Senin, 27 April 2015

Melihat Minat Menulis Siswa Karimun

TIDAK bisa disebut terlalu rendah minat siswa (peserta didik) Karimun di bidang tulis-menulis. Pada acara lomba menulis yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun dalam rangka memperingati dan memeriahkan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) tahun 2015, tercatat 60-an peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) dan 20-an peserta didik Tingkat SLTA ikut serta.


Dinas Pendidikan Karimun untuk pertama kali pada tahun 2015 ini menyelenggarakan sayembara menulis selain beberapa kegiatan lainnya, seperti lomba memasak, lomba menyanyi, dll. Lomba menulis diperuntukkan bagi peserta didik sementara lomba memasak dan menyanyi diperuntukkan bagi guru dan Kepala Sekolah. Kegiatan dipusatkan di tempat yang sama dan waktu yang sama, Sabtu, 25 April 2015 di rumah kediaman bupati.

Khusus lomba menulis ada dua kategori dan dilaksanakan sebelum acara puncak, Sabtu itu. Hari Sabtu (25/ 04) itu hanya untuk presentasi saja yang disejalankan dengan beberapa kegiatan lain. Kegiatan menulisnya dilaksanakan sejak satu bulan sebelumnya. Untuk peserta didik di SD, membuat tulisan dengan tema 'Andai Aku Jadi Bupati Karimun'. Sementara untuk lomba menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) diperuntukkan kepada peserta didik di SLTA.

Walaupun alokasi waktu membuat karya tulisnya terbilang singkat, ditambah lambatnya informasi dan brosur pengumuman itu sampai ke sekolah, ternyata animo siswa untuk ikut serta cukup lumayan. Tidak bisa disebut sangat rendah. Andai saja waktu penulisan karya tulisnya lebih lama, tentu saja jumlah pesertanya akan lebih banyak lagi dari pada yang sekarang ada.

Melihat minat siswa dalam mengikuti lomba karya tulis ini memang tidak dapat disorot dari satu sisi saja. Jumlah peserta yang tidak seberapa ini belum tentu sepenuhnya sebagai bukti rendahnya minat siswa Karimun dalam menulis. Jika pun itu adalah bukti bahwa minat dan semangat siswa memang rendah, tetap saja harus dilihat dari berbagai sudut.

Pertama, faktor pembinaan dari guru. Ini adalah faktor penting untuk membina dan mengembangkan budaya menulis di kalangan pelajar. Guru adalah sosok yang berperan sangat penting dalam pengembangan dan pembinaan minat menulis. Sekolah tempat guru melaksanakan tugasnya juga berperan menentukan, apakah sekolah secara khusus mempunyai program pengembangan dan pembinaan budaya menulis bagi siswanya? Ini penting dan sangat menentukan.

Kedua, faktor dorongan dan kebijakan Pemerintah. Dalam hal ini kebijakan yang diambil oleh Dinas Pendidikan sebagai payung sekolah. Apakah pihak Dinas Pendidikan sudah memprogramkan berbagai kegiatan yang mengarah untuk pengembangan dan pembinaan budaya menulis di kalangan pelajar? Pelaksanaan lomba tahun ini adalah untuk pertama kali dilakukan Dinas Pendidikan. Jika saja setiap tahun ada kegiatan yang sama, jelaslah itu akan sangat berpengaruh dalam menumbuhkembangkan budaya menulis di kalangan siswa.

Ketiga faktor siswa sendiri. Bagaimanapun, pastilah yang sangat menentukan akhirnya adalah peserta didik itu sendiri. Siswa adalah yang akhirnya akan memutuskan, apakah akan berusaha untuk mengembangkan dirinya dalam budaya literasi atau tidak. Jika pun guru, pemerintah, orang tua atau siapa saja secara ekststernal berusaha mempengaruhi siswa untuk menulis, tapi akhirnya justeru siswa itu sendirilah yang akan memutuskannya. Jika ada kemauan, pasti akan ada jalan untuk itu.

Untuk pelaksanaan KTI tahun ini, jumlah pesertanya memang terasa sdikit sekali. Hanya ada 20 orang peserta (siswa SLTA) yang mengirimkan karya tulisanya ke panitia. Bandingkan jumlah siswa di Karimun saat yang ribuan orang jumlahnya. Hanya ada berapa persen saja yang mau ikut serta. Sangat sedikit, tentunya. Tapi, sekali lagi, ini tentu saja tidak atau belum tentu karena benar-benar minat siswa yang rendah. Harus ada usaha dan penjelasan lain. Semoga usaha awal dari Dinas Pendidikan ini akan memotivasi guru dan sekolah untuk melakukan hal yang sama kepada siswanya.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman