Jumat, 10 Oktober 2014

Sedih Bangga Mati Berdua

Pak Siddik dan Ibu ketika umroh
KETIKA mertua laki-laki saya, H. Abdul Mutollib menghembuskan nafas terakhirnya persis seratus hari sesudah mertua perempuan, Hj. Romna, kami anak-anak dan menantunyanya merasa bangga, waktu itu. Bukan bangga karena kematiannya tapi kepergian abah yang persis seratus hari pasca isterinya itu yang mengagumkan kami. Saya ingat abah Abdul Mutollib meninggal pada awal Februari 2002 sementara Ibu pergi pada November tahun sebelumnya. Hanya kurang lebih tiga bulan saja isterinya pergi, dia pun menyusul.


Kesetiaan yang selama hidup diperlihatkan Abah kepada Emak, benar-benar membuat kepergiannya itu mengesankan kami dan para tetangga. Semua kami kagum. Abah begitu tampak setia. Ibu yang sakit lama --karena strok-- memang Abahlah yang lebih banyak mengurusnya dari pada anak-anaknya. Dalam usia yang sudah tua, dia benar-benar setia mengurus ibu, isterinya. Ibu sudah tidak bisa berjalan kecuali menggunakan tongkat penyanggah, maka Abahlah yang menuntunnya untuk berjalan di pagi atau di sore hari.

Jarak kematian yang tiga bulanan itu, serasa begitu dekat jaraknya. Seorang suami menyusul isterinya yang masih merah tanah di kuburnya, tentulah mengagumkan kami, anak-anaknya. Bahkan tetangga di tempat kami tinggal juga berpandangan sama. Inilah pertanda kesetiaan seorang suami kepada isterinya.

Ternyata, kematian berdekatan antara suami dan isteri yang sudah 12 tahun lalu di Pekanbaru itu, saya ingat tiga tahun silam juga terjadi. Catatan kedua itu, jaraknya malah lebih dekat. Sepasang suami-isteri di Kecamatan Meral, tempat saya saat ini bertempat tinggal, berpulang ke pangkuan Allah hanya dengan jarak dua pekan saja. Sungguh lebih mengagumkan berbanding catatan 12 tahun lalu itu.

Subhanalloh, kemarin Jumat (10/ 10/ 14) bertepatan dengan 15 Zulhijjah 1435 kejadian langka, meninggalnya sepasang suami isteri secara normal dalam waktu dan tempat yang sama, terjadi kembali. Kali ini, pasangan Mohd. Siddik dan Maryam menghadap Allah secara hampir bersamaan. Hanya dalam hitungan 15 menit, Ibu- Bapak Firdaus bersaudara itu pergi untuk selamanya.

Menurut informasi, Kamis tengah malam itu Pak Siddik melihat isterinya seperti sesak nafas dalam tidurnya. Karena melihat istserinya seperti itu, lalu dibawanya ke RSUD Karimun. Kebetulan pasangan berusia lanjut itu sedang berada di Karimun,menempati rumah anaknya Firdaus yang tengah berada di Jakarta. Selama ini Pak Siddik dan istserinya bertempat tinggal di Pulau Buru, 45 menit naik kapal laut dari Karimun.

Ketika larut malam itu Pak Siddik membawa isterinya ke rumah sakit, ternyata sang isteri sudah tiada. Nyawanya tidak ada lagi ketika diperiksa di rumah sakit. Mungkin karena tekanan yang berat yang dirsakan Pak Siddik, 15 menit setelah kejadian itu, dia pun drop dan merasakan sakit jantungnya. Bapak lima anak ini memang memiliki riwayat penyakit jantung. Dia sudah pernah dirawat karena penyakit jantung itu. Dan penyakit itulah yang diduga membawanya menyusul sang isteri. Pensiunan Kepala SD itu akhirnya pergi bersama dengan isterinya dini hari Kamis menjelang Jumat itu. Artinya dia pergi di hari baik nan mulia.

Maka sibuklah Karimun dini hari menjelang subuh itu. Bahkan di waktu pagi, ketika berita kematian sepasang suami-istseri itu semakin tersebar melalui media online, Karimun dan Buru menjadi gempar. Firdaus yang berada di Jakarta, pada subuh Jumat itu terbang ke Batam untuk terus ke Pulau Buru. Dua mayat yang tadi di Karimun, oleh Pemda Karimun diantar menggunakan kapal Pemkab ke Pulau Buru. Firdaus yang adalah Ketua Harian LPTQ Kabupaten Karimun, tentu saja mendapat fasilitas transportrasi kedua orang tuanya itu.

Selamat jalan, Pak Siddik dan Bu Maryam. Semoga kedua Bapak dan Ibu diterima Allah dengan baikdan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Keduanya telah memberikan pesan kepada kita yang hidup. Kesetiaan yang dia tunjukkan semasa hidup, juga dia tunjukkan ketika menghadap Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman