Senin, 01 Desember 2014

Mencoba Lagi Membaca Puisi

Salah Satu Pembaca
SUDAH tidak ingat, kapan saya membaca puisi di depan orang ramai dalam acara resmi. Tapi ketika masih berstatus mahasiswa di Universitas Riau (1978-1983) dulu, jika tidak salah ingat, saya pernah membaca puisi dua kali. Kedua-duanya ketika acara Apresiasi Sastra yang setiap tahun diadakan oleh Jurusan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Riau. Sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Seni, keterlibatan dalam acara-acara seperti itu tentu saja sudah biasa.

Selama menjadi guru honorer (1980-1984) dan menjadi guru berstatus PNS (1985 hingga sekarang) saya tidak ingat sama sekali, berapa kali saya membaca puisi dalam acara resmi seperti itu. Tapi sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia membaca puisi tentu saja tidak bisa dielakkan. Sekurang-kurangnya dalam mengelola pembelajaran di kelas, sudah jelas kegiatan membacakan puisi di depan para peserta didik adalah hal yang lumroh.

Sebenarnya saya tidaklah termasuk orang yang paling suka kepada puisi atau sajak. Namun saya tetap menyukainya. Saya juga mencoba menulis puisi atau sajak baik selama menjadi mahasiswa maupun ketika sudah menjadi guru. Beberapa judul puisi yang saya kirimkan ke beberapa koran, ada juga yang dimuat. Itu adalah kebanggaan tak terhingga yang saya rasakan waktu itu.

Setelah 30-an tahun menjadi guru, di penghujung November lalu saya mendapat kesempatan membacakan puisi di forum apresiasi sastra. Meskipun semula saya agak ragu-ragu menerima tawaran dari Mas Aji, Ketua Sanggar Kibar Budaya Karimun yang melaksanakan acara apresiasi puisi malam itu, tapi saya mencoba memberanikan diri. Sebagai penyuka sastra sekaligus untuk memberikan dorongan kepada anak-anak muda penyuka seni di sini, saya menerima juga kesempatan itu. Dengan niat tetap belajar, saya ikut bersama beberapa pembaca puisi yang handal, antara lain Mas Acong, Bu Berta, Pak Soleh dan Mas Aji sendiri.

Setelah memilih beberapa puisi yang pernah saya tulis, akhirnya saya membacakan dua judul puisi malam Ahad (29/ 11/ 14) lalu itu. Puisi pertama berjudul "Dosa-dosa Terselubung duka" yang saya tulis ketika masih berstatus mahasiswa dulu. Itu artinya puisi itu sudah berusia lebih dari 32 tahun. Lalu puisi kedua, saya bacakan puisi yang baru saja saya tulis dengan judul "Tidak Semudah Begitu, Sayang" yang sudah saya publish di blog kompasiana. Persisnya puisi itu begini:


Tidak Semudah Begitu, Sayang
tidak semudah begitu, sayang
untuk engkau mengatakan
yang benar itu adalah benar
yang salah itu adalah salah
yang putih adalah putih
yang hitam adalah hitam
yang kuning yang biru dan yang merah dan yang tak berwarna
adalah seperti apa adanya
walaupun di langit masih ada matahari ada bintang dan ada bulan
walau di laut ada gelombang, ada pantai tak landai dan batu karang
walau di sungai ada air mengalir dan sampah bercampur limbah


tidak semudah begitu, sayang
untuk mendapat hak seperti dalam mimpimu
untuk mendapat mimpi seperti dalam tidurmu
untuk mendapat tidur seperti dalam kantukmu
untuk mendapat kantuk karena kepalamu terantuk dan perutmu lapar
terbungkuk-bungkuk mengutip plastik dan apa saja yang ada di sekitarnya


tak semudah begitu, sayang
ketika kau mencuri sisa makanan di ember dan tong sampah di ujung jalan yang kotor
yang  terbuang begitu saja karena yang empunya sudah bosan
perutnya sudah melimpah dan mau muntah
tapi dia tetap tidak mau memberi dengan mudah
tapi dia tetap kikir tanpa memikir


tidak semudah begitu, sayang
kau adalah manusia terhina
di antara manusia-manusia yang merasa tidak hina
yang bergelimang harta yang dicurinya
yang merasa jabatan dan pangkat adalah miliknya
yang merasa dunia adalah miliknya
yang merasa gunung dan lembah adalah ciptaannya
yang merasa bisa melakukan apa saja yang dia suka


tidak semudah begitu, sayang
apa yang ingin engkau katakan sebenarnya
apa yang ingin engkau cari sesungguhnya
apa yang ingin engkau dapatkan seharusnya
mereka semua adalah perusak yang berpura-pura berjasa
mereka adalah pencoleng yang berpura-pura berderma
mereka adalah pendusta yang berpura-pura beramal dan jujur pada agamanya
mereka adalah pengkhianat bangsa yang berpura-pura membela rakyatnya


tidak semudah begitu, sayang
jangan katakan apa yang ingin dikatakan
jangan tunjuk apa yang ingin ditunjuk
jangan berharap apa yang ingin diharap
jangan pilih apa yang ingin dipilih
itu hanya harapan dan penderitaan
mereka akan tetap membiarkan
mereka tidak akan pernah mendengarkan


selamat tidur panjang, sayang
selamat berjumpa tuhan di sana
sayang engkau hanya setitik noktah tak bertuan


Jujur saja, puisi itu memang sebagai bentuk luahan kegelisahan saya terhadap keadaan kehidupan sosial dari masyarakat kita, khsusunya kehidupan para elit kita. Ada ketidakpuasan kita menyaksikan cara-cara tidak bermoral yang mereka pertontonkan ke masyarakat. Mereka mengaku beragama, akan tetapi sebenarnya mereka sedang menghancurkan agamanya. Mereka mengakui berderma dan berjiwa sosial, namun sebenarnya mereka menghancurkan nilai-nilai sosial itu sendiri. Mereka sebenarnya riya. Itulah sebabnya lahir puisi itu. Tapi tentu saja puisi itu tidak akan memuaskan semua orang. Mohon maaf, jika ternyata ada yang berpandangan bahwa coretan itu tidak bermakna apa-apa.
Selamat menikmati!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan