Jumat, 02 Januari 2015

Satu Malam di ‘Bas Pesiaran’


SUDAH menjadi  kebiasaan tak resmi, jadwal perjalanan liburan orang-orang Karimun ke Malaysia atau ke Thailand, pada hari pertama perjalanan biasanya berrmalam di mobil saja. Saya menyebutnya 'Satu Malam di Bas Pesiaran’. Istilah bas pesiaran sendiri adalah padanan kata 'bus pariwisata' di Indonesia.

 Bermalam di dalam bus ini biasanya jika memulai perjalanan di waktu siang atau menjelang petang meninggalkan pelabuhan Tanjungbalai Karimun. Perjalanan laut Karimun- Kukup, kurang lebih 50 menit maka bisanya perjalanan liburan akan dimulai menjelang atau sesudah magrib suesampainya di Tanah Melayu itu.

Perjalanan liburan tahun ini juga sama. Setelah rombongan kami sampai di Kukup, Johor, Malaysia sekitar pukul 17.30 WIB (18.30 WM), rombongan meneruskan perjalanan menggunakan bus alias bas, istilah orang Malaysia. Setelah semua peserta lengkap menaiki bus pariwisata yang sudah disiapkan maka bus pun bergerak. Sebelum berangkat, ada yang sempat melaksanakan solat magrib di surau Kukup Johor dan ada pula yang berniat akan melaksanakan solatnya di tempat peristirahatan pertama nantinya. Biasanya di sana langsung melaksanakan solat Isya dan Magrib dengan jamak ta’khir saja.Saya sendiri masih sempat menunaikan Magrib dan Isya --jama'-- di surau ini.

Berbeda dengan rute perjalanan yang mengambil waktu pagi baik via Singapura ataupun di Kukup ini, biasanya perjalanannya akan dimulai pagi hari. Dari Karimun berangkat sekitar pukul 07.30 WIB (mengikuti trayek kapal laut) meneruskan ke pelabuhan Internasional Sentosa, Singapura yang biasanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Dari Singpaura melanjutkan ke Malaysia melalui Johor Baru dengan menggunakan bus pariwisata juga. Atau jika menggunakan rute Kukup, perjalanannya sama tapi waktunya berbeda.

Sore Ahad (28/ 12) itu adalah hari pertama perjalanan liburan yang direncanakan lima hari dan empat malam ini. Rombongan kami ada dua bus yang setiap busnya hanya diisi kurang lebih 40 orang. Dengan biaya Rp 2.000.000 (dua juta rupiah) untuk transport laut/ darat per orang (tidak termasuk makan) tahun ini rombongan liburan kami berjumlah 77 orang. Kabarnya di rombongan travel lain ada juga yang mengutip biaya sebesar Rp 2.500.000 per orang yang biasanya disesuaikan dengan pengeluaran di perjalanan nanti.

Menikmati liburan adalah harapan pertama setiap kali ada perjalanan seperti ini. Dalam perjalanan akhir tahun kali ini, kenikmatan hari pertama adalah kenikmatan bermalam di dalam bus itu.Bagaikan menginap di hotel bergerak, peserta liburan akan terlelap setelah makan malam. Dan istirahat pertama setelah berangkat sore tadi adalah di kawasan peristirahatan Machap, Johor. Seperti di tempat-tempat peristirahatan lainnya, di sini sudah tersedia berbagai makanan dan jajanan serta fasilitas umum lainnya.

Tepat pukul 20.20 WIB (21.20 WM) mobil kami sampai di Machap. Sebagian kami ada yang langsung ke gerai makanan yang berderet  rapi. Sebagian lainnya terlebih dahulu ke kamar mandi, toilet atau sekedar mengambil wudhuk untuk solat magrib sekaligus Isya secara jamak. Nyamannya berhenti di sini bukan saja karena makanan yang tersedia adalah makan yang masih panas tapi juga ada banyak jajajan lainnya seperti buah-buahan, kueh-mueh dan aneka minuman. Selain ke toilet, ke surau atau ke kamar mandi, tentu saja makanan dan minuman itu harus dibayar. Bahkan di sini juga tersedia kursi elektrik untuk sekedar memijit punggung, tengkuk dan kaki. Lagi-lagi tentu harus dibayar. Malah untuk menimbang badan pun ada yang juga harus dibayar. Semuanya serba swalayan alias tidak ada pelayannya. Cukup memasukkan uang ringgit saja, maka fasilitas itu akan beroperasi sesuai keinginan kita.

Kurang lebih satu jam setengah, bus kembali bergerak. Masing-masing kami masuk ke bus masing-masing seperti awal tadi. Dengan perut yang sudah kenyang, dihibur oleh lagu dan film lewat layar kaca di dalam mobil ber-Ac itu, tentu saja mata mulai mengantuk. Tanpa sadar, tentu saja kami semua akan tertidur kecuali sopir dan seorang sopir serap yang duduk di sebelah kirinya. Jika tengah malam ada yang akan buang hajat, dapat melaporkan ke pemandu wisata yuang juga tersedia dalam bus itu.

Tidak terasa, mobil kami berhenti di daerah Paguh untuk memberi kesempatan penumpang buang air. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Sebagian kami ada yang turun ke toilet dan sebagian tetap melanjutkan mimpinya. Selanjutnya bus berjalan kembali. Perjalanan ini akan berlanjut hingga esok hari sampai mendekati perbatasan Malaysia Thailand.

Sekitar pukul 02.30 WIB, mobil kami berhenti sekali lagi. Kali ini untuk mengisi bahan bakar di daerah Tapa, Perak. Yang menarik saya lihat, sopirnya mengisi bahan bakar sendiri tanpa ada pelayan pangkalan bahan bakar itu. Tidak ada juga antri karena jam seperti itu tidak banyak mobil yang akan mengisi bahan bakar. Bus Pariwisata 'Rajawali Bintang Trevel' bernomor plat NJV 1001 itu itu melanjutkan perjalanan setelah selesai mengisi bahan bakar.

Sekita pukul 06.00 hari Senin (29/ 12) itu bus kami berhenti di tempat peristirahatan Kurun, Kedah. Mobil kami agak lambat sampai karena sepanjang malam itu hujan dan lajunya tidak bisa maksimal. Setelah mandi (bagi yang mandi) atau sekedar buang air besar lalu berwudhuk dan solat, kami istirahat untuk sarapan pagi. Sepagi itu, ternyata bahan makanan dan minuman sudah tersedia. Kedai-kedai itu memang terbuka 24 jam untuk melayani wisatwaran yang datang dan pergi lewati jaln tol itu. Tiada kekhawatiran akan kelaparan selama perjalanan di sepanjang jalan tol di Malaysia ini.

Satu malam di dalam bus itu terasa cukup nikmat. Walaupun badan terasa letih karena tidur sambil duduk atau sekadar memiringkan sandaran kursi, rasanya perjalanan liburan ini cukup memuaskan kami. Sejak berangkat dari Kukup sorenya hingga pagi itu, kami menikmati saja tidur dalam 'bas pesiaran' itu bagaikan tidur dalam hotel yang bergerak. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan