Sabtu, 15 November 2014

Dari Raker MUI: Lampu Mati Buat Sedih

SELAMA dua hari, 14-15 November 2014 diselenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepri di Asrama Haji Tanjungpinang. Melihat jadwal di Buku Panduan Rakerda MUI Kepri, berarti kegiatan ini dipercepat karena pada Tata Tertib Rakerda tercantum tanggal 22 dan 23 November. Boleh jadi menyesuaikan dengan kesempatan dari para pihak yang akan terlibat. Biasanya menyesuaikan dengan  jadwal pejabat.

 Peserta raker terdiri dari 1) Utusan MUI Pusat, 2) Dewan Penasehat, pimpinan harian dan pleno MUI Kepri, 3) Pengurus Lembaga/ Badan MUI Kepri, 4) Pengurus (Ketua/ Sekretaris/ satu anggota) MUI Kabupaten/ Kota se-Kepri, 5) Para peninjau utusan pemerintah (provinsi/ kabupaten dan kota) se-Kepri serta utusan kemenag (provinsi/ kabupaten dan kota). Pada saat pembukaan, para peserta sudah tampak hadir.

Beberapa catatan dari raker ini menarik juga untuk dishare di halaman ini. Catatan pertama selalu masalah waktu yang molor ketika acara pembukaan. Sepertinya tradisi molor waktu ini sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa diubah lagi di negeri ini. Acara dengan level provinsi dan dihadiri oleh Kepri-1 langsung, ternyata molornya waktu ini sangat menyedihkan. Lama sekali. Bukan hanya 10-15 menit molornya tapi ratusan menit.

Hitunglah sendiri. Menurut panitia, acara pembukaan akan dimulai pukul 13.00 (selepas solat jumat), hari Jumat (14/11) itu. Karena kebanyakan peserta menginap di asrama haji dan jumatannya juga di masjid Al-Furqon Asrama Haji maka para peserta, setelah makan siang sudah mulai berdatangan ke ruang acara. Tentu saja kebanyakan peserta akan duduk di bagian belakang dulu. Akibatnya, kursi bagian depan tampak kosong melompong.

Bukan kursi kosong yang menarik. Justeru catatan menariknya adalah ketika acara pembukaan itu baru dimulai pada pukul 14.45 menit. Ayo, berapa menit molornya acara para ulama se-Kepri itu. Dan yang menyebabkan keterlambatannya memang karena Pak Gubernur yang datangnya baru pada jam itu. Benar-benar sangat terlambat datangnya. Bagaimana rakyat akan meneladani tradisi jelek ini.

Akibat keterlambatan memulai acara, menyebabkan ruang acara hampir kosong ditinggalkan peserta pada saat azan asar sekitar pukul tiga sore itu. Padahal saat itu, utusan MUI Pusat (Wakasekjend) tengah menyampaikan pidatonya. Dia harus berhenti berpidato selama azan dimasjid di halaman asrama itu berkumandang. Selepas azan dia melanjutkan pidato beberapa menit saja lagi. Mungkin dia sudah tidak bergairah lagi menyampaikan materi tentang Pembedayaan Ekonomi Umat itu.

Pidato salanjutnya adalah sambutan gubernur yang sekaligus akan membuka secara resmi rakerda ini. Sedih, ketika orang nomor satu itu berpidato, peserta yang tadi keluar solat, masih belum masuk ke ruangan acara. Maka pak gubernur berpidato di hadapan kursi yang lebih separohnya kosong melompong. Hukuman setimpal atas keterlambatannya? Hanya Allah yang Maha Tahu.

Tapi yang lebih menarik untuk dicatat adalah, ketika sesi malam (jadwal pukul 20.00 s.d. 23.00) harus batal total karena lampu mati di asrama haji yang cukup megah itu. Sebenaryna selama proses acara pembukaan, beberapa kali lampu mati. Katanya karena beban yang terlalu berat dan menyebabkan MCB meteran PLN itu jatuh keberatan.. Dan beberapa saat berikutnya, lampu bisa hidup lagi.

Dan lampu yang mati selepas magrib itu, benar-benar mati total. Saya melihat, di sekitar asrama memang tidak ada lagi tumah dan toko yang hidup lampunya kecuali yang menggunakan genset sendiri. Para peserta raker sebenarnya sudah bersiap-siap untuk mengikuti lanjutan raker yang sudah terjadwal dan sudah pula diumumkan panitia ketika menutup acara sesi sore.

Hingga sekitar pukul sepuluh malam, lampu baru menyala. Tapi para peserta   sudah tidak lagi berada di ruangan acara. Dan acara malam itu benar-benar batal dan gagal terlaksana. Panitia dan pihak asrama juga tidak menyediakan lampu alternatif untuk penerangan di ruangan. Sedih dan acara tidak dapat dilaksanakan. Gurauan peserta, terutama peserta dari Kota Tanjungpinang dan Bintan menyeletuk, "Inilah khasnya Tanjungpinang," kata mereka. "Kalau lampu tidak mati, itu bukan Tanjungpinang." Begitu mereka menyindir kotanya sendiri. Peserta lain hanya tersenyum geli.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman