Senin, 08 Desember 2014

Ujian dan Sahabat nan Jahat

HARI Senin (08/ 12/ 14) ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester Ganjil (UAS-G) Tahun Pelajaran (TP) 2014/ 2015 di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Meskipun menurut kalender pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Kepri UAS-G baru dimulai pekan depan, Karimun mengambil jalan tengah dengan mempercepatnya pekan ini. Konon kabarnya, ada juga kabupaten atau daerah lain yang sudah menyelesaikan UAS-G sepekan lalu.

Bagi peserta didik, ujian ini tentu saja sangat penting sekaligus mengkhawatirkan. Penting, karena nilai-nilai yang akan diperoleh adalah nilai-nilai yang akan masuk ke dokumen Buku Rapor. Artinya akan abadi dan akan menentukan juga perhitungan prestasi akademik selanjutnya. Khawatir, karena ada pertanyaan, "Sudah siapkah para siswa?" Ini pertanyaan pendek dan sederhana tapi konsekuensinya sangat besar.

Dari pengalaman masa-masa lalu, UAS sering melahirkan kisah-kisah menarik, unik dan terkadang jelek. Catatan itu tidak jauh berbeda dengan kejadian-kejadin ketika berlangsungnya UN (Ujian Nasional). Yang unik adalah karena ada juga para siswa --ketahuan-- yang mencoba membuat catatan pada badannya seperti di lengan atau paha yang tertutup pakaian, misalnya. Lalu ketika ujian, lengan baju atau celana/ rok dibuka untuk melihat catatan tersebut. Lucu, kan?

Pengalaman lainnya adalah kebiasaan beberapa siswa yang suka mencontek atau saling berbagi dalam ujian. Walaupun sekolah melarang --ada dalam tata tertib ujian-- tapi para siswa tetap saja melakukannya. Jika pengawas ruang tidak awas dan tidak tegas maka kebiasaan ini bahkan dapat menimbulkan keriuhan dalam ruang ujian. Ruang ujian bisa saja menjadi semacam pasar kecil.

Apapun usaha yang dilakukan dalam ujian, jika itu dilarang, seharusnya para siswa tidak boleh melakukannya. Membuat catatan, saling mencontek dan yang sejenisnya, sama sekali tidak dibenarkan dalam ujian. Kebiasaan jelek ini sangat berbahaya untuk masa depan siswa dan masa depan bangsa secara umum. Dan walapun saling mencontek itu dilakukan sesama sahabat atau teman, tetap saja itu tidak baik. Bersahabat, tentu saja tidak di situ letaknya.

Di sinilah perlu keberanian siswa untuk meluruskan cara berpikirnya. Sahabat yang baik, sejatinya tidak menjerumuskan temannya dengan cara memberi atau menerima jawaban yang tidak legal dalam ujian. Harus diingat bahwa mencontek itu haram hukumnya dari sisi agama. Baik yang memberi/ membocorkan jawaban maupun yang menerima (meminta) jawaban, tetap salah kedua-duanya. Sisi agama atau sis etika dan peraturan sekolah, tetap saja itu salah. Bersahabat dalam ujian tidak harus saling melanggar peraturan.

Teman-teman yang secara sengaja mencontek dan secara sengaja juga memberi jawaban kepada temannya, sebenarnya orang itu dapat disebut sebagai sahabat yang jahat. Sahabat seperti ini sama saja dengan ingin menghancurkan akhlak atau sikap temannya sendiri. Padahal sikap yang baik adalah kunci utama untuk kebaikan bangsa ke depan. Sebaliknya, bangsa ini akan terus rusak dan hancur jika sikap generasi mudanya sudah dirusak sejak masih masih muda saat ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman