapan dengan anak-anak sekolah. Para siswa yang merupakan perwakilan beberapa sekolah itu tentu juga adalah orang yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti pembinaan akhlak dan karakter itu. Dengan mendatangkan tim ESQ dari Batam, pelaksana (Pemerintah Daerah) tentu saja harus mengelarkan biaya tidak sedikit. Selama dua hari mereka akan digembleng teori dan praktik, bagaimana berakhlak yang baik.

Menurut informasi, sebanyak 100-an siswa dari SMP hingga SMA/ MA/ SMK diikutkan dalam kegiatan yang langsung dibina oleh Tim ESQ Provinsi Kepri itu.Kabag Kesra, Usman yang menjadi penanggung jawab kegiatan ini menerangkan bahwa para peserta ini ditentukan dan ditunjuk oleh sekolah masing-masing. Pemerintah meminta ke sekolah sesuai kuota per sekolah, dan sekolah yang menentukan siapa yang harus ikut.
Peserta dan bebera undangan
Tiada lain target yang akan dicapai selain membina anak-anak remaja, generasi muda bangsa untuk berakhlak lebih baik. Kerisuan semua kita atas beberapa kejadian kelakuan anak-anak muda belakangan ini memang harus menjadi perhatian. Selain kasus pencurian, beberapa kasus seperti suka bolos sekolah, ikut-ikutan merokok dan menyalahgunakan narkoba, sex remaja, adalah kenyataan yang juga wajib diwaspadai. Maka pembinaan akhlak dan pembinaan karakter bangsa ini adalah salah satu solusinya.

Bagi sekolah (guru) kasus pencurian yang dimuat di koran itu sungguh memilukan hati. Terlepas dari niat apa yang terkandung dari harian tersebut, yang pasti ini adalah kasus yang berpotensi akan lebih merusak anak-anak muda di masa depan. Sebagai guru tentu akan bertanya, mengapa kalian mencuri, anakku? Rasa luka dalam di hati yang setiap hari mendidik dan mengajar mereka di sekolah, tapi mengapa harus melakukan perbuatan memalukan itu?

Semoga usaha pemerintah untuk terus-menerus membina akhlak para remaja ini akan menjadi salah satu cara mengurangi bahkan menghilangkan kasus-kasus kenakalan remaja di ranah negeri berazam ini. Para peserta yang berkesempatan ikut dua hari itu, diharapkan menjadi garda terdepan bagi teman-teman lain yang belum berksempatan ikut. Secara berantai ilmu dan pengalaman ini dapat pula diteruskan ke remaja-remaja yang lain. Semoga.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan